Berguru Kepada KH AR Fakhruddin

Muhammadiyah
pernah punya ulama semacam KH Abdul Rozak Fakhruddin.
Pak AR, begitu ia karib disapa, adalah sosok
ulama nan bersahaja. Di tangan Pak AR, dakwah
Islam tampil begitu indah. Kepribadiannya yang sejuk
membuat Islam mudah diterima siapa saja. Contoh sederhana, ketika Pak AR mengisi
pengajian Sabtu dan Selasa di RRI Nusantara II Yogyakarta, tidak
sedikit kalangan non Muslim yang turut
antusias menyimak uraian-uraiannya tentang Islam. Kebersahajaan memang menjadi trade
mark bagi ulama yang pernah menjabat Ketua Umum
PP Muhammadiyahterlama itu (1968-1990). Kredo
yang selalu dipegang Pak AR, dakwah harus bil hikmah dan
biqadri uqulihim (sesuai akal umat). Simak kalimat Pak AR
saat mengurai persoalan hukum Islam. “Ini saya dasarkan atas Al-Qur’an
dan hadis sahih. Oleh karenanya, apabila terdapat kekeliruan supaya
dibenarkan dengan dasar Al-Qur’andan hadis yang sahih pula. Di
samping itu, saya tidak berani menetapkan sesuatu dengan hukum tertentu,
misalnya wajib, sunnah, dan sebagainya. Tentang hal itu saya serahkan
sepenuhnya kepada umat.”
Itulah sikap ulama sejati yang jauh dari tinggi
hati. Dalam berdakwah, Pak AR tidak pernah menodong orang
dengan sebutan ahli bid’ah, sesat, kafir, dan
serupanya. Setiap diksi katanya santun, kalimatnya enak
didengar.Ketika ditanya tentang hukum memuliakan kuburan dengan
membangun batu nisan, Pak AR membuka jawaban,“Sesungguhnya saya
merasa berat hati menjawab pertanyaan ini. Rasa berat hati saya itu karena
nanti akan dikatakan: Wah kiranya yang tahu tentang agama, tentang hadis,
seolah hanya Pak AR saja.”
Demikian pula ketika menanggapi hukum sedekahan dan tahlilan.
Pak AR berkata, “Kalau boleh saya berkata yang sebenarnya, mengadakan sedekahan
ketika orang meninggal, dan kemudian berturut-turut pada hari
ketiganya, ketujuhnya, keempat puluhnya, keseratusnya, keseribunya, itu bukan
berasal dari agama Islam. Jelasnya, Allah tidak memerintahkan, begitu pula
Rasulullah.”
Dalam perjalanan dakwah Muhammadiyah yang berusia seabad lebih
ini, kita butuh mubalig atau ulama sekaliber Pak AR. Sepantasnya
mubalig, guru, ustad, bahkan kiai Muhammadiyah mampu
mengatasi segala persoalan umatdengan cerdas tetapi bijaksana, menggunakan bahasa
sederhana, tidak menggurui, apalagi serba menghakimi dan
menyalahkan. 
Tantangan itu harus dijawab
Muhammadiyah, mengingat menyeruaknya dakwah-dakwah yang serba kaku,
hitam putih, dan rigid. Tidak jarang malah mubalig
Muhammadiyah ikut-ikutan meniru model dakwah yang garang itu.
Tentu ini berbahaya. Karena, di samping tidak sesuai dengan jati
diri Muhammadiyah, dakwah semacam itu tidak akan pernah
mampu menghasilkan apa-apa, selain perpecahan umat. 
Model dakwah Muhammadiyah jelas berbeda dengan golongan mana
pun, kendati tampak mirip. Adalah benar bahwa Muhammadiyah sangat
teguh memperjuangkan tauhid dan mengikis segala praktik
takhayul, bid’ah, khurafat. Tetapi ingat, Muhammadiyah juga tidak
antimodernitas. Bagi Muhammadiyah, di bidang ibadah, umat Islam harus
tajrid (mencukupkan yang ada), tetapi tajdid (pembaruan) di bidang muamalah itu
harus.
Dengan demikian, dakwah Muhammadiyah itu mencerahkan, bukan
membelenggu. KH Ahmad Dahlan sendiritidak lain merupakan ulama yang
berotak Barat tetapi berhati Mekah. Itulah yang menyebabkan Muhammadiyah kaya
amal usaha. Tidak ada organisasi mana pun di dunia yang mampu mengungguli
amal usaha Muhammadiyah. Karena itu, membandingkan Muhammadiyah
dengan organisasi-organisasi yang baru seumur jagung adalah perbandingan yang
tidak fair. 
Tidak sepantasnya mubalig dan tokoh atau pimpinan Muhammadiyah
ikut-ikutan model dakwah yang sepintaslalu mirip Muhammadiyah padahal
sesungguhnya melenceng dari khittah dakwah Muhammadiyah. Jika itu
terjadi, Muhammadiyah juga yang dirugikan. Seluruh
aktivis dakwah, terutama segenap pimpinannya, wajib membaca dan
mendalami buku-buku panduan atau majalah terbitan resmi Muhammadiyah.
Selain itu, tidak kalah penting, adalah meneladani kiprah
dakwah tokoh-tokoh awal Muhammadiyah. Pak AR, salah satunya. 
Oleh M. Husnaini
Pengurus Muhammadiyah Ranting Takerharjo, Solokuro, Lamongan
sumber: republika