Hadits Aplikasi

Kesempurnaan
kajian hadits tentunya dengan menindaklanjuti hadits-hadits aplikasinya. Karena
mustahil Nabi Muhammad saw. hanya pintar memberikan intruksi, tanpa memberikan
contoh. Oleh sebab itu setiap muncul hadits intruksi, tentunya harus
disempurnakan pemahaman hadits aplikasinya.

Berikut ini
penulis paparkan hadits aplikasi bacaan shalawat Nabi saw. Shalawat bentuk
plural dari kata shalat, menurut arti bahasanya adalah do’a, rahmat, istighfar
(ampunan), dan pujian Tuhan terhadap Rasul-Nya.[1] Ibn Qayyim (nama lengkapnya adalah Muhammad
ibn Abu Bakar Syamsuddin Abu Abdullah ibn Qayyim al-Jauziyah) dalam bukunya Jala’
al-Afham …
menjelaskan bahwa makna shalawat mengacu pada dua perkara, yaitu
pertama berarti do’a dan keberkatan, dan kedua berarti ibadah.[2]
Dengan
demikian makna shalawat Nabi adalah mendo’akan Nabi Muhammad saw. Dalam hal ini
telah ditemukan intruksi baik dalam Al-Qur’an maupun hadits Nabawi agar umat
Islam selalu membacakan shalawat untuk Nabi saw. Sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya
Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang
beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan
kepadanya”.[3]
Hadits Nabi
saw.:
عَنْ اَبِى
هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: اِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
Dinarasikan
Abu Hurairah ra., Nabi saw. bersabda: Barangsiapa membacakan sekali shalawat
buat saya, maka Allah melipatgandakan sepuluh kalinya”.[4]
B. 
Hadits Aplikasi
Dari hasil
penelitian ditemukan hadits-hadits aplikasi bagaimana Nabi saw. memberikan
bimbingan kepada umat cara membacakan shalawat untuk Nabi saw. Inti hadits
aplikasi bacaan shalawat Nabi telah diriwayatkan oleh Ka’ab ibn Ujrah ra.:
عَنْ كَعْبِ
بْنِ عَجْرَةَ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ (اِنَّ اللهَ وَ
مَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِىِّ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا
صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا) قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ قَدْ
عَلِمْنَا السَّلاَمَ عَلَيْكَ، فَكَيْفَ الصَّلاَةَ؟. قَالَ: قُوْلُوْا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ
عَلَى اِبْرَاهِيْمَ، وَ آلِ اِبْرَاهِيْمَ، اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَ
بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ وَ صَلَّيْتَ
عَلَى اِبْرَاهِيْمَ، وَ آلِ اِبْرَاهِيْمَ، اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
   
Ka’ab ibn Ajrah ra. berkata: “Ketika turun firman Allah swt.: Sesungguhnya
Allah dan Malaikat-Nya membacakan shalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang
beriman bacakanlah shalawat untuk dia dan ucapkanlah salam penghormatan”.[5] Para shahabat berkata: Wahai Nabi, kami sudah
mengetahui bacaan salam untuk Tuan, maka bagaimana kami membacakan shalawat
untuk Tuan? Nabi saw. membimbing mereka: Ucapkanlah Allahumma shalli ‘ala
Muhammad … (ya Allah, limpahkanlah kesejahteraan kepada Muhammad dan keluarga
Muhammad sebagaimana Engkau melimpahkan kesejahteraan kepada Ibrahim dan
keluarganya).[6]
Hadis
instruksi membacakan shalawat bukan hanya ditujukan kepada pribadi Nabi
Muhammad saw., melainkan juga kepada para Rasul lain, khususnya Nabi Ibrahim
as. sehingga umat mengenal istilah shalawat al-Ibrahimiah.
C. 
Penutup
Shalawat
al-ma’tsur artinya bacaan shalawat yang memang dapat dibuktikan benar-benar
merupakan bimbingfan Rasulullah saw. kepada umatnya. Penulis telah mendapatkan
sejumlah delapan belas macam bacaan shalawat yang pernah diajarkan oleh
Rasulullah saw. kepada umatnya, ada yang sederhana dan ada juga yang panjang.
Semua itu diserahkan kepada umat untuk memilih contoh-contoh yang menjadi
kemampuannya dalam bershalawat. Sekiranya sudah begitu lengkap dan sempurna
bimbingan Rasulullah saw. dalam membacakan shalawat untuk beliau, kenapa umat
Islam justru ada yang memilih beragam shalawat yang diproduk manusia biasa.
Semoga wujud kecintaaan kita kepada Nabi saw. menjadikan kita lebih memilih
bacaan shalawat yang al-ma’tsur daripada bacaan shalawat rekayasa umat.

[1] Al-Qamus, materi shalawa.
[2] Ibn Qayyim (nama lengkapnya adalah Muhammad ibn
Abu Bakar Syamsuddin Abu Abdullah ibn Qayyim al-Jauziyah) dalam bukunya Jala’
al-Afham …
Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1972, p. 81.
[3] Qs. Al-Ahzab: 56.
[4] Hr. Ismail ibn Ishak al-Qadhi, Fadhl
al-Shalat
…, (Beirut: Al-Maktab al-Islami, 1977), p. 26.
Nashiruddin: Sanad (mata rantai perawi) hadis ini shahih, semua perawinya
adalah perawi kodifikasi shahih.
[5] QS. Al-Ahzab: 56.
[6] Hr. Ismail ibn Ishak al-Qadhi, Fadhl
al-Shalat
…, (Beirut: Al-Maktab al-Islami, 1977), p. 54. Sanad (mata
ranai perawi) hadis: Husyaim dari Yazid ibn Abi Ziyad dari Abdurrahman ibn Abi
Laila dari Ka’ab ibn Ajrah ra. Nashiruddin: Sanad hadis ini lemah, Yazid ibn
Abi Ziyad al-Qurasyi al-Hasyimi al-Kufi dinilai lemah dalam aspek hafalannya.
Penulis : Dr. H.
Zainuddin MZ, Lc. MA. / Pimpinan Majelis Tarjih PWM Jawa Timur (Dosen Tafsir
Hadits Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya)
Blog:
konsorsiumhadis.wordpress.com