Islam Satu-satunya Agama Yang Benar

    

    Keyakinan bahwa Islam  satu-satunya Agama Yang Benar adalah termasuk
perkara yang bersifat qath’I,  tsawabit dan badihiy /pasti,
tetap dan jelas(minal
umuridl-dloruriyah fid din)  
yakni
termasuk di antara perkara-perkara agama yang bersifat dhloruriyah (suatu
keharusan)  karena telah disepakati dan didukung
oleh seluruh ulama’ sepanjang masa lebih-lebih oleh salafus salih berdasarkan
nas-nas yang jelas dan  tegas. Namun
demikian,  sekarang perkara tersebut  sering  mendapat
rongrongan dari kalangan-kalangan tertentu terutama dari kalangan akademisi dan
pejuang HAM dengan mengatasnamakan toleransi agama mereka menyebarkan 
paham pluralisme  agama   dan mengecam setiap orang yang
meyakini dan menyatakan kebenaran agamanya dan kesesatan agama lain. Kelompok ini
menyebarkan pahamnya dengan berbagai cara  melalui TV, majalah, koran,
buku-buku dan film-film. Mereka tidak segan-segan mengutip ayat-ayat al-Qur’an
yang ditafsirkan menurut selera  mereka,  jauh dari manhaj yang benar. Dengan latar belakang itulah tulisan ini disajikan kepada para pembaca
untuk menegaskan ulang bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar
sebagaimana yang yang pernah ditegaskan dalam salah satu keputusan Munas Tarjih
di Jakarta yang berbunyi:
“sehubungan dengan
munculnya pemahaman bahwa orang Islam yang mengklaim agama Islam sebagai yang
paling benar adalah salah, berdasarkan al-Qur’an perlu ditegaskan kembali
kepada warga Muhammadiyah bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan
diridloi Allah.” Keputusan Munas Majelis Tarjih Di Jakarta Tahun 2000.
Dalam Muqaddimmah Anggaran Dasar Muhammadiyah juga disebutkan “Mematuhi
ajaran-ajaran Agama Islam dengan keyakinan bahwa Ajaran Islam itu satu-satunya
landasan kepribadian dan ketertiban bersama untuk kebahagiaan dunia dan
akhirat:

PENGERTIAN ISLAM

Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada para rasul-Nya sejak nabi Adam , Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada nabi penutup Muhammad saw, sebagai hidayat  dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa dan menjamin kesejahteraan materiil dan spirituil duniawi dan ukhrawi. (MKCH). Dalam Al-Qur’an, Allah telah menegaskan sendiri tentang kebenaran Islam sebagai agama bagi seluruh umat manusia, antara lain tersebut dalam :
Surat Ali Imran:83
أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

Apakah selain agama Allah yang mereka cari, padahal hanya kepada-Nya tunduk siapapun yang ada di langit-langit dan di bumi baik karena taat maupun terpaksa. Dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan.
Ayat di atas menjelaskan bahwa agama yang benar adalah agama yang datang dari Allah SWT. Dalam firman-Nya yang lain, pada surat Ali Imran:19, Dia menegaskan :
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ 
“Sungguh agama yang diridlai di sisi Allah adalah agama Islam”
Kemudian dalam surat Ali Imran:85, Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِين

Barangsiapa yang mencari agama lain selain Islam maka ia tidak akan diterima dan kelak di akhirat tergolong orang-orang yang merugi
Dalam surat Al-Ma’idah:3 Allah juga menegaskan:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا 

“Hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan Aku telah cukupkan bagimu nikmat-Ku dan aku telah meridlai Islam sebagai agamu untukmu.
Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa nama untuk menyebut agama yang benar (agama Islam), yaitu “al-Islam” seperti tersebut nama itu dalam surat Ali Imran:85 dan surat al-Ma’idah:3. Nama lain dari agama Islam adalah  Ad-dinul qayyim seperti tersebut dalam surat At-Taubah:36; dan dalam surat Al-Bayyinah:5, disebut dengan istilah :Dinul Qayyimah. Sebutan lain adalah Dinullah seperti nampak dalam surat surat Ali Imran : 83 dan surat An-Nashr:2; “Dinul haq” seperti tersebut dalam surat At-Taubah: 29 dan 33.
Penegasan Allah SWT dalam Al-Qur’an yang mengatakan bahwa Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai satu-satunya agama yang benar ajarannya dapat dikuatkan dengan alasan dan bukti sebagi berikut:
a. Islam sebagai agama yang jelas asal usulnya, yaitu sebagai agama wahyu yang terakhir.
b. Islam dibawa oleh seorang Nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad SAW.
c. Ajaran Islam diterangkan dalam Al-Qur’an sebagai kitab suci terakhir bagi seluruh umat manusia.
d. Ajaran Islam tidak ada yang bertentangan dengan fitrah manusia, tetapi mengatur seluruh aspek kehidupan manusia (manusia). Hal ini sesuai dengan ayat Al-Qur’an  dalam surat Al-Maidah:3; dan surat  Rum:30 yang berbunyi:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُون
“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama (Islam), fitrah Allah, dima Dia menciptakan manusia diatas fitrah tersebut. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
e.  Ajaran Islam tertumpu pada ajaran mengesakan Tuhan dan bertujuan menjadikan manusia sebagi sumber kabaikan.
f.       Ajaran Islam dapat diamalkan dengan mudah dan praktis oleh orang yang beriman(tidak memerlukan upacara yang rumit), dan semua ajarannya baik dan lurus sesuai dengan fitrah manusia yang tidak mau dipersulit dan yang kecenderungannya kepada yang baik dan lurus. Hal ini ditegaskan dal Al-Qur’an, dalam surat Al-Ma’idah:50 yang berbunyi:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka cari dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hokum Allah bagi kaum yang yakin”
Lihat pula surat Al-Baqarah: 185 dan 286.

SUMBER AJARAN ISLAM  

Islam sebagai agama samawi terakhir yang baik, benar dan sempurna mempunyai dua sumber ajaran pokok, yaitu Al-Qur’an dan Hadits (As-Sunnah  al-maqbulah)
1. Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW (baik isi maupun redaksi) melalui perantaraan Malaikat Jibril as. Al-Qur’an sebagai kitab suci mempunyai beberapa nama, yaitu:  Al-Qur’an, Alkitab, Al-Furqan, dan Az-Zikr, dan lain-lain.
Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang terjaga kemurniaannya sejak awal diturunkan sampai sekarang dan sampai hari kiamat. Kemurnian itu tetap terjaga dan dipelihara  oleh penciptanya sendiri, yaitu Allah SWT seseuai dengan firman-Nya dalam surat  Al-Hijr:9 yang  berbunyi:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
      Terbukti bahwa sampai saat ini Al-Qur’an tetap terjaga kemurniannya. Sejak awal diturunkannya, Al-Qur’an ditulis dan dihafalkan oleh para sahabat atas petunjuk Nabi Muhammad SAW. Kemudian kodifikasi Al-Qur’an telah dirintis pada zaman khalifah Abu Bakar dan disempurnakan pada zaman khalifah Usman bin Affan.
Kedudukan dan fungsi Al-Qur’an adalah sebagai berikut:
a.  Sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi umat manusia. Hal ini antara lain  dijelaskan dalam surat Al-Baqarah:185 yang berbunyi:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
b.   Sebagai sumber dari segala sumber hukum. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab:36 yang berbunyi:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
Isi ajaran Al-Qur’an, disamping sebagai pembenar, juga sebagai koreksi terhadap ajaran agama samawi terdahulu. Hal ini dijelaskan dalam surat An-Nahl:64 yang berbunyi:
وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
             Lihat pula Surat An-Nisa’:47 dan Al-Ma’idah:48.
            c.  Sebagai mu’jizat Nabi Muhammad SAW. Hal ini dijelaskan dalam surat Al-Baqarah:23 
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ  فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ
       Lihat pula surat Yunus: 38; surat Hud: 13; dan surat Al-Isra’: 88
  Al-Qur’an berisi ajaran-ajaran yang meliputi :

a. Aqidah; ajaran tentang keimanan kepada Allah SWT, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari Akhir, dan Taqdir Allah.
b. Hukum; yang terdiri atas aturan tentang hubungan manusia dengan Tuhan yang disebut ibadah (cara ritual) dan aturan tentang hubungan manusia dengan manusia lain dalam masyarakat yang disebut mu’amalah.
c. Akhlak; tata aturan tentang bagaimana orang harus berbudi pekerti baik dan menjauhi budi pekerti yang jelek, baik berakhlak kepada Allah, sesama manusia, maupun kepada alam hewani, nabati, dan alam jamadi.
d. Janji dan ancaman Allah. Allah tidak akan memperselisihi janji dan ancaman-ancamannya. Sebagai contoh, barang siapa yang beriman dan beramal saleh, Allah berjanji akan membalas dengan surga, dan barang siapa yang kafir dan berbuat jelek, Allah mengancam dengan balasan neraka.
e. Cerita atau sejarah umat terdahulu; seperti sejarah kaun Bani Israil, kaum Ad, kaum Tsamud, dan raja Fir’aun. Hal itu disebutkan dalam Al-Qur’an agar umat manusia mau mengambil hikmah dari sejarah umat-umat terdahulu tersebut.
f. Cara atau ajaran tentang bagaimana manusia dapat memperoleh kehidupan yang sejahtera dan bahagia.
g. Petunjuk atau cara yang mendorong manusia untuk dapat hidup maju dengan ilmu pengetahuan. Banyak ayat yang mendorong manusia untuk dapat hidup yang lebih maju dengan ilmu pengetahuan dan Allah berjanji akan mengangkat derajat mereka yang menguasai ilmu pengetahuan.

     2. Hadits Nabi.
       Hadits  yaitu segala perkataan, perbuatan, ketetapan, dan sifat-sifat yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Kaum muslimin sepakat bahwa hadits Nabi atau sunnah Nabi menjadi sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an. Dasarnya adalah sebagai berikut:
a.      Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr:  yang berbunyi:
وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
b. Hadits Nabi riwaya Ibnu Majah, Abu Dawud, dan lain-lain
 يَقُول الْعِرْبَاضَ بْنَ سَارِيَة قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَعَظْتَنَا مَوْعِظَةَ مُوَدِّعٍ فَاعْهَدْ إِلَيْنَا بِعَهْدٍ فَقَالَ عَلَيْكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا وَسَتَرَوْنَ مِنْ بَعْدِي اخْتِلَافًا شَدِيدًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَالْأُمُورَ الْمُحْدَثَاتِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Al ‘Irbah bin Sariyah berkata: “Pada suatu Rasulullah saw berdiri di hadapan kami lalu menasehati dengan nasehat yang menyentuh, yang dapat membuat hati-hati kami bergetar dan air mata meleleh, Raulullah saw ditanya: wahai Rasulullah engkau telah menasehati kami dengan nasehat orang yang berpamitan maka berpesanlah engkau kepada kami dengan satu pesan, Beliau berkata: tetaplah kalian bertaqwa kepada Allah swt, patuh dan tunduk pada pemimpin walaupun ia seorang budak yang hitam legam. Kalian akan melihat perselisihan yang amat dahsyat setelah peninggalanku. Maka tetaplah kalian berpegang teguh kepada sunahku dan sunah khulafaurrasyidin yang diberi petunjuk, gigitlah dengan gigi geraham kalian. Jauhilah oleh kalian perkar-perkara yang baru (bid’ah) karena setiap bid’ah itu sesat”.
Para sahabat sepakat  bahwa sunnah Rasul dijadikan sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an. Kesepakatan itu berlaku sejak Rasul masih hidup sampai setelah wafat. Mereka selalu menaati hadits Rasul; menaati perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.
Al-Qur’an adalah kitab suci yang berisi aturan hidup secara umum yang masih memerlukan penjelasan. Contoh, mengenai shalat dalam Al-Qur’an hanya diperintahkan, tetapi tidak ada penjelasan tentang bagaimana tata cara melakukan shalat. Untuk menjelaskan tata cara shalat ini, Nabi memberikan contoh pelaksanaannya.
Segala sesuatu mengenai hidup dan kehidupan sudah diatur oleh Al-Qur’an dan Hadits Nabi, tetapi tidak semuanya bersifat rinci. Ada yang diatur secara global (garis besar atau prinsip-prinsipnya) dan ada yang diatur secara detail. Untuk penjabaran dan pengembangan hal-hal yang belum diatur secara detail, Al-Qur’an dan Hadits memberikan kesempatan kepada para ulamamujtahidin untuk melakukan ijtihad, yaitu menggunakan pikiran untuk menentukan sesuatu (hukum) yang tidak ditentukan secara eksplisit oleh Al-Qur’an dan Hadits.  Dalam surat An-Nisa’:59 Allah SWT berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Dalam menggunakan ijtihad, para mujtahidin menggunakan metode ijma’, qiyas, istihsan dan mashalih mursalah. Keputusan ijtihad tidak bersifat absolut, karena merupakan produk akal pikiran, tidak berlaku bagi semua orang dan semua masa, dan tentu saja tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits. ((Zaky Mubarok, dkk : 62-74)
ASPEK-ASPEK AJARAN ISLAM        
Secara garis besar, ajaran Islam mencakup 4 aspek, yaitu:

1.  Aqidah, yaitu aspek keyakinan atau keimanan kepada perkara-perkara yang dijelaskan dalam rukun Iman. Aqidah adalah merupakan fundasi ajaran Islam yang sifat ajarannya pasti, mutlak kebenarannya, terperinci danmonoteistis. Ajaran intinya adalah mengesakan Tuhan (tauhid). Oleh karena itu, ajaran aqidah Islam yang tauhidi sangat menentang segala bentuk kemusyrikan.
2.    Ibadah, yaitu aturan-aturan tentang tata cara hubungan manusia dengan Allah atau segala cara dan upacara pengabdian yang bersifat ritual yang telah diperintahkan dan diatur cara-cara pelaksanaannya dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Seperti, shalat, puasa, haji, dan lain-lain.
3.    Akhlak, yaitu aturan tentang perilaku lahir dan batin yang dapat membedakan antara perilaku yang terpuji dan tercela,  antara yang salah dan yang benar, antara yang patut dan yang tidak patut (sopan); dan antara yang baik dan yang buruk.
Sifat ajaran akhlak Islam adalah universal, eternal, dan absolut, dan akhlak yang benar menurut Islam adalah akhlak yang dilandasi dengan iman yang benar.
4.   Mu’amalah, yaitu aturan tentang hubungan manusia dengan manusia dalam rangka memenuhi kepentingan atau kebutuhan hidupnya, baik yang primer maupun yang sekunder. Contohnya, ialah berdagang, perkawinan; termasuk masalah hukum pidana dan hukum tata negara.  ((Zaky Mubarok, dkk:78-80)
KARATERISTIK DINUL ISLAM

    Agama Islam adalah agama Allah (dinullah), yakni seluruh ajarannya  bersumber dari Allah SWT baik  melalui wahyu langsung (Al-Qur’an) maupun tidak langsung (Hadits Nabi). Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat  39:2 yang berbunyi:

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

  •  Agama Islam mengandung ajaran-ajaran yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia (syumul).
  •  Agama Islam berlaku untuk seluruh umat manusia sampai akhir zaman (al-‘umum)
  •  Agama Islam mengandung ajaran-ajaran yang sesuai dengan fitrah manusia, sebagaimana firman Allah dalan Al-Qur’an surat 30:30 yang berbunyi:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ 
أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
      Agama Islam menempatkan akal manusia pada tempat yang sebaik-baiknya, sebagimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat 7:179 dan surat 31:20 yang berbunyi:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا 
يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُون
     Agama Islam berfungsi sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta, sebagaimana firman Allah dala Al-Qur’an surat 21:107 yang berbunyi:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Agama Islam mengorientasikan umat manusia ke masa depan (akhirat) tanpa   melupakan
masa kini (dunia), firman Allah dalam Al-Qur’an surat 28:77 yang
berbunyi:
وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Bagi orang yang  beriman masa depan itu penuh harapan,  karenanya ia harus selalu optimis dan menghilangkan pesimisme. Agama Islam menjanjikan balasan (aljaza’) yakni syurga bagi orang-orang yang beriman dan neraka bagi orang orang-orang  yang kufur kepada Allah SWT sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat 98:6-8 yang berbunyi:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ(6)إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ(7) جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ(8)

( Sistem Pengkaderan Muhammadiyah BPK PP Muhammadiyah)