PIDATO MILAD MUHAMMADIYAH KE-104 H / 101 M

 
 
PIDATO MILAD MUHAMMADIYAH KE-104 H / 101 M
“MERAIH KEUNGGULAN UNTUK KEMAJUAN BANGSA”

Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta‘ala bahwa
hingga saat ini Muhammadiyah telah memasuki usia ke-104 H / 101 M dalam
menjalankan risalah Islam di muka bumi ini. Usia yang panjang itu
merupakan anugerah Allah Subhanahu Wa Ta‘ala yang sangat bermakna,
sekaligus sebagai bukti dari hasil perjuangan
yang tidak kenal lelah dari seluruh kekuatan Muhammadiyah disertai
kepercayaan masyarakat atas segala misi dakwah dan tajdid yang
dilaksanakan oleh Gerakan Islam ini. Tidak mudah bagi sebuah organisasi
Islam untuk bertahan dalam rentang lebih satu abad, dengan suka dan duka
perjalanan yang dilaluinya.

Banyak hal telah dirintis dan
dikhidmatkan Muhammadiyah untuk umat dan bangsa melalui amal usaha dan
amalan-amalan dakwahnya untuk kemajuan. Ada pula hal-hal yang belum
tergarap dengan baik dan masih menjadi tantangan Muhammadiyah untuk
dilaksanakan melalui misi dakwahnya. Berbagai rintangan pun telah banyak
dilalui oleh Muhammadiyah dalam rentang usia yang panjang itu. Namun
demikian Muhammadiyah tegak berdiri dan terus berkiprah tak kenal lelah
untuk mencerahkan kehidupan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan
universal. Meskipun kadang harus menghadapi rintangan, termasuk pada
sebagian hal diabaikan atau disalahmengerti oleh sementara kalangan,
Muhammadiyah tetap berjuang mengemban misi dakwah dan tajdid, sehingga
sejarah membuktikan betapa Muhammadiyah lahir dan berkiprah untuk
membawa negara dan bangsa ini menuju baldatun thayyibatun wa Rabbun
ghafur serta mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin.


Pembuktian kiprah Muhammadiyah untuk bangsa dan negara secara resmi
diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1961 ketika
mengangkat Kyai Haji Ahmad Dahlan sebagai Pahlawan Nasional. Melalui
Surat Keputusan Presiden Soekarno Nomor 657 tanggal 27 Desember l96l
dikemukakan empat pertimbangan pengangkatan K.H. Ahmad Dahlan sebagai
Pahlawan Nasional, yaitu: (1) K.H. Dahlan telah memelopori kebangunan
Umat Islam Indonesia untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah
yang masih harus belajar dan berbuat; (2) Dengan organisasi Muhammadiyah
yang didirikannya telah memberikan ajaran Islam yang murni kepada
bangsanya; Ajaran Islam yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal
bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman dan Islam; (3) Dengan
organisasinya Muhammadiyah telah memelopori amal-usaha sosial dan
pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangunan dan kemajuan bangsa,
dengan jiwa ajaran Islam; (4) Dengan organisasinya bagian Wanita atau
‘Aisyiyah telah memelopori kebangunan wanita bangsa Indonesia untuk
mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.

Karena itu kalau ada yang mengabaikan atau kurang menghargai kiprah
Muhammadiyah, maka hal itu menunjukkan kurangnya penghayatan atas
sejarah nasional di mana Muhammadiyah berjuang sejak awal untuk
kemerdekaan dan kemajuan Indonesia. Sebaliknya bagi mereka yang
mendukung, berempati, dan bekerjasama dengan Muhammadiyah menunjukkan
pemahaman dan visi kebangsaan yang konstruktif dalam membaca sejarah
bangsa, sekaligus menjadikan Muhammadiyah sebagai bagian integral yang
menyatu di tubuh bangsa ini dengan segala kiprah dan pengorbanan yang
tanpa pamrih. Muhammadiyah sendiri tidak akan menghitung-hitung amal
yang dilakukannya, namun pengungkapan atas kiprah perjuangan tersebut
lebih untuk menjadi perenungan dan pembelajaran bagi generasi bangsa
agar pandai menghargai jejak pejuangan seluruh anak negeri dan segenap
komponen bangsa yang telah meletakkan fondasi kebangsaan di Republik
ini.

Muhammadiyah tiga tahun yang lalu (tanggal 3-8 Juli 2010) telah
menyelenggarakan muktamar satu abad di kota kelahirannya, Yogyakarta.
Muhammadiyah senantiasa istiqamah memajukan kehidupan umat, bangsa, dan
dunia kemanusiaan universal. Muhammadiyah berkomitmen kuat untuk
menjadikan bangsa ini menjadi umat terbaik (khaira ummah) dan negara ini
menjadi baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur (negara yang baik dan
diampuni Tuhan). Misi Muhammadiyah tersebut ditorehkan sebagai panggilan
dakwah mengajak pada kebaikan, menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah
dari yang munkar mengikuti jejak risalah Nabi Muhammad shalallahu
‘alaihi wasallam sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta‘ala:

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yong
munkar; merekalah orang-orang yong beruntung.” (QS Ali lmran: 04)


Kini Muhammadiyah berusia 104 tahun. Di tengah suasana memperingati
Milad ini, dengan tetap mensyukuri apa yang positif telah diraih bangsa
ini, Muhammadiyah sungguh prihatin dengan kondisi bangsa saat ini. Beban
bangsa Indonesia di tengah bayang-bayang ancaman krisis ekonomi global
saat ini terbilang berat. Masalah ketenagakerjaan, kemiskinan, kerusakan
sumberdaya alam, kondisi masyarakat di daerah-daerah perbatasan, nasib
pulau-pulau terluar/terdepan, konflik horizontal, terorisme, dan masalah
kedaulatan negara di tengah cengkeraman hegemoni ekonomi-politik dunia.
Beban berat itu bukan sekadar dalam bobot masalahnya yang memang
kompleks, tetapi pada saat yang sama diperparah oleh penyakit kronis dan
menular yang bernama korupsi. Dalam menghadapi masalahmasalah besar
tersebut diperlukan langkah-langkah terobosan yang strategis, disertai
sikap kepemimpinan yang reformatif, bekarakter moralis, dan berjiwa
negarawan.

Muhammadiyah sebagai gerakan bermisi dakwah dan tajdid
yang telah berdiri jauh sebelum Republik Indonesia berdiri (merdeka),
senantiasa mengutamakan kepentingan dan kemajuan bangsa. Muhammadiyah
meyakini bahwa Islam yang menjadi fondasi gerakannya senantiasa
menggelorakan spirit kemajuan. Islam itu agama yang berkemajuan, Din
al-Hadlarah. Kepada segenap umat Islam kami ajak untuk terus
megoptimalkan kerja-kerja keumatan yang membawa pada keunggulan dan
kemajuan “lil-izatil Islam wal muslimin” demi kejayaan Islam dan kaum
Muslim. Jadilah umat terbaik untuk menyebarluaskan Islam sebagai
rahmatan lil-‘alamin.

Dalam kehidupan kebangsaan Muhammadiyah
senantiasa istiqamah membawa misi dan visi kemajuan. Muhammadiyah
sejalan dengan Khittah dan Kepribadiannya menegaskan sikap untuk
konsisten dalam beramar ma’ruf dan nahi munkar, berkiprah nyata melalui
berbagai amal usaha, serta bekerjasama dengan pemerintah dan seluruh
komponen bangsa secara cerdas dan mengedepankan nasib bangsa. Apa yang
dilakukan Muhammadiyah melalui berbagai kiprah dakwah dan amal usahanya
semuanya terus dikembangkan ke arah keunggulan untuk dikhidmatkan bagi
kemajuan umat, bangsa, dan kemanusiaan universal.

Karenanya
Muhammadiyah mengajak seluruh elite bangsa untuk benarbenar berkiprah
optimal untuk memajukan kehidupan bangsa guna mewujudkan cita-cita
nasional di seluruh bidang kehidupan. Kepada semua pihak lebih-lebih
para pemimpin bangsa mari tunjukkan sikap konsisten antara kata dan
tindakan, menjunjungtinggi moral yang utama, menunaikan amanat rakyat,
serta memperjuangkan kepentingan rakyat di atas kepentingan diri,
kelompok, dan golongan. Muhammadiyah mengajak pemerintah di seluruh
tingkatan untuk semakin meningkatkan komitmen dan kesungguhan dalam
memajukan bangsa, disertai sikap mengedepankan keadilan dan kejujuran,
berdiri di atas semua golongan, tidak partisan, bermitra dengan seluruh
komponen bangsa termasuk Muhammadiyah, dan mampu menunjukkan jiwa
kenegarawanan yang utama.

Muhammadiyah juga menyampaikan ajakan dan
komitmen moral bahwa dalam membangun bangsa, tidak kalah pentingnya
membangun kekuatan karakter atau akhlaq utama di tubuh bangsa ini yang
mengedepankan kejujuran, keadilan, kedamaian, keterpercayaan,
persaudaraan, kemandirian, dan nilai-nilai moral yang dibangun di atas
kebenaran dan kebaikan. Masa depan bangsa ini tergantung pada keutamaan
akhlaq warga dan para pimpinannya, disertai sikap jujur dan amanah dalam
menunaikan tugas bangsa dan negara. Akhirnya segenap warga bangsa
diajak untuk semakin meningkatkan iman dan taqwa sehingga Allah
Subhanahu Wa Ta‘ala melimpahkan berkah-Nya untuk bangsa ini sebagaimana
janji-Nya:
Artinya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri
beriman dan bertalaua, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka
berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami)
itu, makn Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf: 96)
Marilah kita berdo’a kepada Allah Subhanahu Wa Ta‘ala, agar umat dan
bangsa ini senantiasa berada dalam bimbingan-Nya, dianugerahi nikmat dan
karunia-Nya, dijauhkan dari adzab-Nya, dan dilimpahi Ridha-Nya. Amin ya
rabb al-‘alamin. Nashrun minallah wa fathun qarib.

Yogyakarta, 08 Dzulhijjah 1434 H
13 Oktober 2013 M
PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH