Akhirnya KAPOLRI Mempersilahkan Polwan Memakai Jilbab

Perizinan terkait jilbab bagi polisi wanita (polwan) menemui titik terang.
Setelah berbulan-bulan terkatung tanpa aturan yang tidak juga dituangkan dalam
Peraturan Kapolri (Perkap), Korps Bhayangkara akhirnya memberikan keleluasaan
bagi polwan untuk berhijab.
Kapolri Jenderal Sutarman, di Gedung Rupatama Mabes
Polri menegaskan, berpakaian menutup aurat merupakan hak setiap manusia. Atas
landasan ini, Sutarman memberikan restu kepada seluruh Polwan untuk berjilbab,
tanpa perlu menunggu Perkap darinya.
Seperti yang diberitakan republika online,
“Jilbab itu hak asasi seseorang. Saya sudah sampaikan pada anggota, yang
punya jilbab silakan gunakan,” ujar Sutarman di Mabes Polri, Jakarta,
Selasa (19/11).
Jenderal bintang empat ini mengatakan, polwan tak
perlu pusing memikirkan akan adanya teguran kepada mereka bila nekat berdinas
menggunakan jilbab. Ia menekankan, bagi polwan yang hendak berjilbab dapat
membeli dan memilih hijabnya sendiri untuk kemudian menggunakannya saat berdinas.
Pasalnya, untuk tahun ini Polri belum dapat
mengangarkan dana untuk penyediaan jilbab. Sehingga bila sampai ada dana yang
tersalurkan untuk jilbab dari anggaran yang tak seharusnya tentu akan menyalahi
aturan.
“Mulai
besok, polwan boleh berjilbab tapi dengan catatan model dan warna yang mereka
pilih harus sama dengan jilbab yang dikenakan polwan di Polda Aceh, ya,”
kata Sutarman.
Kapolri
sekarang lahir sebagai anak desa yang masa kecilnya penuh pengorbanan.
Pendidikan Sutarman dimulai di Madrasah Ibtidaiah (MI) Ganggang Desa Tawang,
Weru, dilanjutkan di SMP Muhammadiyah Cawas, Klaten, dan SMK (dulu STM) Bina
Patria 1 Sukoharjo.
“Dahulu waktu
sekolah dari Weru ke Sukoharjo naik sepeda onthel, bahkan tidak jarang
memanggul sepeda kalau banjir akibat luapan air Bengawan Solo,” kisah
Sumarno mengenang temannya itu. Untuk mencapai lokasi itu, perjalanan
harus ditempuh sekitar 45 menit naik sepeda motor. Jarak dari pusat
pemerintahan Kabupaten Sukoharjo sendiri sekitar 20 kilometer.(mch)