Kisah Kyai dan Seorang Muridnya : Bermaknanya Sebuah Proses

 “Allah tidak mengubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu mengubah
nasibnya sendiri
.
(Q.S Ar-Ra`du : 11)
Dalam mengawali perjuangan menggapai impian, seringkali kita
terjebak dalam kekerdilan yang dibuat sendiri. Sudah kalah sebelum berperang
itulah analogi yang pantas kita sematkan untuk menggambarkan seseorang yang
takut mengawali perjuangannya hanya karena takut tak akan mampu mencapai hasil
yang diharapkan. Ketakutan yang berlebihan ini seringkali membuat orang enggan
memulai sebuah proses perjuangannya. Dalam anggapan mereka, perjuangan tak kan
ada manfaatnya toh juga kita hanya memiliki potensi yang kecil untuk berhasil.

Berbicara tentang pencapaian suatu tujuan, kita bisa mengambil ibroh
dari sebuah cerita sederhana sebagai berikut :

Suatu ketika di sebuah pondok, sang Kyai memberikan instruksi kepada
seorang muridnya. “ Wahai muridku, kali ini Saya akan memberikan tugas
kepadamu, pindahkanlah air di kolam itu ke kolam yang ini dengan menggunakan
jala ini” Kata Sang Kyai. “ Nanti bada maghrib kamu harus melaporkan ke Saya”
Tegasnya.

“ Baiklah Kyai” Jawab Sang Murid.

Sang Murid langsung mengambil jala untuk digunakan menjalankan
aksinya.  Dia menuju kolam yang satu, Ia
ayunkan jala ke kolam agar airnya tadi bisa terbawa jala. Kemudian ia lari
menuju kolam yang satunya. Namun apa yang terjadi ? Air tak bisa dipindahkan
dari kolam ke kolam yang lainnya. Kalaupun bisa terpindahkan hanyalah
tetesan-tetesan saja. Kemudian Ia termenung dan berpikir keras bagaimana Ia
bisa memindahkan air tersebut dari satu kolam ke kolam yang lainnya. Sang Murid
tetap belum menemukan caranya. Ia mencoba lagi, mencoba, dan mencoba hingga tak
menyangka senja telah menghampiri.

Ia pun menuju surau untuk Shalat Maghrib dan menemui sang Kyai
sambil membawa jala yang digunakannya tadi. 
Selepas Shalat sang Kyai menghampiri murid itu lalu bertanya “ Bagaimana
muridku, apakah kamu sudah bisa memindahkan air dari kolam ke kolam yang lainnya
? ”.

“ Belum bisa Kyai, kalaupun bisa mungkin hanya setetes, dua tetes
saja “ Jawabnya.

“ Bagaimana bisa memindahkan airnya Kyai, bukankah jalanya itu
berlubang?” Terangnya lagi.

Kemudian sang Kyai menerangkan maksudnya memberikan tugas kepada
muridnya tadi. Kyai menyuruh muridnya untuk melihat jala yang ia gunakan tadi
untuk memindahkan air. Beliau menjelaskan jala yang sebenarnya tadi kotor
dengan tanah, setelah digunakan muridnya tadi sekarang menjadi bersih dari
berbagai kotoran yang tadinya menempel. Inilah yang ingin Kyai sampaikan kepada
muridnya. Terkadang kita tidak menyangka usaha kita akan membuahkan hasil yang
diluar tujuan awal kita. Kita seringkali hanya terfokus pada tujuan awal kita
semata, dalam kasus ini ingin memindahkan air berarti air itu harus pindah
tanpa melihat hasil yang lain yang mungkin itu tidak kita duga. Namun ternyata
tidak demikian. Janji Allah dalam Q.S Arradu ternyata tak hanya isapan jempol.
Kita sebagai hamba-Nya hanyalah bertugas untuk mengusahakan, tidak usah
berpikir nanti hasilnya mau seperti apa. Berhasil atau tak berhasil sama
sekali, itu urusan belakang. Yang terpenting adalah kita segeralah berusaha dan
mengawali aksi kita karena bagaimanapun usaha kita Allah pasti akan menghargai
proses usaha yang kita jalani itu. Bukan product
oriented,
 Allah memberikan apresiasi
kepada langkah kita. Namun Allah lebih menyukai process oriented untuk membangun semangat optimisme hamba-Nya
berjuang. Karena bisa jadi Allah menampakkan hasil dari usaha kita diluar
tujuan awal kita. Kita bisa mengambil hikmah dari persitiwa di atas. Meskipun
Santri tidak bisa memindahkan airnya namun ternyata Ia berhasil membuat jala
yang digunakan itu menjadi bersih. Itulah salah satu wujud penghargaan Allah
kepada ketekunan hamba-Nya dalam menjalani proses yang ada.

Akhirnya kita bisa menyimpulkan janganlah takut untuk memulai aksi
kita hanya karena takut tidak berhasil. Segeralah beraksi, nikmati dan
optimalkan proses perjuangan itu. Urusan hasil Allah pasti menyiapkan yang
terbaik buat kita. Dan yang terpenting pula, hasil tak selalu tertuju pada
tujuan awal kita, boleh jadi kita berhasil membuat progress di sisi-sisi yang
lain yang selama ini tak kita perhitungkan.
PHISCA ADITYA ROSYADY
Ketua
Bidang Kajian Dakwah Islam PC IPM Imogiri
Mahasiswa
Elektronika dan Instrumentasi UGM