4 Model Orang Ber-Muhammadiyah (Sebuah Otokritik)

Mengetahui
apa Muhammadiyah dan siapa kiyai Dahlan bagi warga Muhammadiyah adalah bukan
sesuatu yang sulit. Tetapi hal itu akan menjadi sulit dan kompleks ketika
mereka (warga Muhammadiyah) ditanya apa motif sebenarnya seseorang
ber-Muhammadiyah ? Sebagaimana isi wasiat sang pencerah : “ Hidup-hidupilah
Muhammadiyah, jangan mencari penghidupan didalamnya
 “.
Sebelum
melangkah lebih jauh ada baiknya penulis ketengahkan terlebih dahulu pengertian
Motif. Dalam bukunya yang berjudul “Psikologi Sosial” halaman 140 DR. W.
A. Gerungan menyimpulkan bahwa ‘Motif itu merupakan suatu pengertian yang
melingkupi semua penggerak alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri
manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu. Singkatnya
semua tingkah laku manusia pada hakikatnya mempunyai motif.
Berdasarkan
pengamatan penulis di lapangan sedikitnya ada 4 motif (alasan) mengapa orang
tertarik dan ingin menjadi anggota Muhammadiyah.
MOTIF
PERTAMA
Adalah ia
ingin mencari penghidupan dengan jalan menginfakkan tenaga dan pikiran di
perguruan – perguruan Muhammadiyah. Misalnya menjadi guru, dosen atau tenaga
non pendidikan. Dengan demikian ia bisa melangsungkan hajat hidupnya tanpa
terbebani oleh hal-hal lain di luar profesinya – pokoknya saya mengajar
kemudian dapat upah titik – soal-soal lainnya itu urusan pengurus Muhammadiyah
setempat. Dengan lain perkataan ia ber-Muhammadiyah ibarat numpang makan, minum
dan tidur. Secara sosiopsikologis keterlibatannya ia ber-Muhammadiyah bermotif
biogenetis
.
Sedikitkah
jumlah mereka ? Sangat banyak jumlahnya, saking banyaknya penulis tidak mampu
menghitungnya. Kalau tidak percaya silahkan pembaca menghitung sendiri.
Mudah-mudahan Anda sendiri tidak termasuk kelompok ini.
MOTIF
KE-DUA
Orang
tertarik Muhammdiyah dan ingin menjadi anggota bahkan rela menjadi pengurus,
karena hal tersebut dianggap sebagai batu loncatan yang efektif guna menggapai
sesuatu yang lebih baik. Setidaknya untuk menjaga image (citra diri) di
masyarakat.
Misalnya
seorang mantan pejabat, tokoh masyarakat atau orang terpandang di komunitas
tertentu, rasanya akan lebih dihormati manakala ia bergabung dan aktif di
setiap kegiatan yang ada di ormas tersebut, bila perlu ia rela mengorbankan
waktu dan hartanya, demi cita-citanya. Dengan demikian nama beliau akan mudah dikenal
oleh masyarakat tidak terkecuali warga ormas itu sendiri. Dengan modal
popularitas dan finansial yang dimilikinya bukan hal yang sulit baginya untuk
menggunakan momen-momen itu dijadikan jembatan meraih keuntungan yang lebih
besar, misalnya mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Dengan
logika kaum pedagang pada umumnya pengorbanan yang ia keluarkan harus
memperoleh ganti yaitu dukungan “suara” atas namanya. Bila ternyata ia terpilih
menjadi anggota Dewan yang “terhormat” jelas kesejahteraan hidupnya terjamin.
Namun sayang seiring berjalannya waktu terkadang sang anggota dewan terjebak
oleh kesibukan dan mulai melupakan nama ormas dan anggotanya yang dulu
pendukung setianya. Dengan kata lain motif anggota dewan tersebut dapat diibaratkan
seperti numpang lewat artinya ia jadikan ormas sebagai kendaraan politik demi
ambisinya. Secara sosiologis motif ber-Muhammadiyah orang tersebut
termasuk bermotif sosiogenetis.
Jumlah
kelompok yang kedua ini tidak terlalu banyak, tetapi dampak politis dan
psikologisnya lebih dahsyat dibanding dengan kelompok yang pertama. Mengapa ?,
Karena mereka ini tergolong elit dan mempunyai kekuasaan. Bila mereka tidak
bisa menjalankan amanat rakyat yang diembannya bisa-bisa nama Persyarikatan
menjadi rusak dan menyisakan rasa kecewa yang berkelanjutan.
MOTIF
KE-TIGA
Mengapa
seseorang tertarik terhadap Muhammadiyah tanpa harus menjadi anggota resmi
Muhammadiyah alias ia hanya sebagai anggota simpatisan. Keberadaannya di
Muhammadiyah hanyalah pelengkap kalau tidak mau dibilang penggembira. Namun
demikian kesungguhannya dalam mengikuti kegiatan Muhammadiyah tidak perlu
diragukan : ia rajin ikut sholat berjama’ah, rela menjadi donatur tetap dan
tidak keberatan bila diminta datang ke tempat-tempat pengajian, tetapi dia
menolak untuk didaftar sebagai anggota resmi apalagi untuk dicalonkan menjadi
pengurus. Baginya ia bergaul dan bergabung dengan warga Muhammadiyah bukan
untuk mengejar popularitas atau yang lainnya. Keber-Muhammadiyahan-nya lebih
didorong oleh rasa simpatiknya terhadap ormas tersebut. Karena menurutnya
Muhammadiyah adalah satu dari dua ormas Islam terbesar di Indonesia yang
menaruh perhatian besar pada rakyat yang tidak berdaya baik secara ekonomis
maupun edukatif. Jadi boleh dikatakan bahwa motif orang ini ber-Muhammadiyah
bisa diibaratkan numpang Surga.
Banyakkah
orang yang bermuhammadiyah model seperti ini? Jawabnya tentu banyak. Namun
sulit dipastikan karena di samping mereka juga tidak ber-KTA mereka tidak mau
tampil secara terang-terangan di muka umum alias ada di belakang layar.
MOTIF
KE-EMPAT
Mengapa
orang tertarik dan ingin ber-Muhammadiyah karena ia yakin dengan
ber-Muhammadiyah hidupnya tidak akan sia-sia dunia akherat. Baginya
ber-Muhammadiyah itu harus berani berkorban tanpa disisipi oleh
keinginan-keinginan lain. Ia benar-benar menginfakkan harta, tenaga dan
waktunya serta pikiran demi tegaknya Syariat Allah (Islam) lewat ormas yang ia
ikuti dan ia bersedia untuk dicalonkan menjadi pengurus inti bahkan Ketua Ormas
tersebut ditempat ia tinggal tanpa reserve. Dalam bahasa agama ia
ber-Muhammadiyah secara lilla hi ta’ala. Dengan kata lain motif
ber-Muhammadiyah orang ini ibarat Titip Amal atau bahasa ilmiahnya bermotif
teogenetis
.
Banyak
atau sedikitkah jumlah mereka? Amat sedikit, Saking sedikitnya penulis cukup
mengangkat jari tangan kiri atau kanan, tidak lebih dari itu jumlahnya di
setiap Ranting atau Cabang dimana Muhammadiyah berada.
Dari
Keempat motif (alasan) di atas mana yang sesuai dengan wasiat Kiai Dahlan ?
(okjck)