Guru itu Manusia Dewasa

Guru itu manusia dewasa. Manusia dewasa dapat digambarkan  sebagai manusia yang telah matang, baik fisik maupun psikisnya, jasmani dan rukhaninya.  Perkembangan kedewasaan,  secara umum dapat  ditengarai lewat  usia seseorang. Usia 16 tahun bagi wanita dan 19 tahun bagi laki-laki dianggap sebagai usia menginjak dewasa dan mulai berakhirnya masa anak-anak. Ia juga  telah melawati masa aqil balig.  Seorang yang menjadi guru telah melewati fase itu.
Manusia yang telah memasuki usia dewasa, pada umumnya  telah mendapati karakter  pribadinya sebagai manusia dewasa.  Ciri-cirinya  antara lain mulai mampu menahan diri atau mengendalikan keinginannya.  Rasa empati, kemampuan meraba perasaan orang lain juga mulai bersemi. Ia  akan lebih berhati-hati dalam berucap dan bertindak, lalu  muncul kesadaran diri atas apa-apa yang dilakukannya.  Ia, memiliki rasa  tanggung jawab atas sikap dan perilakunya.  Dorongan  untuk melakukan sesuatu kepada orang lain juga menguat; mencintai, menolong, memimpin,  dan memotivasi serta   menyelesaikan masalah yang dihadapi.  
Fitrah kemanusiaanya, yaitu kemampuan untuk  membedakan antara baik dan buruk, benar dan salah, serta pantas tidak pantas, makin jelas.  Lebih lanjut, manusia dewasa telah memantapkan dirinya dengan  sikap-sikap kedewasan. Peneguhan karakternya  menguat selaras dengan bertambahnya usia.Makin dewasa seseorang makin  mandiri. Perilaku dan tabiat  kekanakannya, ketergantungan  kepada pihak lain kian ditinggalkan. Keyakinan atas kemampuannya tumbuh berbarengan dengan proses melakukan optimalisasi potensi diri.  Ia yakin akan adanya solusi dari permasalahan hidup,  dan sadar akan resiko yang timbul dari setiap pilihan atau keputusan yang diambil. 
Jati diri dan karakter khas orang dewasa adalah  kemerdekaan berpikir dan  bertindak disertai  rasa tanggungjawab,  tidak egois, tolerans serta dapat menerima perbedaan pendapat orang lain. Ia akan mendahulukan akalnya dari pada perasaan atau emosinya.  Manusia dewasa adalah manusia rasional yang beradab.  Manusia dewasa  dapat menggunakan   akalnya  sebagai hidayah yang dapat  dipakai  sebagai petunjuk kedua setelah kitab suci. Akal digunakan untuk memaknai ayat-ayat Tuhan baik yang tekstual (Qauliyah), maupun ayat-ayat non teks (Kauniyyah).
Akal  manusia dewasa memiliki kemampuan untuk   melakukan identifikasi; yaitu mencari, menemukan, mengenali dan menamai sesuatu. Mampu melakukan analisa;  membedakan, memisahkan, dan merinci sesuatu. Selain itu, juga mampu melakukan komunikasidengan baik, yakni  menyampaikan, menjelaskan, merespon dan menjawab sesuatu kepada pihak di luar dirinya.  Tiga kemampuan di atas, merupakan  prasyarat manusia dewasa   dalam menyelesaikan  masalah hidup atau problem yang dihadapi. Oleh karena itu, makin dewasa  seseorang makin banyak permasalahan yang dapat diselesaikan sendiri.
Mendewasakan

Banyak pakar kejiwaan berkesimpulan bahwa ternyata kedewasaan seseorang mengalami  inkonsistensi, ketidakajegan,  berubah-ubah, bahkan  kontradiktif. Seseorang bisa  saja dewasa secara fisik dan  biologis, tetapi kejiwaanya  belum  memiliki karakteristik yang  stabil sebagaimana  layaknya  manusia dewasa.  Ia hanya dianggap sebagai dewasa tetapi belum memiliki kematangan dan tanggungjawab yang mencerminkan  karakter manusia dewasa. Masih sering tampak tabiat kekanakanya  meski jumlah usia dan pengalaman  kian bertambah.
Guru itu manusia dewasa. Di samping sebagai pendidik dan pengajar, Ia juga pemandu, penyuluh dan pembimbing. Guru telah memiliki  seperangkat kebutuhan manusia dewasa yang akan memikul tanggungjawab tidak ringan. Guru tidak saja bertugas  mentransfer ilmu, atau menyampaikan pesan-pesan pembelajaran kepada anak didiknya,  tetapi lebih jauh dari itu, tanggungjawabkedewasaanya adalah mengantarkan  murid-murid menjadi manusia dewasa. Atau melakukan proses pendewasaan kepada  calon manusia dewasa, begitu pendapat Dr. Maria Monteusory.
Mengantarkan murid-murid  menjadi dewasa, merupakan tugas profesionalitas guru.  Mendewasakan manusia, sama dengan melakukan regenerasi  peradaban ke arah yang  lebih baik dan bermartabat.             Persoalannya adalah apakah guru yang secara usia, fisik  dan  perangkat  ketubuhannya (biologis) itu dewasa, tidak  mengalami inkonsistensi kedewasaan jiwanya?  Karena akan menjadi persolan serius jika guru dengan tugas seberat dan semulia itu ternyata kedewasaanya labil  atau tidak konsisten.
Inkonsistensi kedewasaan,  indikatornya adalah, tak mampu melakukan identifikasi secara rasional, tak dapat melakukan analisa dengan cermat, dan  gagal dalam melakukan komunikasi.  Kalau hal tersebut terjadi pada guru, maka Ia tak lagi mampu membedakan antara salah dengan benar, tak dapat menentukan pilihan baik dan  buruk,  dan gagal berkomunikasi  secara  baik kepada murid-murid  atau kepada elemen lainnya. Dalam kondisi kontradiktif seperti itu seseorang tak dapat menjalan aktifitas kedewasaanya secara wajar. Apabila hal itu terjadi pada seorang guru, tentu akan kontraproduktif,  Ia juga gagal  mewariskan hidayah untuk mendewasakan.
Didewasakan

Harus diakui,  tugas-tugas akademik selaku pendidik   dituntut untuk selalu meningkatkan mutunya. Tuntutan globalisasi melesat lebih  cepat daripada kemampuan guru dalam mengikuti perubahan. Tidak sedikit guru yang gagap menghadapi perubahan cara manual menuju  sistem digital.      Guru juga  sedang dihadapkan  dengan syarat-syarat kompetensi yang  harus dipenuhi  agar masuk dalam kategori guru professional dan bisa mendapatkan hak tunjangan profesi.
Dalam hal di atas, kadang guru hanya memikirkan nasibnya sendiri, dan tidak fokus pada tugas pokoknya. Sementara masyarakat  makin tajam mengkritisi tugas-tugas dan keberadaan guru. Di samping itu  masa transisi yang belum selesai, baik  menyangkut  perundang-undangan maupun peraturan-peraturan daerah, dan bahkan kebijakan pemerintah daerah terus mengalami perubahan-perubahan (penyempurnaan?).
Sebagai pegawai di bidang pendidikan, guru  memang harus menjalankan tugas-tugasnya dengan baik agar  dapat dipertanggungjawabkan kepada atasannya,  masyarakat maupun Tuhan. Pemerintah atau pejabat di bidang pendidikan sebagai atasan guru memiliki kewenangan manajerial  untuk melakukan penataan dan pengelolaan terhadap para guru.   Dalam konteks tersebut, sebagai manusia dewasa, sepatutnya  guru diperlakukan dengan cara-cara dewasa. Artinya, dalam menghadapi perubahan, menjalankan tugas dan mengikuti peraturan-peraturan apapun, hendaknya ditata dan dikelola  dengan prinsip-prinsip  manusia dewasa yang ‘didewasakan’. Sehingga guru tidak hanya menjadi obyek. Sebagai manusia dewasa, guru telah memiliki jati diri, karakter dan kepribadian.  Ia adalah juga subyek.
Transisi di bidang pemerintahan dan birokrasi, dengan diberlakukannya  Otonomi Daerah, tak jarang menimbulkan evoria demokratisasi di  daerah yang  berlebihan. Otonomi Daerah, mestinya tidak mengakibatkan  peran guru menipis  dalam membangun dareahnya. Jati diri guru sebagai manusia dewasa justru  memilki kekuatan tersendiri untuk melakukan upaya-upaya kreatif memajukan daerahnya di bidang pendidikan.
Disembunyikan atau tidak, di sana-sini dampak politik dari evoria demokratisasi  di daerah, sering  menimbulkan kebijakan baru dengan melakukan  perubahan dalam tata kelola terhadap guru. Boleh jadi dengan niat dan tujuan baik, tetapi jika tidak  memperhatikan  bahwa selayaknya guru ‘didewasakan’, maka akan menimbulkan rasa ketidakpastian yang berpotensi memunculkan kembali jiwa kekanakannya; tidak percaya diri, takut mengambil keputusan dan  tinggi ketergantungannya  kepada orang lain.   
Ada kekhawatiran, dalam menghadapi, menyikapi perubahan dan tuntutan, serta kondisi tatakelola  guru yang tidak ‘didewasakan’,  banyak guru yang  pribadinya rapuh dan menjadi pribadi yang tidak utuh. Guru kehilangan kretaifitasnya, lemah analisisnya dan gagal menjalin komunikasi  dengan anak didiknya. Tak ada keberanian untuk sekedar ‘berbeda pendapat’ dengan atasannya. Guru  hanya bertahan untuk mekakukan adaptasi, penyesuaian diri dalam rangka mempertahankan statusnya dan tidak kehilangan gajinya. Artinya, tak lagi utuh eksistensinya sebagai manusia dewasa.
Ada baiknya kita simak pendapat Paulo Freire (1921-1997) Doktor sejarah dan Filsafat Pendidikan Universitas Recife, Brazil, yang dikutip oleh Prof. Malik Fadjar, M.Sc, dalam kata pengantar buku Membuka Jendela Pendidikan, (Dr. Imam Tholkhah, 2004), Paulo Freire menyatakan, “Manusia utuh adalah manusia sebagai subyek. Sebaliknya, manusia yang hanya beradaptasi  adalah manusia obyek. Adaptasi merupakan bentuk pertahanan diri paling rapuh. Seseorang menyesuaikan diri karena ia tak mampu mengubah realitas. Menyesuaikan diri  adalah kekhasan tingkah laku binatang, yang apabila diperlihatkan oleh manusia akan  merupakan gejala dehumanisasi”.  
Semoga ada manfaatnya.***
Masyhudi Saan
Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kajen, Kab. Pekalongan.