Ber-Qurban Tapi Belum Aqiqah

Pertanyaan
Dari:
Saudara
Moh. Roni, guru agama Islam, di Pekanbaru Riau
Pertanyaan:
Ada
pendapat bahwa berqurban pada hari raya Idul Adha kurang afdol kalau yang berqurban itu belum melaksanakan
aqiqah terlebih dahulu. Mohon dijelaskan dan ditunjukkan dalilnya.
Jawaban:
Kami
kemukakan bahwa masalah qurban pada hari raya dan aqiqah adalah dua hal yang berbeda. Qurban
disyari’atkan Allah sebagai peringatan dari sebuah fenomena ketaatan hamba Allah, Ibrahim dan
Ismail, sedangkan aqiqah disyari’atkan berkenaan dengan kelahiran anak, karena anak dipandang sebagai rungguhan
maka harus ditebus dengan
penyembelihan binatang. Perbedaan lainnya adalah dari segi waktu, qurban dilaksanakan setiap tahun pada
hari raya Haji, sedangkan aqiqah dilaksanakan pada hari ketujuh dari setiap kelahiran
anak, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat al-Bukhari-Muslim dan yang
lain dari Samurah bin Jundub. 
Dari segi hukum, qurban hukumnya sunah muakkadah bagi
yang mampu. Aqiqah hukumnya juga sunah muakkadah sekalipun orang tua si anak dalam keadaan kurang mampu.
Dalam berqurban
boleh secara rombongan khususnya bagi yang berqurban dengan onta atau lembu yaitu satu lembu untuk
tujuh orang, tidak demikian halnya dalam aqiqah. Mengenai afdol tidaknya bagi yang berqurban sebelum melaksanakan
aqiqah, memang
tidak ada dalil yang secara khusus membicarakan masalah ini. Namun boleh jadi orang yang mengatakan kurang
afdol karena memandang aqiqah adalah tebusan bagi anak yang dianggap sebagai rungguhan, jika belum ditebus si
anak tidak bisa memberikan
syafaat kepada orang tuanya di akhirat nanti. Namun yang perlu dipertanyakan adalah adakah
aqiqah itu tidak punya batas waktu, sebab jika mengacu pada hadis yang diriwayatkan oleh
al-Bukhari-Muslim dari Samurah bin Jundub, waktu pelaksanaan aqiqah itu pada hari ketujuh dari saat kelahiran anak.
Ada hadis yang lain yang
menyebutkan mengenai waktu pelaksanaan aqiqah selain hari ketujuh, tetapi hadis tersebut dinilai daif. 
Apabila
ini yang dipegangi maka penyembelihan binatang, karena kelahiran anak di luar masa itu
tidak disebut aqiqah tetapi tasyakuran biasa. Jika demikian, apabila dilihat dari
cakupan manfaatnya, udhiyah (qurban) jangkauannya lebih luas, karena disyari’atkan untuk
dibagikan kepada fakir miskin (bisa di luar daerah domisili orang yang qurban) di
samping tetangga dekat dan sahibul qurban sendiri. 
Sementara tasyakuran yang
berkaitan dengan kelahiran anak (di luar waktu aqiqah) jangkauannya hanya kerabat dan
tetangga dekat. Dari
sudut pandang ini udhiyah lebih afdol, meskipun sahibul qurban belum melaksanakan tasyakuran karena
kelahiran anaknya atau kelahirannya sendiri. Lebih lebih apabila
memahami waktu pelaksanaan aqiqah itu terbatas pada hari ketujuh dari kelahiran anak, sehingga hukum
aqiqah yang sunah muakkadah itu jika dilaksanakan di luar waktu yang ditentukan
hukumnya menjadi sunah biasa karena tidak lagi disebut aqiqah, tetapi tasyakuran. Dengan
demikian dari segi hukum, udhiyah yang sunnah muakkadah kedudukannya lebih kuat dari sunah biasa.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah