LAZISMU: Lensa Pandang Kurban Pak Kumis di 100 Titik Distribusi

Apakah
Anda bimbang menyiapkan hewan kurban yang akan disembelih saat hari raya kurban
nanti? Dan akan disalurkan ke mana nanti agar tepat sasaran? Singkirkan rasa
bimbang itu karena pada tahun 1434 H ini LAZISMU menyuguhkan Kurban Pak Kumis. Suatu program
penghimpunan dan penyaluran hewan kurban yang akan digelar di 100 titik
distribusi bersama 80 jejaring yang tersebar di seluruh Indonesia.
Perhelatan
akbar ini tentu bukan untuk meramaikan lebaran haji, namun untuk memberikan
alternatif pilihan berkurban berdasarkan perintah agama sesuai dengan sasaran
yang telah diprioritaskan. Memang secara umum daging kurban yang disembelih
disalurkan kepada penerima manfaat. Hanya saja problemnya adalah distibusi
kurban yang ada berpotensi tidak merata. Kebanyakan hewan kurban tersebut
dikemas dan terkonsentrasi di wilayah tertentu.  
Melihat
fenomena itu, Nanang El-Ghazal selaku Direktur Fundraising LAZISMU menuturkan
bahwa “dari sisi permintaan ada kenaikan tiap tahunnya, dan ada hewan yang
disembelih. Selebihnya, distribusi hewan kurban tersebut masih terkonsentrasi
di kota-kota besar atau wilayah tertentu, ungkapnya.
Nanang
menambahkan dalam konteks ini perlu tafsir ulang terkait problema penyaluran
hewan kurban. Kendati dalam alam modern penyaluran, praktiknya yang terjadi dengan
pendekatan distribusi klasikal sehingga cenderung tidak merata. Padahal dalam
penyaluran hewan kurban juga terkait dengan peta kemiskinan yang terus berubah
secara geografis di Indonesia. Seperti daerah pedalaman, padat penduduk, kumuh
dan kantong-kantong kemiskinan misalnya, jelas Nanang.           

Program Kurban Pak kumis memang memiliki konsep tersendiri dalam hal distribusi.
Menurut Direktur Utama LAZISMU, M. Khoirul Muttaqin mengatakan bahwa pihaknya
memiliki layanan Kurban Pak Kumis yang memang didedikasikan khusus untuk
membantu para pekurban dalam memberikan kemudahan berkurban dari sisi layanan.
Namun Khoirul  menekankan bahwa pada
dasarnya banyak pekurban yang menghadapi dilema akan didistribusikan kemana,
karena di kota-kota besar sudah menumpuk, katanya, melihat pengalaman yang
lalu.
Karena
itu, selain lokasi bencana alam dan kemanusiaan, LAZISMU dalam mendistribusikan
hewan kurban menggunakan Pak Kumis sebagai lensa pandangnya. Suatu pendekatan
distribusi hewan kurban yang memprioritaskan kawasan pelosok dan pinggiran yang
sulit dijangkau, tandas Khoirul.
Tatang
Rukhyat selaku Koordinator Kurban Pak Kumis mengatakan, jika dipertajam
distribusi ini memadukan konsep berkurban aktual (modern) dan blusukan ke
perkampungan kumuh, padat penduduk dan kantong-kantong kemiskinan yang ada di
kota atau desa. Tak dinyana jika nanti dalam proses penyalurannya LAZISMU
menggandeng komunitas offroad yang
dibalut kegiatan Adventure for Humanity sehingga
daging segar dapat diterima oleh orang yang membutuhkan tanpa tertunda
waktunya, Ditambah lagi dengan kegiatan santunan berupa penyerahan paket
bantuan sekolah, perlengakapan ibadah serta sembako untuk kebutuhan hari raya,
tuturnya.

Tentu saja peluang dan tantangan ini tidak bisa
diabaikan, termasuk oleh segenap jejaring LAZISMU yang tersebar di tanah air.
Pak Kumis menjadi penting dipertimbangkan, karena bersama-sama dengan Anda agar
bisa menyelesaikan persoalan distribusi kurban dengan lebih baik. (LAZISMU)