Upaya Mengatasi Krisis Umat

Saat ini kita tengah dihadapkan pada berbagai persoalan umat , paling tidak menurut kacamata penulis ada dua persoalan umat yang perlu mendapat perhatian kita, yaitu krisis moral yang sering dikenal dengan dekadensi moral dan yang lain adalah krisis idiologi. Dua krisis ini dapat kita rasakan ketika kita mendengar dan menyaksikan  berita pembunuhan, perkelahian, pencurian, prostitusi, dll.  Kita juga merasakan umat ini tengah mengalami pergeseran orientasi dari orientasi ukhrowi kepada orientasi duniawi sehingga muncul istilah “money oriented”, idiologi mereka tidak lagi pada keyakinan melainkan berpindah kepada uang.
Kondisi ini menuntut kita untuk  merenung, “apa sebenarnya yang membuat umat terjerembab pada persoalan ini ?”.  Adakah ini karena jauhnya umat dari ilmu dan keyakinan agamanya atau karena pengaruh budaya, perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang sudah merasuk kehidupannya? Atau ada faktor lain? 
Penulis menduga bahwa jauhnya umat dari ilmu dan keyakinan agamanya serta pengaruh budaya, perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi tengah menjadi faktor penyebab utama umat berhadapan dengan  kedua krisis tersebut, dan terlepas dari benar tidaknya dugaan ini yang pasti adalah bahwa kita atau umat kita ini sedang dihadapkan pada problematika yang harus kita atasi, karena itulah melalui tulisan ini penulis mengajak para pembaca untuk melakukan 4 (empat) langkah berikut agar krisis itu bisa teratasi atau menguranginya atau paling tidak sebagai upaya membentengi diri. Empat langkah itu adalah:
Pertama, muhasabah.
Kita mesti melakukan muhasabah, yaitu usaha untuk mengevaluasi diri, baik secara individual maupun jama’i.  Kita mesti menghitung apakah selama ini amal kita, baik amalan hati, lisan maupun amalan anggota badan kita sudah sesuai dengan syari’at ataukah justru tenggelam dalam kemaksiatan? Apakah kita sudah memiliki ilmu dan faham betul terhadap agama yang kita peluk ini sehingga memiliki keyakinan yang kuat dalam mengimplementasikannya atau sebaliknya? Kita juga perlu merenung apakah manhaj da’wah kita selama ini sudah sesuai dengan tuntunan para pendahulu kita (salafus shalih) sehingga menyentuh hati para mad’u ataukah justru berseberangan? Bagi kita yang menjadi penguasa (baik di legislatif maupun eksekutif), apakah selama ini program-program kita sudah sesuai syari’at dan mensejahterakan rakyat atau justru menentang syari’at? Mungkinkah kondisi kita masih jauh dari harapan Allah dan Rasul-Nya ?. Atau kita juga masih minim pengetahuan tentang Islam sehingga lemah pula keyakinan kita, akibatnya kita banyak bergelimang noda dan dosa?.
Mari kita hitung, kita evaluasi dengan jujur karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengajarkan kita dengan berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hasyr: 18)

Melalui evaluasi diri kita menjadi mengerti akan kesalahan dan kekurangan kita, dan itu akan meringankan beban kita di Hari Kemudian, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisy dalam kitabnya Minhajul Qoshidin : “barangsipa yang melakukan muhasabah terhadap dirinya sendiri semasa hidup di dunia, maka hisabnya akan menjadi lebih ringan ketika di akhirat kelak dan tempat kembalinyapun akan lebih baik. Barangsiapa yang meremehkan muhasabah terhadap dirinya, maka dia akan senantiasa merasa rugi. Mereka juga akan merasa tidak selamat/aman kecuali dengan ketaatan.”.  Lebih dari itu Umar Ibnu Khattab Raadliyallahu ‘anhu berkata: “hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang dan bersiap-siaplah untuk sebuah pertemuan yang agung.”. Karena itulah kita evaluasi, apakah program kita, dakwah kita, amalan kita sudah sesuai dengan tuntunan syari’at? Sesuai kehendak Allah dan RasulNya? Adapun bagaimana mengevaluasinya, maka diperlukan ilmu agar kita mampu membuat indikator sebagai acuan untuk mengukur sesuai ataupun tidak.
Kedua, taubat.
Setelah kita mengerti akan letak kesalahan dan kekurangan kita, langkah yang kita lakukan selanjutnya adalah bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar hidup kita terbimbing. Taubat artinya kita menyesali diri akan kesalahan kita di masa lalu dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan itu di masa yang akan datang, “jangan sampai kita terjatuh dua kali pada lubang yang sama”.
Taubat merupakan pengakuan kita di hadapan Allah Tabaraka Wa Ta’ala sekaligus pernyataan ketidaksombongan kita di hadapanNya bahwa kita (anak Adam)  pernah melakukan kesalahan dan kekurangan. Kesalahan dan kekurangan yang kita lakukan boleh jadi berupa dosa individual tetapi juga boleh jadi merupakan dosa bersama-sama, bisa merupakan dosa yang tampak atau yang tersembunyi, mungkin juga dosa kecil ataupun dosa besar, yang kita tahu ataupun yang kita tidak mengetahui. Mungkin juga manhaj dakwah kita yang keliru sementara kita menganggapnya sudah benar, bisa jadi pula kaifiyat/tatacara ibadah kita yang kita anggap benar ternyata di hadapan Allah adalah salah karena kurang mendalami ilmunya, dan lain-lain kesalahan yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Semua itu harus kita hapus dengan taubat.
Taubat diperintahkan oleh Allah Tabataraka Wa Ta’ala kepada para hamba-Nya yang beriman dengan firman-Nya: (QS. At-Tahrim: 8)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٨)
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

 Perintah tentang taubat ini juga ditandaskan oleh Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Allah lebih bergembira dengan bertaubtanya seorang dari hamba-Nya yang beriman daripada gembiranya seorang lelaki  yang berada di tanah yang sunyi lagi membahayakan, dia bersama tunggangannya yang dipunggungnya terdapat makanan dan minumannya, lalu dia tidur lalu dia bangun ternyata tunggangannya telah pergi, lalu dia mencarinya sehingga dia merasa sangat kehausan. Kemudian dia berkata: “aku akan kembali ke tempatku semula, lalu aku tidur hingga mati.”. maka dia meletakkan kepalanya di atas lengannya agar dia mati. Kemudian dia bangun dan tiba-tiba disisinya terdapat tunggangannya (yang telah pergi) yang diatasnya ada bekalnya, makanan dan minumannya. Maka Allah sangat gembira dengan taubatnya seorang hamba-Nya yang beriman daripada orang tersebut yang telah menemukan kembali tunggangannya dan bekalnya.” (HR. Muttafaqun ‘Alaihi).

 Karena itu kita mesti segera menghiasi diri dengan taubat atas kesalahan kita selama ini, janganlah ada dalam diri kita kesombongan sedikitpun karena merasa selalu benar sedangkan orang lain yang salah. Jangan pernah di antara kita memaksa orang lain untuk mengikuti kita, sementara kita sendiri masih perlu perbaikan. Bukankah sesama muslim itu haram darahnya, haram harta bendanya, dan haram kehormatannya? Yang menunjukkan kita harus saling menghargai satu sama lain?.

 Ketiga, muroqobah.
Sebagai seorang muslim , hendaknya kita senantiasa merasa diawasi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dimanapun dan kapanpun karena sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Sepandai apapun kita menyembunyikan perbuatan kita, maka Allah mengetahui, ada dua malaikat yang menyertai kita dan mencatat semua perilaku kita yang baik maupun yang buruk. Allah Dzat yang Maha Melihat tidak bisa ditipu dengan pernyataan palsu, atau dengan persaksian palsu, atau dengan tanda tangan palsu atau dengan kepalsuan-kepalsuan yang lain dalam bentuk apapun, bahkan sesuatu yang tersembunyi di hati kita masing-masing, maka Dia tetap mengetahui. Apakah kita tidak malu dengan iman seorang gembala kambing di tengah padang pasir ketika seekor kambing milik majikannya diminta oleh sahabat Umar agar dia katakan kambing itu dimakan serigala? Kemudian penggembala itu menjawab; “dimanakah Alloh?” yang mengisyaratkan akan keimanan si penggembala bahwa Alloh Maha Tahu apapun yang ia lakukan. Ingatlah firman Allah:
وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ وَلا أَصْغَرَ مِنْ ذَلِكَ وَلا أَكْبَرَ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“kamu tidak berada dalam suatu Keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yunus: 61)

Jika jiwa muroqobah ini melekat pada diri kita, maka insya Allah kita akan bisa menjaga diri kita dari perbuatan mungkar dan maksiat. Kita akan terhindar dari noda dan dosa baik pada saat kita menjadi pemimpin/pejabat maupun rakyat, pada saat sendiri maupun di tengah masyarakat.
Keempat, mujahadah.
 Yaitu upaya yang sungguh-sungguh untuk memerangi hawa nafsu yang selalu cenderung pada keburukan dan melakukan perbaikan bersama-sama, upaya ini dilakukan secara kontinyu dan tidak mengenal lelah disertai do’a dan dzikir, kita tidak boleh berhenti pada “mengeluh” sebab mengeluh tidak menyelesaikan masalah, kita harus sampai pada tindakan nyata untuk melakukan perbaikan, menutup keburukan dan kesalahan dengan ibadah dan amal kebajikan, tidak ada kamus putus asa untuk melakukan perbaikan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ.
“Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.
Allah juga berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ.
dan orang-orang yang berjihad/bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”.

 Kita juga harus ingat akan peringatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana hadits berikut agar kita bersungguh-sungguh menghindarinya:
 قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اَللَّهِ إِخْوَانًا اَلْمُسْلِمُ أَخُو اَلْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ اَلتَّقْوَى هَا هُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مِرَارٍ بِحَسْبِ اِمْرِئٍ مِنْ اَلشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ اَلْمُسْلِمَ كُلُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ )  أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah kalian saling hasut, saling najsy (memuji barang dagangan secara berlebihan), saling benci, saling berpaling dan janganlah sebagian di antara kalian berjual beli kepada orang yang sedang berjual beli dengan sebagian yang lain dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Muslim adalah saudara muslim lainnya ia tidak menganiaya, tidak mengecewakannya dan tidak menghinanya. Takwa itu ada disini -beliau menunjuk ke dadanya tiga kali- Sudah termasuk kejahatan seseorang bila ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim bagi muslim lainnya adalah haram baik darahnya, hartanya dan kehormatannya.” (HR.Muslim dalam kitab Bulughul Maram).

 Demikianlah empat langkah yang mesti kita lakukan untuk menghirndarkan diri kita dan umat ini dari krisis moral dan krisis idiologi. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.
*) Drs. Makmun Pitoyo, M.Pd
Adalah Pengasuh
Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah
Tembarak Temanggung