Membentuk Masyarakat Muslim Lewat Manhaj Dakwah Nabi

Persoalan umat Islam tampaknya memang tidak pernah selesai. Jangankan persoalan dengan orang-orang di luar Islam, persoalan internal saja masih sangat banyak yang harus diselesaikan. Kita menyadari bahwa di satu sisi mengurai persoalan ini dapat menjadi lahan kita untuk senantiasa bergerak meraih jannah, tetapi di sisi yang lain persoalan ini membuat kita bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan kita, umat Islam. Adakah sesuatu yang salah yang dilakukan umat Islam? Jika ya, pada aspek apa sehingga persoalan ini tampak semakin ruwet untuk diurai?
Persoalan baru yang kita hadapi, walaupun sebenarnya persoalan ini sudah ada sejak lama, adalah munculnya istilah “Salafi Wahabi” yang dipicu oleh terbitnya buku-buku karya Syekh Idahram yang menambah persoalan di kalangan internal umat Islam. Tulisan ini tidak bermaksud untuk membahas masalah yang berkaitan dengan istilah itu karena sudah jelas salahnya, tetapi hendak mencoba membahas salah satu aspek perjalanan dakwah Islam, yaitu manhaj dakwah.
Penulis berusaha untuk menyampaikan manhaj dakwah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam dan Nabi MuhammadShallallhu ‘Alaihi Wa Sallam untuk kita jadikan rujukan dalam berdakwah dengan harapan agar dapat mengurai berbagai persoalan yang kita hadapi. Mengapa tema ini yang kita ambil ? Karena kita menyaksikan banyak manhaj dakwah yang saat ini berjalan tidak sejalan dengan metode yang dicontohkan oleh para nabi kita, padahal Allah Tabaraka wa Ta’ala telah memberitahukan bahwa,

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Q.S.Yusuf : 111)
Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam adalah bapaknya para nabi dan pemimpin orang-orang bertauhid yang lurus. AllahTabaraka Wa Ta’ala memerintahkan pemuka para rasul dan penutup para nabi yakni Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam serta umatnya untuk mengikuti ajaran beliau, meneladani dakwahnya serta mengambil petunjuk dan manhajnya. Ini diperintahkan dalam Al Qur’an,

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif’ dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Q.S. An Nahl : 123)
“Katakanlah: ‘Benarlah (apa yang difirmankan) Allah’. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” (Q.S. Ali Imran : 95)
Kedua ayat di atas, Wallahu a’lam, jelas memerintahkan kita untuk mengikuti millah (agama) Nabi Ibrahim, termasuk manhaj beliau dalam berdakwah. Dakwah beliau adalah dakwah yang membara, kuat dan terpancar kepada Tauhidullah (mengesakan Allah Swt) dan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya serta membuang dan menolak segala macam bentuk
kemusyrikan.  Dakwah beliau adalah dakwah yang dimulai dari diri sendiri, keluarga dan baru kemudian menyebar kepada umat. Dakwah yang berjalan di atas jalan yang lurus, kokoh menghunjam ke dalam, rimbun dan tinggi menjulang ke atas. Sebagaimana  firman Allah Swt dalam Q.S. Al An’am : 74-79,

“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, ‘Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.’ “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” “Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: ‘Inilah Tuhanku,’ tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: ‘Saya tidak suka kepada yang tenggelam.’ “Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: ‘Inilah Tuhanku.’ Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: ‘Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.’ “Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: ‘Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar’. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: ‘Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.’ “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”
Dakwah Nabi Ibrahim as adalah dakwah untuk memahamkan umat tentang Rububiyah Allah Swt dan Uluhiyah-Nya agar mereka berjalan di atas kebenaran dengan menyembah hanya kepada-Nya semata. Dakwah yang memberikan peringatan keras  kepada setiap orang yang sombong dan congkak lagi berbuat lalim/aniaya baik dari kalangan rakyat maupun penguasa.
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: ‘Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,’ orang itu berkata: ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah dia dari barat,’ lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (Q.S. Al Baqarah : 258)
Dakwah Nabi Ibrahim as adalah dakwah yang memberantas tuntas segala macam kebudayaan dan faham-faham yang bertentangan dengan tauhid, meskipun kebudayaan itu telah berurat berakar di tengah-tengah masyarakat dari sejak nenek moyang mereka. Allah Swt menjelaskan dalam Q.S. Al Anbiya’ : 51-56,
“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?’ Mereka menjawab: ‘Kami mendapati bapak-bapak Kami menyembahnya.’ Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.’ Mereka menjawab: ‘Apakah kamu datang kepada Kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?’ Ibrahim berkata: ‘Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya. Dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.”
Melihat manhaj dakwah Nabi Ibrahim as yang demikian itu, maka kita dapat mengambil pelajaran bahwa manhaj dakwah yang benar adalah dakwah tidak dimulai dari hukum dan kekuasaan, dakwah juga tidak dimulai dari seni dan kebudayaan, dakwah  tidak dimulai dari memperbanyak amalan ibadah dan akhlak, akan tetapi dakwah dimulai dari penanaman aqidah tauhid yang kuat hingga merasuk ke dalam kalbu masing-masing individu, tertanam kuat dalam jiwa mereka sehingga tidak tergerus oleh berbagai iming-iming duniawi, godaan dan rayuan syetan berupa jin dan manusia.
Dakwah semacam ini telah terbukti sukses dan mendapatkan ridlo Allah Swt. Dalam periode sejarah berikutnya, yaitu terbentuknya masyarakat muslim yang sebenar-benarnya di kota Yatsrib yang kemudian dikenal dengan nama Madinah An-Nabawiyah.  Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya, juga tidak memulai dakwahnya dari hukum dan kekuasaan tetapi dengan menanamkan aqidah tauhid. Suatu saat, sebelum hijrah ke Madinah, beliau ditawari oleh seorang  Quraisy bernama Utbah bin Rabi’ah berbagai kemudahan termasuk jabatan dan kekuasaan bahkan juga ditawari wanita mana saja yang beliau kehendaki, tetapi beliau tidak menerimanya bahkan tetap kokoh berjalan di atas ajaran Tauhid.
Di kota Madinah An-Nabawiyah itu beliau membai’at (mengadakan janji setia) para sahabatnya di atas tauhid, sebagaimana diberitakan Al Qur’an surat Al Mumtahanah ayat 12, “Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, Maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali dalam bukunya “Minhajul Anbiya’ Fi Dakwati Ilallah Fiihil Hikmah Wal Aql,menyatakan bahwa meskipun ayat ini menjelaskan tentang bai’at para wanita, namun Rasulullah Saw juga membai’at kaum lelaki di atas kandungan ayat ini. Sebagaimana diriwayatkan dari ‘Ubadah bin As-Shamit r.a. dia berkata, “Dahulu Rasulullah Saw berada dalam suatu majelis, lalu beliau bersabda: ‘Berbai’atlah kalian kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, tidak mencuri, tidak berzina, dan tidak membunuh anak-anak kalian, dan berbai’atlah kepadaku atas ayat yang wanita diambil perjanjian  dengannya.’ (Q.S. Al Mumtahanah : 12). Barangsiapa yang menepati janji di antara kalian, Allah akan memberikan pahala kepadanya. Dan barangsiapa melakukan salah satu hal itu lalu dihukum (di dunia), maka itu merupakan kaffarat baginya. Dan barangsiapa melakukan salah satu hal itu lalu Allah menutupinya, maka urusannya kembali kepada Allah, jika berkehendak Allah akan mengampuninya dan jika berkehendak Allah akan mengadzabnya.”
Dakwah yang beliau (Nabi Muhammad Saw) lakukan adalah dakwah yang menjadikan seseorang benar-benar bertauhid kepada Allah Swt  sehingga tidak ada sesuatupun yang berhak disembah kecuali hanya Allah Swt. Orang yang mendapat dakwahnya akan menjadi  orang yang berkeyakinan kuat bahwa Allah Swt adalah Dzat yang menciptakan alam seisinya termasuk manusia. Dialah Dzat yang memberi rizki, yang mengatur dan memelihara kehidupan sehingga seluruh hak-hak hamba-Nya terpenuhi tanpa ada sesuatupun yang terluput dari-Nya. Mereka berkeyakinan kuat bahwa hidup ini cukup dengan pemberian Allah swt yang halal dan baik tanpa harus bersusah payah mencari yang haram apalagi mengupayakan dengan cara-cara yang dzalim karena mereka berkeyakinan bahwa negeri akhirat lebih utama dan kekal, mereka juga berkeyakinan kuat bahwa hanya Allah Swt sajalah tempat mereka berlindung dan menggantungkan segala urusannya tanpa harus merengek-rengek mencari perlindungan dan ketergantungan kepada makhluk Allah Swt yang menentang dan memusuhi syariat-Nya. Mereka berkeyakinan bahwa syari’at Allah Swt dan Rasul-Nya telah cukup sempurna dan paripurna untuk mengatur kehidupan tanpa harus mengada-adakan syariat baru.
Memahami realitas sejarah yang dilakukan kedua Nabiyullah Ibrahim as dan Muhammad Saw, maka patut kita menyampaikan nasehat Syekh Rabi’ sebagai berikut, “Bila orang-orang yang berakal melihat seekor macan yang siap menerkam dan sekelompok tikus yang menyerang mereka, mereka tentu akan serentak menangkis serangan macan. Mereka akan melupakan tikus-tikus itu walaupun bersamanya ada kelompok lain, misalnya katak. Bila perjalanan musafir terhenti di suatu jalan bercabang dan tidak ada pilihan lain bagi mereka; pertama, jalan yang di sana terdapat gunung berapi yang memuntahkan panas dan apinya, serta meluluhlantakkan pepohonan dan bebatuan, dan yang kedua,  jalan yang disana terdapat duri, padang pasir yang panas membakar dan panas matahari yang menyengat. Niscaya akal mereka tidak akan memilih kecuali jalan yang kedua. Sekarang kita mengambil contoh yang lebih rusak –yang saya maksud adalah kerusakan-kerusakan politik, sosial dan ekonomi– dan yang paling parah di antaranya adalah kerusakan hukum, untuk kita bandingkan dengan kerusakan aqidah. Apakah keduanya sama dalam timbangan Allah Swt dan timbangan para nabi? Ataukah salah satunya lebih berbahaya, lebih celaka dan lebih pahit akibatnya? Dalam timbangan Allah dan timbangan para NabiNya, yang lebih berbahaya dan lebih pantas untuk berkonsentrasi terhadapnya sepanjang masa dan zaman serta dalam setiap risalah adalah syirik berikut fenomenanya. Dimana tidak ada kerusakan yang sebanding dengannya, sebesar apapun kerusakan itu. Berdasarkan hal ini, kita kembali dan mengatakan: Sesungguhnya permulaan dakwah seluruh nabi (adalah) dengan memperbaiki sisi aqidah dan memerangi syirik serta fenomenanya, merupakan konsekuensi hikmah dan akal.”
Demikianlah nasehat syeikh Rabi’, oleh karena itu marilah kita kembali mengkaji secara sungguh-sungguh bagaimana Nabi Ibrahim as dan Nabi Muhammad Saw melakukan dakwahnya sehingga kita faham betul dan mencontohnya untuk diri kita pribadi, keluarga kita dan masyarakat pada umumnya.  Kita hindarkan diri kita, keluarga dan masyarakat kita dari segala macam bentuk kemusyrikan dan semua fenomena yang melingkupinya agar Allah Swt segera menolong kita dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa dan umat ini. Semoga Allah Swt senantiasa meridhai terhadap apa yang kita lakukan. [ ]
Drs. Makmun Pitoyo, M.Pd.
Kepala MA (Pondok Pesantren) Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung