Teladan Indah Keluarga Ibrahim

Allahumma
shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad,
Kama
shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim,
Wabarik
‘ala Muhammad wa ‘ala ‘ali Muhammad,
Kama
barakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim…

Kalimat shalawat tersebut nampaknya sangat akrab di semua
telinga kaum muslimin di seluruh dunia. Karena berkali-kali, setiap hari selepas
mambaca tasyahud pasti lisan kita melantunkannya dalam shalat kita. Dan tampaknya
kalimat tersebut juga tidak berlebihan. Bagaimana tidak? Karena saat kita
membaca kembali kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bahkan hingga
berulangkali, maka kita akan menemukan banyak hikmah yang dapat kita
ambil didalamnya. Berbilang pelajaran yang akan kita petik dari keluarga Bapak
para nabi tersebut. Tidak hanya dari pribadi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam
semata, tapi juga dari kedua istri beliau Sarah dan Hajar, termasuk juga dari
putra beliau yang kelak menjadi Nabi, Ismail dan Ishak bin Ibrahim ‘alaihimas
shalatu was salam
.
Belajar dari Ibrahim
Saat kita menekuni lebih dalam kehidupan Ibrahim ‘alaihis
salam
, baik semasa muda sebelum beliau menjadi nabi maupun sesudah beliau
diangkat oleh Allah ‘Azza Wa Jalla menjadi nabi dan rasul, maka kita
akan menemukan banyak pelajaran berharga. Saat masih muda beliau dikenal dengan
keistiqomahan dan keteguhannya dalam menjaga iman kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala
. Hal yang sebenarnya sangat sulit dijalani saat itu. Karena
mayoritas, bahkan semua masyarakat pada zamannya adalah para pembuat, penjual
dan penyembah berhala. Tapi tidak bagi Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau
memilih tegak berdiri dalam kesendirian dengan berpegang teguh dalam ketauhidan,
dalam pengesaan Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Dari Ibrahim ‘alaihis salam pula kita akan belajar
kecerdikan yang mengagumkan. Kecerdikan yang nampaknya sepele, hingga dapat
mematahkan argumentasi lemah orang-orang kafir penyembah berhala. Seperti yang
diceritakan dalam Alqur‘an.
Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang
melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”
Ibrahim
menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka
tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.”
kemudian
kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): “Sesungguhnya kamu (hai
Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat
berbicara.”
Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain
Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula)
memberi mudharat kepada kamu?”
(Q.S. Al Anbiya [21] : 61-66)
Sama sekali bukan maksud Ibrahim ‘alaihis
salam
berbuat dosa dengan kedustaan pada kaumnya. Yaitu bahwa
patung besarlah yang menghancurkan patung lainnya sebagaimana yang dijawabkan
Ibrahim ‘alaihis salam pada mereka. Melainkan
Ibrahim ‘alaihis salam semata ingin menyadarkan
pikiran kaumnya bahwa patung-patung itu sebenarnya tidak bisa berbuat apa-apa.
Berbicara, melihat, mendengar, bahkan mengusir lalat yang hinggap padanya, atau
melawan saat ada tangan yang akan menyentuh dan menghancurkan mereka. Jikalau
membela diri sendiri saja mereka sama sekali tidak mampu, apalagi jika harus
memenuhi permintaan dari para penyembah dan pemujanya. Laa haulaa walaa
quwwata illa billah…

Tentang argumentasi cerdas Ibrahim ‘alaihis
salam
ini Al-Qur‘an juga menceritakan dalam surat yang
lain. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku
ialah Yang menghidupkan dan mematikan,”
orang itu (Namrudz) berkata:
“Saya dapat menghidupkan dan mematikan.”
Ibrahim berkata:
“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia
dari barat,”
lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Q.S. Al Baqarah [2] : 258)
Selain keteguhan iman dan 
kecerdasan yang
dimiliki Ibrahim ‘alaihis salam, kita juga akan
menemukan tawakal yang besar dari Ibrahim ‘alaihis salam yang tersurat dalam doanya.
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah
menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman
di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian
itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia
cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan,
mudah-mudahan mereka bersyukur.”
(Q.S. Ibrahim [14] : 37)
Saat kita membaca doa Nabi Ibrahim ‘alaihis
salam
  tersebut
seolah-olah kita melihat hal yang bertentangan dan sama sekali tidak masuk dalam
keterbatasan akal manusia. Meninggalkan keluarganya di ‘lembah yang tidak
mempunyai tanam-tanaman’
tapi memohon pula ‘beri rezkilah mereka dari
buah-buahan’
. Inilah kepasrahan dan tawakal sejati Ibrahim ‘alaihis
salam
. Kalau kita mendengar doa ini sekarang, mungkin kita
akan menganggap doa ini tidak masuk akal. “Sudah tahu tidak ada tanaman kok
minta buah-buahan,” begitu mungkin pikiran kita. Tapi Ibrahim ‘alaihis
salam
telah membuktikan bahwa harapannya yang besar pada
Allah Tabaraka wa Ta’ala tersebut bukanlah harapan kosong dan Allah Subhanahu
wa Ta’ala
menjawab semua doa Ibrahim ‘alaihis salam. Memberikan
segala macam buah-buahan bahkan sampai ke anak dan cucunya hingga sekarang.
Belajar dari Sarah
Dari Sarah istri Ibrahim ‘alaihis
salam
kita belajar berbagi, mengikhlaskan saat suaminya
menikah dengan perempuan lain. Darinya pula kita belajar bersabar karena
sebagaimana kita tahu, Sarah baru dikaruniai putra di usia senja, 99 tahun.
Memang tidak ada yang mustahil saat Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah
berkehendak, meski dalam pikiran manusia hal itu tak mungkin terjadi.
“…dan mereka memberi kabar gembira
kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak).”
(Q.S. Adz Dzariyat
[51] : 28)
Kabar gembira yang ternyata justru membuat
Sarah tidak percaya, sampai-sampai harus memekik lalu menepuk mukanya sendiri
seraya berkata berkata: “(Aku adalah) seorang perempuan tua yang
mandul.”
(Q.S. Adz Dzariyat [51] : 29)
Menanggapi keraguan Sarah tersebut Allah Subhanahu
Wa Ta’al
a pun secara tegas menjawab dalam ayat selanjutnya, “Demikianlah
Tuhanmu memfirmankan” Sesungguhnya Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha
Mengetahui.”
(Q.S. Adz Dzariyat [51] : 30)
Belajar dari Hajar
Dari Hajar, istri kedua Ibrahim ‘alaihis
salam
selain tentang kesabaran dan kerelaan saat ditinggal oleh Ibrahim ‘alaihis
salam
di padang tandus sebagaimana digambarkan dalam surat
Ibrahim [14] ayat 37 diatas. Kita juga akan belajar tentang bekerja keras, ikhtiar
yang tiada henti meski secara akal seakan kita tak mungkin meraihnya. Bagaimana
bisa dibilang masuk akal jika Hajar hanya mondar-mandir berlari dari Shafa dan
Marwa sedangkan dari awal dia sudah tahu ditempat tersebut tidak ada air?!
Kenapa tidak mencoba berlari ketempat lain agar menjumpai air disana.
Itulah kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dengan usaha yang maksimal berulangkali dan berkali-kali berlari, justu Hajar pada
akhirnya menemukan air dari kaki anaknya, Ismail yang menendang-nendang tanah.
Dan darinya kemudian kita mengenal air zam-zam. Sungguh akan berbeda ceritanya
jika Hajar hanya berpangku tangan saja tanpa berusaha dan bekerja keras. Bahkan
jika Hajar hanya duduk bersimpuh menegadah lemah pada Allah Subhanahu Wa
Ta’al
a saja. Tapi nyatanya tidak demikian.
Belajar dari Ismail
Ismail bin Ibrahim ‘alaihis salam
juga memberikan pelajaran tentang kesabaran kepada kita seperti
yang diceritakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai berikut:
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur
sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku
sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah
apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; insya Allah 
kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang
yang sabar.”
(Q.S. Ash Shaffat [37] : 102)
Karena kesabaran Ismail ‘alaihis
salam
tersebut maka kita menjumpai syariat qurban.
DigantiNYA Ismail ‘alaihis salam dengan binatang
sembelihan.
“Tatkala keduanya telah berserah diri dan
Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).
Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan
mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang
berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami
tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
(Q.S. Ash Shaffat [37]
: 103-107)
Salaamun ‘alaa Ibrahim
Sungguh benar dan teramat pantas adanya saat
Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan bahwa,“Kesejahteraan dilimpahkan
atas Ibrahim.”
(Q.S. Ash Shaffat [37] : 108). Hal ini tidak lain
karena Ibrahim ‘alaihis salam dan keluarganya telah memberikan segalanya
pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kesabaran, keistiqomahan, keikhlasan
yang benar-benar ikhlas pada Allah ‘Azza wa Jalla semata. Maka dalam
sholat kita setiap hari pun, setelah bershalawat pada baginda Muhammad shalallahu
‘alaihi wasallam,
kemudian selalu Ibrahim ‘alaihis salam dan keluarganya menjadi bagian dari lantunan doa kita umat Islam di
seluruh dunia, “Kesejahteraan dan keberkahan dilimpahkan atas Ibrahim dan
atas keluarga Ibrahim.”
Wallahul musta’an

(Dimuat pada majalah Tabligh edisi Dzulhijjah-Muharram 1434
H)
AHMAD NASRI
Anggota BidKominfo PDPM Kab.Sukoharjo – Jateng