Sutarman, Kapolri yang Dulu Pernah Menimba Ilmu di Muhammadiyah

Sukoharjo– Terlihat seorang pria memanggul sepeda menuju Sekolah Teknik Menengah Pemda (kini bernama SMK Bina Patria 1) Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, yang saat itu jalannya terendam banjir akibat luap air Sungai Bengawan Solo. 
Sepenggal kisah Sutarman, pria kelahiran Weru, Sukoharjo, 5 Oktober 1957, itu bagian yang tidak pernah dilupakan oleh Sumarmo. Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bina Patria 1 Sukoharjo ini bercerita panjang lebar mengenai sosok rekan satu kelasnya itu yang belakangan mendapat perhatian publik.
“Dahulu waktu sekolah dari Weru ke Sukoharjo naik sepeda onthel, bahkan tidak jarang memanggul sepeda kalau banjir akibat luapan air Bengawan Solo,” kisah Sumarno mengenang temannya itu.
Kini, rekannya yang semasa sekolah dikenal rajin itu menduduki posisi teratas di Kepolisian Negara Republik Indonesia, yakni sebagai Kapolri menggantikan Jenderal Polisi Timur Pradopo setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantiknya di Istana Negara, Jakarta, Jumat (25/10) sore.
Sutarman diangkat menjadi Kapolri berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 67 Polri 2013 yang ditandatangani oleh Presiden pada tanggal 24 Oktober 2013. Keppres ini juga mengatur pemberhentian dengan hormat Jenderal Pol. Timur Pradopo sebagai Kapolri.
Sebelumnya, Rapat Parpurna Dewan Perwakilan Rakyat RI pada hari Selasa (22/10) menetapkan Komisaris Jenderal Polisi Sutarman sebagai Kapolri terpilih. Tak satu pun fraksi menolaknya untuk menduduki kursi Kapolri pada tahun politik ini.
Apa yang dipetik oleh lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) Pemda tahun 1975 itu merupakan buah dari masa lalunya.
“Sutarman selalu membantu orang tuanya bekerja selepas sekolah,” ujar Sumarmo.
Komjen Pol. Sutarman semasa mudanya tinggal di Dukuh Dayu, Desa Tawang, Kecamatan Weru, atau tepatnya di sebelah selatan Kabupaten Sukoharjo.
Untuk mencapai lokasi itu, perjalanan harus ditempuh sekitar 45 menit naik sepeda motor. Jarak dari pusat pemerintahan Kabupaten Sukoharjo sendiri sekitar 20 kilometer.
Dukuh Dayu selama ini dikenal sebagai daerah kering. Dari Kantor Kecamatan Weru sendiri, Dukuh Dayu tidak terlalu jauh. Menyusuri jalan aspal ke arah barat sekitar 2 kilometer, ada sebuah jalan cor ke arah selatan di tengah persawahan. Jalan itulah yang harus dilalui untuk menuju rumah orang tua Sutarman yang berprofesi sebagai petani.
Jalan cor itu sendiri sudah terlihat lubang di sana sini. Setelah melintasi jalan kampung dan dua kali berbelok, terlihat sebuah rumah dengan pagar relatif cukup tinggi. Rumah tersebut berada di sebelah barat gedung SDN Tawang IV.
Anak Sulung
Ibu kandung Sutarman yang bernama Samiyem telah meninggal sejak lama karena kanker payudara. Selama ini rumah tersebut dihuni oleh ayah kandung Sutarman, Paidi Pawiro Mihardjo (80), bersama istri kedua, Semiyati (57).
Sutarman adalah anak sulung dari lima bersaudara. Adik Sutarman masing-masing Sutikno (Blora), Harmini (Sukoharjo), Haryati (Sukoharjo), serta Siti Harwanti (Purwokerto). Dua rumah yang ada di pekarangan tersebut, Semiyati mengaku bukan rumah aslinya karena merupakan bangunan baru.
Rumah yang berada di sebelah selatan itu baru dibangun pada tahun 2012 dan difungsikan sebagai “Padepokan Langgeng Mulyo”. Dua rumah itu dipisahkan sebuah halaman yang sudah diplester dengan semen.
Menurut Semiyati, di padepokan itu terdapat seperangkat gamelan. Selama ini, warga sekitar belajar memainkan gamelan dan belajar karawitan di rumah tersebut. Dalam satu minggu, warga belajar dua kali, masing-masing malam Senin dan malam Jumat.
Belum lama ini, karawitan Langgeng Mulyo juga berhasil maraih prestasi Juara III tingkat kecamatan. 
“Rumah yang utara yang jadi tempat tinggal kami,” kata Sumiyati.
Hadi Marino (67) teman masa sekecil Sutarman mengatakan bahwa Sutarman semasa kecilnya juga seperti kebanyakan anak-anak petani lainnya di desa ini. 
“Masa kecilnya Sutarman memang rajin dan ulet, saat masih belajar di bangku SMP pun sudah membantu orang tua untuk mencari nafkah,” ucapnya.
Saat kecil, ujarnya, Sutarman juga menggembala kerbau, membantu orang tua di sawah, dan lainnya. Dia menuturkan, pendidikan Sutarman dimulai di Madrasah Ibtidaiah Muhammadiyah (MIM) Ganggang Desa Tawang, Weru, dilanjutkan di SMP Muhammadiyah 3 Cawas, Klaten, dan SMK (dulu STM) Bina Patria 1 Sukoharjo.
Saat sekolah itu, kata Marino, Sutarman juga hanya naik sepeda onthel. Bahkan, sebagai kenang-kenangan, sepeda onthel saat sekolah tersebut sudah diboyong ke Jakarta.
Marino mengaku tahu persis bagaimana kedisiplinan selalu ditanamkan oleh Paidi orang tua Sutarman kepada anak-anaknya. Untuk itulah anak-anak Paidi, terutama anak sulungnya, Sutarman, menjadi sosok yang berhasil.
Menyinggung soal pencalonan Sutarman sebagai Kapolri, Marino tahu dari berita di televisi. Meskipun dirinya bukan orang tuanya, Marino mengaku tidak hanya bangga tetapi juga terharu. Pasalnya, dirinya tahu persis bagaimana kisah hidup Sutarman sejak kecil hingga berhasil masuk Akabri.
“Saya tahu Sutarman dicalonkan jadi Kapolri, perasaan saya lebih dari bangga,” aku Marino yang mengaku pernah diajak ke kediaman Sutarman di Jakarta.
sumber: antara news