Salam Tabligh: Sembilan Kebiasaan Emas


Assalamu’alaikum wr wb

Usaha untuk mewujudkan diri menjadi Pribadi Muslim
yang sebenar-benarnya tidak dapat dilakukan dengan cara instan. Dalam usaha
ini, seseorang harus melaksanakan upaya-upaya pembenahan diri secara
terus-menerus. Karena itu, prosesnya sangatlah panjang. Salah satu faktor
penting dalam mewujudkan Pribadi Muslim yang sebenar-benarnya adalah
keberhasilan seseorang dalam membiasakan amalan-amalan yang melekat pada
dirinya sehingga menjadi ciri-ciri atau identitas
pribadinya.
Hanya saja, dengan tanpa disadari, kita telah banyak
melewatkan waktu-waktu berharga untuk menjalani kebiasaan-kebiasaan positif
setiap hari. Padahal, kebiasaan merupakan aktivitas
yang dilakukan berulang-ulang sehingga pusat kendalinya bergeser dari otak sadar
ke bawah sadar. Aktivitas yang berada dalam kendali otak sadar perlu energi yang lebih besar. Sedangkan, aktivitas yang berada dalam kendali
otak bawah sadar lebih ringan melakukannya dan energi yang diperlukannya juga lebih sedikit.
Bagaimanapun, kepribadian dan kualitas diri seseorang dibentuk oleh
kebiasaan-kebiasaan yang dilakukannya. Apabila kebiasaan-kebiasaan seseorang itu terbentuk oleh lingkungan di
mana ia berada, maka secara otomatis ia membentuk dirinya sebagaimana
kebanyakan orang-orang yang ada di lingkungannya. Tentu sangatlah beruntung
apabila ia berada di tengah-tengah orang-orang shaleh. Sebab, ia dapat memiliki
kebiasaan-kebiasaan yang menjadi ciri-ciri orang shaleh. Namun, apabila ia berada di
lingkungan orang-orang yang kurang peduli kepada tuntunan agama, maka kebiasaan
yang akan terbangun tentu juga akan jauh dari tuntunan agama.
Perlu diketahui bahwa situasi dan kondisi dunia tempat kita tinggal
sekarang ini jauh berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Perkembangan
teknologi informasi dan transportasi telah merubah duniamenjadi semakin terasa kecil. Sekat-sekat geografis
telah mencair. Dunia semakin tak berbatas,
datar dan tidak bulat lagi. Lingkungan pergaulan
semakin majemuk. Adanya facebook,
twitter
 dan teknologi
internet lainnya telah menjadikan lingkungan
pergaulan mampu menjangkau orang di mana
saja dan kapan saja. Boleh jadi, seseorang telah bersahabat dengan orang
yang tinggal dengan jarak ribuan kilometer.
Mereka dapat berkomunikasi secara efektif, tetapi tidak mengenal siapa yang tinggal di sebelah
rumahnya masing-masing.
Kemajemukan
lingkungan pergaulan dengan latar belakang yang berbeda-beda di satu sisi bisa
memperluas wawasan seseorang, tetapi di sisi lain bisa menimbulkan bahaya. Oleh
karena itu, kita harus cerdas memilih lingkungan pergaulan yang sesuai
dengan keyakinan dan cita-cita kita. Kalau bercita-cita menjadi orang sukses,
kita harus mencari teman-teman yang sukses. Apabila
ingin pintar, bertemanlah dengan orang-orang pintar. Apabila ingin berani, bergaulah dengan pemberani. Apabila ingin jujur, bergaulah
dengan orang-orang jujur. Salah satu cara untuk melihat bagaimana keadaan
seseorang dapatdilakukan dengan melihat siapa saja yang menjadi teman-teman dekatnya.
Pilihan-pilihan tersebut tentu berada di tangan kita
masing-masing. Kita tidak boleh menyerahkan
diriuntuk mengikuti kebiasaan orang-orang kebanyakan. Adalah suatu “kegilaan” seseorang
yang mengharapkan sukses tetapi melaksanakan hal-hal seperti yang dilaksanakan
orang kebanyakan. Cita-cita sukses haruslah diikuti dengan melakukan
kebiasaan-kebiasaan yang terbukti mampu membawa kesuksesan seperti
yang telah dipraktikkan oleh orang-orang sukses lainnya. Kalau mau menjadi orang
pintar, kita harus berkonsultasi dengan orang-orang yang pintar dan melakukan
kebiasaan-kebiasaan mereka. Pastinya, mereka terbiasa belajar dan membaca! Kalau kita mau jadi pengusaha sukses, berkonsultasinya dengan
pengusaha sukses, mengikuti petunjuk dan melakukan kebiasaan-kebiasaan mereka. Kunci
untuk
mengetahui apa saja kebiasaan-kebiasaan sukses yang mereka lakukan, kita bisa berkonsultasi dengannya!
Lantas, bagaimana dengan cita-cita seseorang yang ingin menjadi penghuni surga?
Syaratnya, ketika hidup di dunia kita mesti berjuang dan berproses menjadi “Pribadi Muslim yang
sebenar-benarnya”. Idealnya, seperti pribadi Rasulullah Muhammad SAW.
Untuk itu, kita harus berkonsultasi dengan Beliau
dan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang telah dicontohkan.
Persoalannya, kebiasaan-kebiasaan Rasulullah amatlah banyak. Lantas, dari mana kita mulai?
Sejalan dengan pertanyaan tersebut, terdapat pelajaran bagus dari seorang guru,
sebagaimanadikemukakan
John McGrath dalam bukunya “You
Don’t Have to be Born Brilliant
Seorang guru mengeluarkan dari bawah bangkunya
sebuah gelas kimia yang tingginya 30 cm. Ia juga mengeluarkan beberapa batu
besar berukuran kepalan tangan. Dengan hati-hati, ia masukkan satu persatu batu-batu tersebut sampai 10 buah.
Ketika memasukkan batu yang ke 11, gelas kimia tersebut tidak mampu memuatnya
dan batunya bergulir jatuh. Sang guru kemudian memandang murid-muridnya
dan bertanya: “apakah menurut kalian gelas kimia ini sudah penuh?” Murid-murid pun mengangguk.
Sebab, merekamelihat
tidak ada celah lagi untuk memasukkan batu. Kemudian, guru tersebut mengeluarkan ember berisi
batu-batu kerikil seukuran kacang polong. Pelan-pelan ia tuang kerikil tersebut
ke dalam gelas kimia, sampai tidak ada lagi ruangan tersisa di antara batu-batu
besar.
Setelah itu, pertanyaan yang sama diajukan sang guru kepada murid-muridnya dan
mereka mengangguk. Setelah mendengar jawaban itu, sang
guru mengeluarkan ember berisi pasir. Ia menuang pasir di antara
kerikil dan batu-batu besar sampai ruangan yang tersisa menjadi penuh. Para murid heran akan daya tampung gelas kimia tersebut
dan bingung bagaimana menjawab pertanyaan guru mereka selanjutnya: “apakah
gelas kimia ini sekarang sudah penuh?” Sebelum
mereka mampu menjawab, sebuah botol berisi air dikeluarkan dari bawah bangku
dan dituangkan ke dalam gelas kimia di antara batu, kerikil dan pasir. Sang
guru tersenyum dan berkata bahwa demonstrasinya telah usai. “Sekarang
beritahu saya, pelajaran apa yang bisa dipetik dari latihan ini?”.
Seorang
murid dengan antusias menjawab: “guru, saya belajar bahwa
seringkali kita bisa memasukkan jauh lebih banyak daripada yang kita kira
sebelumnya”. “Jawaban bagus! Tetapi ada pelajaran lain
yang saya ingin kalian temukan!” Para murid berpikir keras, sampai akhirnya ada
seorang yang menjawab: “guru, pelajaran yang bisa saya ambil adalah jika kita tidak menaruh batu-batu
besarnya terlebih dahulu, kita takkan mampu memasukkan benda lainnya.
 Jadi pelajaran buat saya adalah
menaruh batu besarnya dahulu”. Mendengar jawaban itu, sang guru tersenyum dengan perasaan sangat bangga. “Kalian pintar.
Memang itulah pelajaran yang ingin saya berikan”.
Melihat pelajaran tersebut di atas, lantas kebiasaan-kebiasaan apa saja yang menjadi “batu-batu besar”dalam
proses menjadi Pribadi Muslim yang
sebenar-benarnya? Terkait dengan hal ini, kami tawarkansembilan (9) kebiasaan menjadi “batu-batu
besar” kita dalam mewujudkan diri
menjadi Pribadi Muslim yang
sebenar-benarnya. Kami sering menyebut sembilan (9) kebiasaan ini sebagai “The Nine Golden Habbits”.Kesembilan
kebiasaan tersebut adalah: 

Pertama,
kebiasaan
Shalat; (a) Shalat Wajib di awal waktu
dan berjamaah diiringi shalat sunnah Rawatib; (b) Shalat Tahajud (lail) di
setiap sepertiga malam terakhir; dan (c) Shalat Dhuha
setiap pagi.
Kedua, kebiasaan Puasa, di samping melaksanakan puasa Ramadhan juga membiasakan berpuasa Sunnah.

Ketiga, kebiasaan berzakat, infaq dan shadaqah (ZIS), senantiasa mengeluarkan lebih dari 2,5% dari total
pendapatan untuk ZIS. Keempat, kebiasaan membaca
al-Qur’an: senantiasa membaca al-Qur’an pada waktu-waktu tertentu, misalnya: sehabis maghrib, menjelang subuh, ba’da shubuh dan
lain-lain sertamengkhatamkannya
minimal 1 kali dalam sebulan. Kelima,
kebiasaan
membaca buku lebih dari 1 jam setiaphari. Keenam, kebiasaan beradab Islami dalam setiap aktivitas
yang dilakukan. Ketujuh, kebiasaan mengaji dan berada dalam komunitas orang shaleh
lebih dari sekali dalam seminggu. Kedelapan, kebiasaan berkata baik, beramal shaleh dan memberikan kemanfaatan bagi
orang lain. Kesembilan,
kebiasaan
berpikir positif dan murah senyum.

Wa
ssalamu’alaikum
wr
. wb.

Agus
Sukaca/Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah 2010-2015