Praksis Islam Tanpa Kekerasan


Jumlah dan kualitas kekerasan yang melanda kehidupan masyarakat dengan korban anak-anak perempuan, dan lainnya makin hari makin bertambah. Baik kekerasan simbolik maupun kekerasan fisik dari yang minimum sampai yang maksimum (pembnuhan) pun berityanya terus menghiasi media massa. Lokasi kekerasan tidak pilih-pilih, mulai dari dalam rumah, ruang publik ramai sampai tempat sepi. Dengan pelaku yang juga tidak pilih-pilih.

Pusat Data dan Informasi Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat, sebagaimana disampaikan Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, sejak Januari hingga Juni 2013, tercatat 1.032 kasus kekerasan yang menimpa anak. Sebanyak 535 kasus merupakan kasus kekerasan seksual, yang lain berupa kasus kekerasan fisik 294 kasus, dan kekerasan psikis 203 kasus.

Kasus kekerasan seksual paling banyak terjadi di lingkungan sosial sebanyak 385 kasus, disusul lingkungan keluarga 193, dan lingkungan sekolah 121. Penyebab yang melatarbelakangi terjadinya kekerasan seksual adalah karena pengaruh pornografi 70 kasus, terangsang dengan korban 122 kasus atau hasrat tak tersalurkan 148 kasus. Modus yang dipakai adalah dengan menggunakan obat penenang 15 kasus, diculik lebih dulu 14 kasus, disekap 45 kasus, bujuk rayu dan tipuan 139 kasus, dan iming-iming 131 kasus..

Komnas Perempuan pun mencatat, pada tahun 2012 angka kekerasan seksual terhadap perempuan mencapai 216.156 kasus. Sejak Januari 2013 hingga April 2013, jumlah kasus perkosaan mencapai 42 kasus. Koordinator Perempuan Mahardika, Mutiara Ika Pertiwi, menyebut keadaan ini sebagai kondisi darurat bagi perempuan. Kondisi seperti itu membuat banyak perempuan merasa tidak aman baik di rumah sendiri, di angkutan kota, pasar, jalanan, dan dimanapun.

Direktur Kewaspadaan Nasional Kementerian Dalam Negeri RI, Budi Prasetyo, dalam Forum Komunikasi dan Koordinasi Penanganan Paham Radikal Wilayah Timur di Kendari, Maret lalu mengatakan bahwa berdasarkan data yang dimiliki Kementerian Dalam Negeri pada tahun 2012, kasus radikalisme meningkat hampir 80 persen dari tahun sebelumnya. Hal itu disebabkan oleh masalah ekonomi dan pemahaman demokrasi yang terlampau bebas. Pada tahun 2012, terjadi 128 konflik di Indonesia akibat paham radikalisme. Pada tahun 2010, tercatat 93 konflik dan 2011 sebanyak 77 konflik.

Ia merinci, kasus radikalisme di Indonesia sangat bervariasi, seperti perkelahian yang dipicu oleh persoalan kecil, tetapi tidak langsung diselesaikan sehingga mengakibatkan tindakan kekerasan yang melibatkan banyak orang. Misalnya kasus Lampung. Awalnya ketersinggungan warga karena ada anak gadis yang digoda. Tetapi, tidak cepat diatasi baik oleh pemda maupun aparat kepolisian akhirnya bisa merembet ke persoalan SARA.

Menurut catatan SM, sebagian dari kekerasan itu dipergunakan oleh manusia sebagai alat, metode atau instrumen nntuk menyelesaikan masalah. Yang kemudian terjadi justru sebaliknya, kekerasan justru melahirkan kerasan baru. Artinya, kekerasan justru melahirkan masalah baru yang lebih rumit untuk diatasi. Di Sleman Yogyaakrta, bahkan terjadi kekerasan maksimum dengan korban gadis belia. Yang satu diperkosa, dibuuh lalu jenazahnya dibakar dengan pelaku orang dewasa dan apara tkeamanan, yang kedua dibunuh ramai-ramai oleh teman sebanya hanya karena salah ucap yang menyebabkan ketersinggungan.

Yang jelas, Islam sangat tidak menyetujui kekerasan dipergunakan sebagai alat untuk menyelesaikan masalah. Kekerasan itu sendiri pun tidak sesuai dengan ajaran Islam.Sebab Islam mengajarkan kesantunan, kelembuitan, kasih sayang, dan keramahan.

Lantas bagaimana kita memahami kekerasan yang terjadi di sekeliling kita dari perspektif Islam?

Bagaimana pula dengan peran Aisyiyah yang dalam berdakwah lebih mengedepankan kelembutan dan kesantunan? Apakah semangat anti kekerasan yang diembannya efektif untuk menguangi atau bahkan mengatasi masalah kekerasan, khususnya kekerasan terhadap anak dan perempuan? Penganjian Ramadlan PP Aisyiyah yang berlangsung di Kampus Stikes membahas dan mendalami masalah ini. (Bahan dan tulisan: tof)

Editorial Majalah Suara Muhammadiyah edisi terbaru (No. 17 – 2013)