Merindukan Sosok Ustad Teladan

 
MERINDUKAN SOSOK USTAD TELADAN
Berita di Harian Pagi Radar Tasikmalaya edisi 24/10 pada halaman Tasikmalaya Metropolis tentang Bikers Brotherhood Mother Chapter (BB MC) yang akan menggelar Tablig Akbar di Masjid Agung Tasikmalaya pada tanggal 25 Oktober 2011, dengan menghadirkan Ustad Uje (Jefri Al_Bukhori) dan 16 Ustad ternama lainnya, menginspirasi penulis untuk menggoreskan sebuah tulisan dengan judul di atas. Sebuah judul yang biasa-biasa saja, tapi diharapkan bisa berefek luar biasa, terutama menjadi motivasi berharga bagi setiap orang yang menyebut dirinya ustad atau setiap orang yang sering dipanggil ustad.
Dalam bahasa Arab, kata ustad bermakna guru yang berjenis kelamin laki-laki, sedangkan yang perempuan disebut ustadah. Penyebutan ustad/ustadah lazimnya sering digunakan di lingkungan pesantren atau sekolah/madrasah yang berbasis pesantren. Sangat jarang para santri memanggil pimpinan pesantren dengan panggilan ustad/ustadah, yang sering adalah dengan panggilan Kiai atau Ajeungan. Para pengajar yang ditugaskan oleh Kiai untuk membantu proses pendidikan di pesantren terkadang disebut ustad/ustadah oleh para santrinya, bukan Kiai. Bahkan para pembimbing yang usianya masih muda dan bertugas untuk mengawasi keseharian kehidupan di pesantren sering dipanggil ustad/ustadah. Namun demikian, seiring dengan perkembangan jaman, sebutan tersebut ternyata telah merambah ke dunia luar pesantren. Kini seseorang yang sering tampil berceramah di radio, televisi, atau di depan umum juga mendapat sebutan ustad/ustadah. Sebuah sebutan yang sebenarnya sangat berat untuk disandang, sebab mereka harus menjadi sosok manusia teladan dan panutan umat, mesti menjadi manusia yang digugu dan ditiru.
Untuk menjadi seorang ustad bukanlah hanya mengandalkan kepiawaian retorika dakwah dalam bentuk ceramah, hanya mengandalkan ketampanan dan kecantikan rupa belaka, hanya mengutamakan keberanian tampil di depan umum semata, atau pula hanya mengandalkan ‘action’ kata dan gerakan badannya yang membuat hadirin tertawa. Akan tetapi lebih dari itu, seorang ustad adalah sosok dai yang ilmu agamanya luas dan tinggi, penguasaan dalil al-Qur’an dan haditsnya bagus. Yang terpenting dari itu semua adalah seorang ustad mampu menjadi teladan bagi para pendengarnya dan contoh yang patut ditiru bagi setiap orang yang melihatnya. Akhlak seorang ustad idealnya seperti akhlak panutan umat, Nabi Muhammad SAW. Allah berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Seorang ustad harus takut akan bahan ceramahnya yang justru menjadi senjata makan tuan. Ia mengajak orang lain berbuat baik padahal dirinya sendiri justru tidak melakukan kebaikan. Setiap orang yang berkata apalagi seseorang yang menerjunkan diri pada dunia ‘ceramah’, tentu harus selalu mengingat Firman Allah surat Ash-Shaff ayat 2 dan 3: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
Kehidupan seorang ustad tidaklah terkesan glamour, wah dan mewah, tidaklah ingin disanjung-sanjung bak selebriti, tidaklah ingin disorot-sorot kamera seperti para artis. Kehidupan ustad adalah kehidupan yang sederhana tapi bersahaja, hidupnya tidak sombong, mereka tawadu, rendah hati tinggi budi, bukan sebaliknya tinggi hati rendah budi, selalu tertanam dalam dirinya ketakutan yang luar biasa akan dipuja-puji oleh para penggemarnya. Motivasi seorang ustad senantiasa ikhlas (taujiihul ‘ibaadah libtighaai mardhaatillaah/yang dituju hanya keridhaan Allah). Yang diharap bukan ‘limpahan’ uang atau materi, bukan mengharap amplop dan oleh-oleh dari yang mengundangnya, bukan motivasi duniawi yang dicari, tapi justru motivasi ukhrawi. “Cause Allah is always by your side (Allah selalu di sisimu),” begitulah kata Maher Zain dalam syairnya yang berjudul Insya Allah. Firman Allah: “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam).” (QS. Al-An’am ayat 162)
Ustad adalah sang pencerah, artinya membuat hati para mustaminya tercerahkan, bukan malah membuat mustaminya menjadi marah atau melakukan tindakan brutal/anarkisme. Ustad memberi solusi terhadap masalah, bukan menambah masalah. Setiap olahan kata-katanya menusuk hati dan menjadi motivasi. Ustad memberi kabar gembira, bukan kabar buruk. Ustad sukses menghadirkan kedamaian dan ketenangan bagi umat, bukan malah memunculkan ketidaknyamanan dan keributan. Ustad yang sukses adalah manakala kehidupan umat yang mendengarkan dan memperhatikannya berubah ke arah kebaikan. Kesuksesan ustad juga ditandai dengan setiap kata-kata baiknya yang diucapkan dalam ceramahnya selalu ‘hadir’ dalam setiap gerak langkah kehidupannya.
Surat Al-An’am ayat 162 di atas, Surat Ali-Imran ayat 104 (Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung), dan surat An-Nahl ayat 125 (Serulah manusia kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmahdan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk), selalu menjadi sandaran dalam setiap dakwahnya.
Dengan demikian, semoga dengan kehadiran para ustad di tengah-tengah kehidupan kita menjadi semacam trigger (pemicu dan pemacu), khususnya bagi ustad sendiri dan umumnya bagi setiap insan, untuk hidup lebih baik lagi, kembali ke jalan Allah, dan sebagai penyemangat dan ghirah (spirit) untuk berlomba-lomba dalam kebajikan (ber-Fastabiqul Khairaat).
(Dimuat di Koran Radar Tasikmalaya)/tasikmalaya-kota.muhammadiyah.or.id

Ilam Maolani,S.Ag. M.Pd
PDM Kota Tasikmalaya