Abu Hanifah Dipenjara Sampai Meninggal Karena Menolak Jabatan

Adalah An-Nu’man bin Zauthi At-Taiin Al-Kufi atau yang dikenal dengan nama
Abu Hanifah. Dia adalah seorang Imam ahli fikih. Kulitnya sawo matang, dan
tinggi badannya. Wajahnya tampan dan berwibawa. Tidak banyak bicara kecuali
menjawab pertanyaan yang dilontarkan. Demikian keterangan dari Hammad, putera
beliau. Ibnu Al-Mubarak mengatakan bahwa Abu Hanifah berwajah tampan dan
berpakaian rapi.
Menurut sebagian riwayat, Abu Hanifah melakukan shalat Isya dan Shubuh
dengan satu wudhu selama 40 tahun. Selain dikenal sebagai ahli ilmu, Abu
Hanifah juga seorang yang ahli ibadah. Sufyan bin Uyainah berkata, “Tidak
seorang pun yang datang ke Mekkah yang lebih banyak shalatnya pada masa kami
dari Abu Hanifah.”
Abu Hanifah adalah salahseorang ulama yang kemudian namanya dijadikan
salahsatu nama 4 mazhab besar dikalangan Ahlussunnah. Tidak ada seorangpun yang
meragukan pengetahuannya tentang fiqh, dan kepandaiannya dalam berijtihad.
Namun demikian, Abu Hanifah bukan tipe seorang petapa dimenara gading.
Beliau tidak jumawa dan ujub dengan karunia yang telah Allah berikan. Oleh
karena itu, beliau tetap bekerja, berdagang, dan bergaul dengan masyarakat dari
berbagai kalangan.
Menolak Jabatan
Keilmuan dan kepakaran Abu Hanifah membuatnya dikenal oleh seluruh penduduk
negeri. Banyak orang belajar kepada beliau, menanyakan berbagai persoalan maupun
untuk menyelesaikan sengketa. Tidak aneh jika kemudian Amirul Mukminin sangat
menginginkan Abu Hanifah untuk menjadi hakim.
Khalifah Abu Al-Manshur sangat ingin mengangkat Abu Hanifah menjadi hakim.
Khalifah bersumpah dan memaksa Abu Hanifah, tapi beliau menolak.
Dari Ubaidillah bin Amr, dia berkata, “Sesungguhnya Ibnu Hubairah telah
mencambuk Abu Hanifah sebanyak 110 cambukan dengan cemeti agar dia mau memegang
jabatan sebagai hakim, akan tetapi dia lebih memilih untuk menolaknya. Ibnu
Hubairah adalah salah seorang pejabat pemerintah dalam pemerintahan Khalifah
Marwan, dia ditugaskan di Irak pada masa Bani Umayyah.” [ Tarikh Baghdad
13/326]
Dari Basyar bin Al-Walid, dia berkata, “Khalifah Abu Al-Manshur meminta
kepada Abu Hanifah untuk menjadi hakim dalam pemerintahannya. Dia bersumpah
untuk bisa menjadikan Abu Hanifah sebagai hakim. Akan tetapi Abu Hanifah
menolaknya dan bersumpah, “Sesungguhnya aku tidak akan melakukannya.””
Khalifah bersumpah untuk menjadikannya hakim, tetapi Abu Hanifah pun
bersumpah untuk menolaknya. Ar-Rabi’ Al-Hajib heran dengan hal tersebut.
Kemudian Abu Hanifah menjelaskan, “Amirul Mukminin mau bersumpah karena dia
lebih mudah membayar denda sumpahnya daripada saya.”
Al-Manshur berkata, “Apakah Anda berkenan pada pekerjaan yang sekarang aku
jabat?” Abu Hanifah menjawab, “Aku tidak pantas.” Al-Manshur membantah, “Anda
berbohong!” Abu Hanifah mengatakan, “Berapa banyak yang memintaku untuk menjadi
hakim, dan aku tidak pantas. Terserah aku berbohong atau benar, aku beritahukan
kepada Anda bahwa aku tidak pantas.”
Kemudian Abu Al-Manshur memerintahkan pengawalnya untuk memasukkan Abu
Hanifah ke dalam penjara, hingga dia meninggal dunia di penjara. [Siyar A’lam
an-Nubala 6/401]
Seorang penjaga penjara bernama Humaid Ath-Thawusi berkata kepadanya,
“Wahai Syaikh, sesungguhnya Amirul Mukminin telah memerintahkan kepadaku lewat
seseorang untuk memukul dan membunuh Anda. Akan tetapi aku tidak mengetahui
alasannya. Lantas, apa yang harus aku lakukan?” Abu Hanifah balik bertanya,
“Apakah Amirul Mukminin memerintahkan perkara yang wajib (dilaksanakan)”. Abu
Hanifah berkata, “Bersegeralah melaksanakan perintah wajib.”
Jabatan adalah Amanah
Sungguh mulia sikap Imam Abu Hanifah. Beliau menolak jabatan, meskipun
dipaksa. Bahkan beliau rela menanggung ancaman dan siksaan karena urusan ini.
Jarang sekali ada manusia seperti beliau. Padahal Abu Hanifah adalah orang
paling alim, dan jabatannya adalah wewenang untuk menegakkan keadilan. Tawaran
jabatan yang disertai ancaman jika ditolak pun, secara psikologis akan membuat
orang enggan untuk menolaknya. Hampir tidak ada alasan yang bisa mendukung
penolakan beliau. Andai saja beliau berfikir sebagaimana para politikus zaman
ini berfikir; “kalau jabatan ini sampai jatuh ketangan oranglain, belum tentu
orang tersebut bisa menjadi hakim yang baik”.

Itulah Abu Hanifah, dan itulah sikap wara’, zuhud dan bijaksana. Beliau
memandang jabatan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan
Allah. Pandangan inilah yang mengalahkan logika-logika politik dan kekuasaan.
Siapa yang bisa menjamin kalau diri kita bisa lebih baik dari oranglain. Siapa
juga yang bisa memastikan kesalahan oranglain dan keadilan keputusan kita. Abu
Hanifah tidak berminat untuk mengundi nasib dalam timbangan amal dan
tanggungjawab. Beliau memilih untuk menolak tawaran tanggungjawab dan
kesempatan baik. Seolah-olah beliau ingin mewariskan kisahnya kepada generasi
saat ini. Bahwa jabatan adalah amanah yang harus dipikul dan beban yang akan
memberatkan hisab. Wallahua’lam. [Majalah Tabligh edisi Rabi’ul Awwal 1434 H]