Peran AMM di Tengah Modernisasi


Generasi muda merupakan fase pertumbuhan yang unik dalam sebuah kehidupan.
Secara ciri fisik, pemuda bisa didefinisikan sebagai pria/wanita gagah, tegap,
fisik prima, semangat tinggi (menggebu-gebu), umur sekitar 19-35 tahun, punya
rasa ingin tahu yang tinggi, namun belum berpengalaman yang cukup (Tetra Azkia
Mumtaz : 2012).

Karenanya, pemuda  adalah suatu umur
yang memiliki kehebatan sendiri, menurut Dr. Yusuf Qardhawi, ibarat matahari
maka usia pemuda ibarat jam 12 ketika matahari bersinar paling terang dan
paling panas. Karena pada masa inilah manusia mengalami banyak perubahan dalam
hidupnya. Pada tahap ini pula biasanya manusia menghadapi masa-masa yang labil
dalam menjalani hidup.

Sudah menjadi wacana umum, bahwa dekadensi moral yang terjadi pada generasi
muda telah mencapai titik sangat mengkhawatirkan. Terjadinya
pelanggaran norma-norma sosial yang dilakukan oleh para muda-mudi
merupakan masalah terpenting bangsa ini dalam rangka perbaikan sumber daya
manusianya. Karena ketika sebuah etika sosial masyarakat tidak diindahkan lagi
oleh kaum muda, maka laju lokomotif perbaikan bangsa dan negara akan mengalami
hambatan.

Keunikan yang kemudian muncul adalah, bahwa saat banyak
manusia labil yang mencari jalan keluar, ada orang-orang pilihan yang telah
menemukan jalan hidupnya dengan bergabung pada organisasi atau pergerakan
kepemudaan. Dalam Persyarikatan Muhammadiyah ada banyak alternatif gerakan muda
yang terdiri dari Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA), Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Gerakan
Kepanduan Hizbul Wathan (GKHW) dan Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM).
Organisasi otonom bersegmen muda tersebut biasa disebut dengan Angkatan Muda
Muhammadiyah (AMM).

Ya, ternyata AMM adalah salah satu pilihan utama bagi generasi
muda bangsa ini untuk keluar dari kelabilan. Nama Muhammadiyah di belakang nama
berbagai organisasi kepemudaan tersebut memang seharusnya mampu menggerakkan
para aktivisnya keluar dari jalan pemuda pada umumnya yang jauh dari
nilai-nilai Islam. Dari aqidah yang rusak kepada tauhid yang hanif. Dari
budaya-budaya hedonis kepada budaya Islami walaupun harus tetap kreatif.

Menurut Tetra Azkia Mumtaz (2012), diantara fungsi dari
organisasi kepemudaan Islam adalah sebagai berikut: Membantu/mengajak
masyarakat untuk lebih aktif dalam lingkungan dan kehidupannya; Sebagai
pendukung proses sosialisasi yang berjalan di sebuah lingkungan bermasyrakat;
Dan yang paling utama merupakan tempat/wadah aspirasi dari sekelompok individu
yang berbeda beda dalam meneguhkan ajaran keislamannya.

Sebagai gerakan yang universal bidang garapnya, AMM melalui
berbagai elemennya memang perlu merumuskan secara konkrit langkah
perjuangannya. Ia harus menyadari bahwa zaman semakin melaju dan tidak akan
pernah berhenti walau sejenak. Sebagai organisasi yang sudah banyak makan asam
garam perjuangan, gerakan ini seharusnya dapat melihat kebelakang tentang apa
yang telah dikerjakan. Bukan dalam rangka sekedar bernostalgia atau berkubang
dalam romantisme masa lalu saja, namun lebih pada penilaian, penyaringan,
pemilihan dan pemilahan. Tentunya ada banyak hal yang dapat kita teladani dari
para pendahulu kita. Dan bukan tidak mungkin apa yang telah diperjuangkan dan
dilakukan oleh meraka dapat kita pakai saat ini meskipun dengan ‘bahasa’ yang
berbeda.

Menghadapi tantangan masa depan yang semakin komplek dan
tak pernah berkesudahan, ada kaidah menarik yang dapat kita ambil dari para
pejuang Islam terdahulu untuk kita ambil pelajaran. Allah Subhanahu wa
Ta’ala
berfirman dalam Q.S At Taubah ayat 100 sebagai berikut: “Orang-orang
terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan
Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada
meraka dan mereka pun ridho kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi meraka
surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, mereka kekal didalamnya
selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”


Mari kita cermati juga sabda Nabi Muhammad Shalallahu
‘alaihi wasallam
dalam sebuah hadis berikut ini: “Sebaik-baik manusia
adalah (orang yang hidup) pada masaku ini (sahabat), semudian sesudahnya
(tabi’in), kemudian sesudahnya (tabi’ut tabi’in).”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dari latarbelakang yang diambil dari ayat dan hadis
tersebut, tulisan ini sengaja mengupas dan memberikan alternatif gerakan AMM,
baik dibidang keislaman, sosial, politik, maupun kebudayaan dengan
menitikberatkan nilai-nilai Islam dan Muhammadiyah didalamnya.

Pertama, AMM sebagai gerakan Islam. Saat kita membicarakan tentang gerakan Islam
dalam gerakan AMM, kita tidak boleh
melupakan Muhammadiyah
sebagai gerakan induknya. Karena jika AMM ingin mencapai kejayaan dan menyongsong tantangan zaman
yang selalu akan muncul, maka kita harus melihat apa yang dilakukan oleh para
pendahulu kita juga. Muhammadiyah dibangun oleh K.H. Ahmad Dahlan rahimahullah
sebagai hasil konkrit dari pendalaman beliau terhadap Al-Qur’an. Faktor inilah
yang seharusnya diteladani oleh ortom-ortom muda persyarikatan yang tergabung
dalam AMM. Karena faktor inilah yang sebenarnya menjadi faktor utama pendorong
berdirinya Muhammadiyah. Sedangkan faktor lain hanya sebagai penunjang saja.

Dari latar belakang berdirinya Muhammadiyah yang
diilhami, dimotivasi dan disemangati oleh ajaran-ajaran Al-Qur’an, AMM sebagai
gerakan dakwah muda dibawah Muhammadiyah seharusnya tidak ada motif lain
kecuali semata untuk merealisasikan prinsip ajaran Islam yang bersumber dari
Al-Qur’an dan As Sunnah Al Maqbulah dengan pemahaman para sahabat radhiallahu
‘anhum
.

Namun demikian, sebelum generasi muda dalam AMM
mengamalkan prinsip-prinsip Al-Qur’an dalam gerakannya, sudah menjadi
konsekuensi logis bahwa gerakan ini harus mendalami nilai-nilai ajaran Islam
itu dengan mengkajinya secara intensif. Karena hal ini sesuai dengan prinsip “Al‘ilmu
qobla kalam wa ‘amal”
, ketahui dulu ilmunya sebelum berkata dan berbuat.
Setelah Islam dikaji, tentu tidak berhenti sampai disini, akan tetapi sebagai
gerakan Islam, AMM melalui para aktivisnya tentu harus membumikan nilai-nilai Islam
dalam kesehariannya dengan prinsip islam sebagai rahmat, bukan sebagai laknat
bagi alam semesta. Sehingga para aktivisnya benar-benar dapat dibedakan
kualitas ke-Islamannya dengan gerakan kepemudaan yang lain. Para aktivis AMM harus
bisa bergerak ditengah, yakni ‘tegas dalam bersikap, namun santun dalam
bertindak’.

Kedua, AMM sebagai gerakan sosial
kemasyarakatan. Sebagai
gerakan sosial, gerakan ini mempunyai tugas utama yaitu kritis terhadap
realitas sosial yang ada. Realitas sosial yang sering kali cenderung tidak
memihak kepada masyarakat kalangan bawah dan rakyat jelata. AMM harus gigih
memperjuangkan hak-hak masyarakat dan umat yang terabaikan. Menurut K.H. AR.
Fakhruddin (2005) kalau mungkin timbul masyarakat yang kacau balau, kocar-kacir,
tindas-menindas, peras-memeras, masing-masing sewenang-wenang. Bukan hal yang
mustahil kalau kita menginginkan adanya masyarakat sejahtera, aman, damai, dan
makmur. Itulah yang harus diperjuangkan oleh AMM sebagai gerakan sosial tanpa
harus melepaskan diri dari hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala yang
sebenar-benarnya, lepas dari pengaruh setan dan hawa nafsu.

Ketiga, AMM sebagai gerakan politik kerakyatan. Sebagai
gerakan politik disini gerakan ini harus bisa menempatkan posisinya dengan
baik. Bukan untuk terlibat dalam politik kekuasaan yang pragmatis namun tetap
harus punya posisi strategis dalam berjuang dan bergerak bersama rakyat.
Generasi muda adalah bagian tak terpisahkan dari komponen rakyat dalam sebuah
Negara. Namun, pemuda seringkali terpinggirkan, termarginalkan dan dianaktirikan
oleh para pengambil kebijakan. Persoalan anggaran pendidikan maupun penyediaan
lapangan kerja yang tidak maksimal adalah salah satu bukti konkrit yang tidak
dapat disangkal, bahwa generasi muda masih menempati posisi dibawah dalam
pandangan penguasa kita.

Disinilah dibutuhkan peran strategis yang harus
diperankan gerakan ini. Generasi muda yang selama ini masih menjadi pihak yang
terdholimi harus diselamatkan. Yang selama ini dijadikan sebagai objek harus
diangkat dan disejajarkan posisinya dengan subjek hukum lainnya. AMM sebagai
salah satu elemen kepemudaan perlu memunculkan peran politik yang selama ini
terkurung dan terpenjara. Disini kita harus menjadi organisasi yang dapat
mempengaruhi kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat utamanya
generasi muda. Disamping itu, kiranya gerakan ini perlu memotivasi para generasi
muda agar berani mengeluarkan pendapatnya dan melibatkan para pemuda untuk memperjuangkan
hak-hak mereka yang belum terpenuhi.

Mengadaptasi dari DR. H. Haedar Nashir, M.Si (2007), ada
satu hal penting yang juga perlu disampaikan yaitu, “Bahwa AMM merupakan
gerakan Islam independen dan memiliki rumah sendiri yang tidak dapat dimasuki
gerakan lain siapapun gerakan itu. Jadi sudah selayaknya independensi seperti
itu dihargai oleh siapapun, lebih-lebih oleh sesama gerakan Islam.”

Artinya bahwa ortom-ortom yang tergabung dalam AMM, sebagaimana
organisasi induknya Muhammadiyah tidak berhubungan dengan organisasi politik
manapun secara hirarki, walau secara demokratis AMM juga harus membebaskan para
aktivisnya untuk menaiki kendaraan politik manapun. AMM tidak kemana-mana,
tetapi ada dimana-mana. Dengan catatan mereka tidak menyamakan, menghimpitkan, apalagi
simpatis mendukung paham organisasi politiknya kedalam gerakan dan pergerakan AMM
sehingga terjadi saling tumpang tindih dalam loyalitas.

Keempat, AMM sebagai gerakan kebudayaan. Pada tataran budaya, gerakan ini dituntut untuk mentradisikan budaya
kritis yang membebaskan dengan tetap terbingkai dengan nilai-nilai tauhid. AMM
harus mampu meghapus budaya konsumtif, hedonis dan ekspresi-ekspresi destruktif
kebanyakan pemuda. Dalam sisi ini, gerakan ini harus memelopori penghapusan
semboyan As Sukuutu kadz dzahab (diam itu laksana emas) dan menggantinya
dengan semboyan Qulil haqqo walau kaana murron (katakanlah kebenaran
meskipun pahit akibatnya). Gerakan ini sudah saatnya untuk membangun dan
mengembangkan seni dan budaya yang membebaskan dan mempunyai semangat
perlawanan terhadap kezaliman dan ketidakadilan. Karena sesungguhnya
nilai-nilai seni yang membebaskan tersebut sejalan dengan perjuangan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keluarkan apa saja yang ada di dalam
pikiran agar dapat diketahui dan sedapat mungkin bisa berpengaruh bagi
semuanya. Hal itu diantaranya dapat berupa karya sastra seperti puisi, cerpen,
novel, maupun musik dan film. Wallahu a’lam.
Referensi:
1.    Drs. H. Musthafa Kamal Pasha, B. Ed dan Drs. H. Ahmad Adabu Darban, SU.
2005. Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam. Yogyakarta. Citra Karsa
Mandiri.
2.    Mas Mulyadi dan Ridho Al Hamdi (ed.). 2005. Tanfidz Muktamar XV.
Yogyakarta. PP IRM

Ahmad Nasri,
(Anggota Bidang Kominfo PDPM Sukoharjo)