Hubungan Lahirnya Muhammadiyah dan Kristenisasi

Drs. Abu Deedat 
Syihab.MH

Ketua Majelis Tabligh  PDM-Kota Bekasi
Direktur Pustaka Tazkia Az-Zahra
Wk Ketua KDK-MUI Pusat
Ketua Bid.Pemantau Aliran
sesat/Pemurtadan MUI-Kota Bekasi

Kristenisasi  bukanlah 
isue melainkan  pakta  dan realitas , sebagaimana  baru-baru ini. Pimpinan Daerah Muhammadiyah
Kota Bekasi,  pada hari Kamis,  07 Juli 
2011 mendapatkan kiriman  2 ( dua
) kerdus Injil   sebanyak  150 Examplar dari  Lembaga Misi Kristen Internasional yaitu THE GIDEONS INTERNATIONAL, yang merupakan perhimpunan dari kalangan
pengusaha  dan profesional Kristen,  yang 
saat ini tergabung bersama di lebih dari 180 negara untuk persekutuan
dan pelayanan.   Perhimpunan ini bertujuan  memperkenalkan  Injil kristus 
kepada semua  orang, sehingga
akhirnya secara pribadi, mereka mengenal Tuhan Yesus Kristus  sebagai Juru selamat.
Apa yang dilakukan
oleh lembaga Kristen ini : 
pertama
sudah melakukan pelanggaran / tidak mematuhi 
terhadap  kode etik penyiaran
Agama : SK Menag No.70/thn 1978. 
Kedua,  adalah sebagai bukti  bahwa 
kristenisasi  itu bukanlah isue,
bukti ini  sebagai  jawaban untuk 
Pastor Situmorang yang ingin menghapuskan dan menolak istilah
kristenisasi.
·        
Latar 
belakang   Berdirinya Muhammadiyah     
     
Bagi Muhammadiyah  sebagai  Ormas Islam 
yang tertua di Indonesia 
masalah  kristenisasi  bukanlah 
barang baru, karena  lahirnya  Muhammadiyah 
justru  salah satunya  untuk melakukan  perlawanan 
terhadap gerakan  kristeniasi. Kelahiran
Muhammadiyah tidak lain karena diilhami, dimotivasi dan disemangati oleh
ajaran-ajaran Al Qur’an. Dan apa yang digerakkan oleh Muhammadiyah tidak ada
motif lain kecuali semata-mata untuk merealisasikan prinsip-prinsip ajaran Islam
dalam kehidupan yang riil dan konkrit. Muhammadiyah adalah Gerakan Islam,
Dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan  Tajdid yang  bersumber pada
Al-Qur”an dan As Sunnah.
Gerakan Muhammadiyah hendak
berusaha untuk menampilkan wajah Islam dalam wujud yang riil, konkrit dan
nyata, yang dapat dihayati, dirasakan dan dinikmati oleh umat sebagai rahmatan
lil alamin. Oleh Alasan tersebut Muhammadiyah disebut sebagai gerakan Islam.  Muhammadiyah juga memiliki identitas sebagai
gerakan Dakwah maksudnya adalah Muhammadiyah meletakkan khittah atau strategi
dasar perjuangannya yaitu dakwah Islam, amar ma’ruf nahi munkar
dengan
masyarakat sebagai medan atau kancah perjuangannya. Muhamadiyah
berkiprah di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia dengan membangun
berbagai amal usaha yang benar-benar dapat menyentuh hajat hidup orang banyak
seperti berbagai macam ragam lembaga pendidikan mulai dari tingkat TK sampai
Perguruan Tinggi, membangun Rumah Sakit, Panti Asuhan dan sebagainya. Dua
amal usaha Muhammadiyah ini dalam rangka melakukan perlawanan terhadap gerakan
misi kristen lewat pendidikan dan
kesehatan.
 Seluruh amal usaha
Muhammadiyah itu merupakan manifestasi atau perwujudan dakwah
islamiyah. 
Semua amal usaha
diadakan dengan niat dan tujuan yang tunggal,
yaitu untuk dijadikan sarana dan wahana
dakwah Islam sebagaimana yang diajarkan   al-Quran dan  as-Sunnah Shahihah
.
Misi didirikannya Muhammadiyah adalah dalam rangka
membendung gerakan Kristenisasi

Dalam
desertasi di Temple University (1995) berjudul The Muhammadiyah Movement and
Its Controversy with Christian Mission in Indonesia,
Alwi Shihab
mengungkapkan, misi awal pendirian Muhammadiyah oleh KH Ahmad Dahlan adalah
dalam rangka membendung arus gencar Kristenisasi yang ditopang oleh kebijakan
kolonial pemerintah Belanda.

Tiga tahun kemudian desertasi ini diterbitkan oleh penerbit
Mizan Bandung dengan judul buku Membendung Arus: Respons Muhammadiyah
terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia
.  Fakta-fakta
kegigihan Muhammadiyah di era KH Ahmad Dahlan dalam berdakwah kepada para tokoh
Kristen dan Katolik diabadikan dalam buku Muhammadiyah Setengah Abad: Makin
Lama Makin Tjinta (1912-1962)
.   
Pada halaman 145-151 buku dokumenter ini diceritakan aktivitas
KH Ahmad Dahlan kepada para pastor, antara lain: van Lith, van Driesse, Domine
Bakker, dan Dr Laberton.    Pertemuan
dengan van Lith hanya berlangsung sekali, karena tak lama setelah dialog, van
Lith meninggal. Dialog dengan van Driesse dilakukan di rumah M Joyo Sumarto
(mertua M.M. Joyodiguno). Pertemuan ini
pun hanya berlangsung sekali, karena sikap Driesse sangat kasar sehingga tidak
bisa diajak berdialog mengenai soal-soal agama maupun ketuhanan. Pertemuan dengan
Domine Bakker diadakan di Jetis beberapa kali. Karena pembicaraan Domine
berbelit-belit dan tidak mau mengakui kekalahannya, akhirnya Dahlan mengajukan
tantangan: “Marilah kita sama-sama
keluar dari agama, kemudian mencari, menyelidiki, agama mana yang benar. 
Kalau ternyata kemudian agama Protestanlah yang benar, saya bersedia
masuk agama Protestan. Akan tetapi sebaliknya, apabila Islam yang benar, Domine
pun harus mau pula masuk agama Islam.” Dalam beberapa kali debat agama ini, Domine ditemani oleh dua orang
pengikut dari Klaten. Atas hidayah Ilahi, dua orang pengikut Domine akhirnya
masuk Islam setelah mendengar dakwah Ahmad Dahlan.
Suatu ketika Dahlan mendengar berita bahwa Samuel Zwemmer berkunjung ke Indonesia dan berkhotbah di
beberapa gereja, antara lain di Banjarmasin, Makassar, Surabaya dan Yogyakarta. Isi khotbahnya
umumnya banyak sekali yang menghina agama Islam. Maka Dahlan
mempersiapkan acara sambutan di Yogyakarta dengan mengadakan dialog openbaar
(pengajian umum) di Ngampilan. Dalam rapat umum ini Zwemmer diundang untuk
mendengarkan ceramah Dahlan, dan juga diberi kesempatan untuk berorasi
menerangkan sekitar agamanya. Selanjutnya, ia
diminta kesediaannya untuk menjawab pertanyaan dari para hadirin. Karena Zwemmer tak berani datang, maka Dahlan
tampil sebagai pembicara tunggal. Berita ini ditangkap oleh Ki Hajar Dewantoro dalam surat kabar Darmo
Kondo
di Solo dengan komentar “Dr.
Zwemmer tidak mampu menghadapi KH Ahmad Dahlan.”

Pasca Ahmad Dahlan,
Muhammadiyah masih mengamalkan prinsip asyidda`u ‘alal kuffar.
•         KH AR Fachruddin, Ketua Muhammadiyah
terlama  (1968-1990
) menegaskan prinsip kemandirian beramal usaha
dan ikhlasnya berjuang.

Semasa hidupnya, tokoh karismatik yang akrab dipanggil Pak
AR ini memberikan wasiat kepada kader
persyarikatan agar berpantang terhadap dana-dana yang tidak berkah. Di antara
dana yang dilarang adalah dana judi, dana dari negara asing, Kristen dan
komunis.
 Pak AR berpesan:
“Janganlah Cabang
Muhammadiyah mendirikan bangunan-bangunan hanya mengharapkan bantuan Pemerintah. Lebih-lebih lagi
mengharapkan bantuan uang keuntungan lotre dari Yayasan Dana Bantuan. Dan lebih
tidak pantas lagi kalau mengharapkan bantuan dari negeri asing, dari
negara-negara Kristen, dari negara-negara komunis. 
Uang-uang yang
demikian tidak akan memberi berkah, malah akan membawa tidak baik. 
Dari itu
gembirakanlah anggota-anggota Muhammadiyah agar suka beramal, suka berderma,
suka beramal jariyah suka berwakaf. Insya Allah Cabang
di tempat Saudara akan diberi berkah langsung oleh Allah SWT” (Mengenal dan
Menjadi Muhammadiyah, UMM Press, Malang, hlm. 141).


Semoga  Kita  dapat 
mengambil  pelajaran  dan  Seharusnya
 warga persyarikatan belajar militansi
kepada para pendahulu.  Dan ini  juga menjadi pelajaran  bagi kaum muslimin  untuk 
mandiri  tidak  ketergantungan  negara 
Barat Kristen, karena  nanti  akan 
dijadikan  budak  mereka.
Pendirian Gereja & Misi Penginjilan

Akhir-akhir ini di Indonesia sering terjadi gesekkan
antar umat beragama khususnya kaum kristen dengan penduduk setempat. Salah satu
pemicunya adalah adanya agresivitas penginjilan yang dilakukan para misionaris
kristen  yang tidak mematuhi peraturan
Pemerintah tentang Kode etik penyiaran agama dan Pendirian rumah ibadah, yaitu
SK Menag No 70/thn 1978 dan Peraturan Bersama Menag & Mendagri No.9 dan 8
Thn 2006. Penulis sering menghadiri
pertemuan antar Umat beragama yang dihadiri oleh Majelis-majelis agama (
Islam,Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan Konghucu ). Perwakilan Budha, Hindu dan Konghucu terhadap
peraturan-peraturan tersebut  tidak ada
masalah, bahkan perwakilan dari agama Budha pernah menyampaikan keluhan yang
disampaikan kepada penulis bahwa kami juga merasa resah karena umat kami banyak
diambilin sama teman-teman kristiani. Untuk mengetahui akar permasalahan gesekkan tersebut,
mari kita lihat komentar tokoh-tokoh kristen di Indonesia dalam pendirian
gereja dan misi penginjilan. Apa sebenarnya misi dan tujuan suatu gereja
didirikan? 
Dalam buku “ Bergerak Dalam Misi dan Penginjilan
“karangan Niko Njotorahardjo yang diterbitkan Yayasan Andi Jogyakarta halaman
85 menyebutkan sebagai berikut :
Penginjilan dengan Membuka Gereja Baru”. 
Dr.C Peter Wagner dalam bukunya “ Penanaman Gereja untuk tuaian yang lebih besar “menyatakan “ satu-satunya metodologi Penginjilan yang paling
efektif   dibawah kolong langit ini
adalah menanam gereja-gereja baru “ hal 86.  
Gereja-gereja di Indonesia yang 
bertumbuh dengan cepat karena banyak membuka gereja baru adalah Gereja
Pantekosta di Indonesia ( GPDI ), Gereja Pantekosta Pusat Surabaya ( GPPS ) dan
Gereja Bethel Indonesia ( GBI ), hal 90. Dean Wiebracht dalam bukunya “ The world Beyond Your
Walls “ edisi Indonesia  berjudul “Menajawab Tantangan Amanat Agung
diterbitkan Yayasan ANDI Yogyakarta tahun 1997.; Pedoman untuk Memobilisasi Gereja
anda dalam Pekerjaan Misi.
Sebuah gereja yang sungguh-sungguh mengemban mandat untuk memuridkan (pen.mengkristenkan
) segala bangsa
. Sebuah gereja Amanat Agung menyadari bahwa penginjilan
dunia bukan sekedar satu diantara banyak program gereja.  Penginjilan
dunia adalah sentral keberadaan gereja
(hal 50). Karena sebuah gereja amanat agung dengan
sungguh-sungguh memuridkan segala bangsa, gereja menggerakkan sumber-sumber
dayanya dalam penginjilan dunia. Sebuah
gereja secara aktif berusaha menggandakan misionaris
. Gereja ini
melakukan apa yang dapat dilakukan untuk 
melihat lebih banyak pekerja di ladang tuaian.(hal 52 ).
Dihalaman 55 Fungsi Gereja didirikan sebagai berikut
;


1. Gereja kami
dengan sungguh-sungguh mengemban
mandat untuk memuridkan segala bangsa
.

2. Gereja kami
menggerakan sumber daya dalam penggenapan amanat agung, kami tempatkan diatas penginjilan dunia.
3. Gereja kami
secara aktif menarik, melatih,
mengutus,  dan mendukung misionaris
.
4. Gereja kami
menjadi tempat bagi mereka yang pergi dan mereka yang bekerja sama untuk untuk menjangkau mereka yang belum
terjangkau.

Tahun 1964, tokoh Kristen Batak, Dr. Walter Bonar
Sidjabat, menerbitkan buku
berjudul Panggilan Kita di Indonesia Dewasa Ini
(Jakarta:Badan Penerbit
Kristen, 1964). Melalui bukunya ini, Dr. Sidjabat menegaskan misi sejati
kehadiran Kristen dan Gereja-gereja mereka di seluruh pelosok Indonesia.
Dalam pengantar bukunya, ia menulis:

“Kita terpanggil untuk mengikrarkan iman kita di daerah-daerah berpenduduk
berambut keriting, berombak-ombak dan lurus-lurus, di tengah penduduk berkulit
coklat, coklat tua, kuning langsat dan sebagainya. Guna penuaian panggilan
inilah gereja-gereja kita berserak-serak di seluruh penjuru Nusantara agar
rakyat
yang “bhineka tunggal ika”, yang terdiri dari penganut berbagai
agama dan ideologi dapat mengenal dan mengikuti Yesus Kristus
”.(Kutipan-kutipan
dari buku Dr.Sidjabat)

Bahwa kehadiran sebuah gereja bagi kaum Kristen
bukanlah sekedar persoalan “kebebasan beribadah” atau “kebebasan beragama”.
Banyak
kalangan Muslim dan mungkin juga kaum Kristen sendiri yang tidak paham akan
eksistensi sebuah gereja. Bahwa, menurut kaum Kristen, pendirian sebuah
gereja bukan sekedar pendirian sebuah tempat ibadah, tetapi juga bagian dari
sebuah pekerjaan Misi Kristen; agar masyarakat di sekitarnya “mengenal dan
mengikuti Yesus Kristus
”. dikatakan dalam buku ini:

Di atas Gereja terletak tugas pekabaran Injil. Pekabaran Injil adalah
dinamis. Secara dinamis Gereja bertanggung jawab akan pekabaran Injil ke
dalam, kepada orang-orang yang telah menjadi anggota-anggota tubuh Kristus
(“ecclesia”) dan keluar, kepada orang-orang yang sedang menunggu, mengabaikan,
menolak atau tidak acuh terhadap Yesus sebagai Juruselamat mereka.” (hal. 41).


Sementara itu, bagi kaum Muslim yang sadar akan
keislamannya, persoalan misi Kristen, bukanlah masalah sepele. Orang yang
berganti agama, keluar dari agama Islam, dalam pandangan Islam disebut orang
yang murtad dan kafir. Amal perbuatan mereka tidak diterima oleh Allah. (QS
2:217, 24:39).

Al-Quran juga menegaskan, bahwa Allah SWT sangat murka jika dikatakan Dia
mempunyai anak. (QS 19:88-91). Dan orang-orang yang menyatakan bahwa Allah
adalah salah satu dari tiga oknum, maka orang itu disebut telah kafir (QS
5:72-75).



Cahaya suku & Partner
International (PI)
Kami bersama Partner Internasional (PI) terus bergerak menjalankan
amanat Agung kristus khususnya di jawa barat sejak tahun 1997. PI membentuk
tim untuk pembangunan gereja, melatih dan mengirimnya ke tempat yang belum
terjangkau.
PI adalah partner yang sebenarnya karena mereka tidak mendikte
kami melainkan bergerak seiringan saling membantu dan memotivasi untuk gereja.
Visi dari PI:
Untuk
membawakan kabar Bible (Injil)
 kepada masyarakat Sunda
Mendirikan
gereja untuk
dikalangan
mereka khususnya di tempat yang belum ada gereja pribuminya.
Karena
sunda adalah suku dengan 34 juta orang dan sebagaian besar didalamnya adalah
muslim
,
suku sunda adalah Muslim 99,9% jadi ini adalah tugas YANG BESAR!
Cahaya
Suku merupakan platform yang bervisikan melihat pergerakan pembangunan gereja
di antara 23 cluster yang belum terjangkau. Untuk di Indonesia Cahaya Suku membagi suku bangsa di Indonesia yang
terdiri dari 128 suku ini menjadi 23 cluster dan dari 23 cluster(jendela
wilayah) 90% adalah cluster muslim
.jadi 22 dari 23 cluster ini adalah
cluster masyarakatMuslim. Jadi ini merupakan tugas yang berat
Kami merekrut, melatih dan mengirim
pembangun gereja untuk tinggal di tengah- tengah komunitas 
muslim serta untuk menyemangati lembaga
pelayanan
kita. Sebenarnya mereka tidaklah berbicara, mereka
menjadi model di masyarakat. Namun inilah yang kita lihat selama ini para
pembangun gereja berada disana berbuat sesuatu bagi masyarakat, menjadi bagian
dari masyarakat dan membagi kasih kristus kepada mereka.
Setiap pembangun gereja perlu menetapkan platform mereka sebagai
identitas sekuler mereka. Hal ini dikarenakan kita bekerja diantara sesama
Muslim, kita tidak berangkat dari platform pembangun gereja tentunya melainkan dengan
platform sekuler lainnya.
Ketika mereka berbicara dengan saya “125 keluarga sedang bekerja dengan
rajin dalam 12 cluster dalam berbagi tentang bible, dan sebagian dari mereka
juga mempelajari kebersamaan di Pos Penginjilan disaat mereka bersama. Inilah
yang kamilakukan selama ini kami memodel,kami tahu yang kami lakukan kami
mendapat penerimaan dari masyarakat shingga kami dapat membagi kasih kristus
kepada mereka.”
Selama kurun waktu hingga tahun 2005 telah menunjukkan pertambahan
pengikut sebanyak 125 keluarga dan ini adalah penduduk asli. Para pemodel yang handal dan ini
menunjukkan sebuah potensi yang besar bukan sekedar angka belaka, melainkan ada
tangan Tuhan dan ini sebuah gerakan yang besar!
Sekelompok kaum Kristen
evangelis yang memasang target tahun 2020 sebagai masa “panen raya”.

Sebuah buku berjudul Transformasi Indonesia: Pemikiran dan Proses
Perubahan yang Dikaitkan dengan Kesatuan Tubuh Kristus
(Jakarta:
Metanoia, 2003), menggambarkan ambisi dan harapan besar kaum misionaris Kristen
di Indonesia tersebut.

Ditegaskan dalam buku tersebut:


”Indonesia merupakan sebuah ladang yang sedang menguning, yang besar tuaiannya
! Ya,
Indonesia siap mengalami transformasi yang besar. Hal ini bukan suatu kerinduan
yang hampa, namun suatu pernyataan iman terhadap janji firman Tuhan. Ini juga
bukan impian di siang bolong, tetapi suatu ekspresi keyakinan akan kasih dan
kuasa Tuhan. Dengan memeriksa firman Tuhan, kita akan sampai kepada kesimpulan
bahwa Indonesia memiliki prakondisi yang sangat cocok bagi tuaian besar yang Ia
rencanakan
.” 
Inilah tekad kaum misionaris Kristen untuk
mengkristenkan Indonesia. Segala daya upaya mereka kerahkan. Gereja-gereja
terus dibangun di mana-mana untuk memuluskan misi mereka. Gereja-gereja dan
gerakan misi terus bergerak untuk meraih tujuan,
yang ditegaskan pada
sampul belakang buku ini: ”supaya semua gereja yang ada di Indonesia
dapat bersatu sehingga Indonesia dapat mengalami transformasi dan dimenangkan
bagi Kristus.”

Menghadapi serbuan kaum
misionaris tersebut, seharusnya kaum Muslim tidak perlu berkecil hati. Sudah
saatnya umat Islam tidak bersikap menunggu dan defensif. Mungkin sudah tiba
masanya, organisasi-organisasi Islam mencetak dai-dai yang tangguh, cerdas,
berani, santun, dan ramah, untuk menyadarkan para pendeta Kristen dan
tokoh-tokohnya, bahwa mereka sedang memeluk keyakinan yang salah
(sesat/adh-dhalliin). Ajaklah mereka untuk menyembah Allah semata-mata, tidak
menserikatkan Allah dengan yang lain, dan mengakui kenabian Muhammad saw.
Jangan menyatakan Allah punya anak.

Kristenisasi diakui dan dibenarkan oleh para
Pendeta Kristen sendiri. 
Pdt.
Ioanes Rakhmat membenarkan adanya kristenisasi yang dilakukan oleh Kelompok
Kristen Fundamentalis
sebagai-berikut : Mereka Bermental triumfalistik ekspansionistik.
Para penganut fundamentalisme
Kristen memandang versi agama Kristen mereka sebagai versi agama yang paling unggul,
paling benar, paling baik, jika dibandingkan dengan agama-agama lain
non-Kristen dan versi-versi lain agama Kristen; dan, karena keunggulan ini, mereka memandang versi agama Kristen mereka
bagaimana pun juga harus
disebarkan ke seluruh tempat di bumi, dengan mengeliminir agama-agama lain
non-Kristen dan menjadikan orang-orang non-Kristen bertobat, pindah
agama, masuk agama Kristen versi mereka. 
Mereka memiliki keyakinan bahwa pada akhirnya di dunia ini hanya akan ada satu agama tunggal yang benar,
yang tampil sebagai sang pemenang tunggal, yakni agama Kristen fundamentalis
.
Mentalitas triumfalistik
ekspansionistik ini ditemukan dalam semua orang Kristen injili literalis
biblis.
Berkolaborasi dengan kapitalisme
Barat
Fundamentalisme
injili Kristen di Indonesia berafiliasi dengan kapitalisme global yang berpusat
di EU dan USA,yang menjadi penyuntik dana besar gerakan-gerakan Kristen Bara
t yang mempunyai misi ekspansi peradaban Barat antara lain
ke Indonesia
. Afiliasi ekonomis dengan
kapitalisme Barat memang bukan dibangun oleh kelompok-kelompok religius fundamentalis Kristen saja;
kelompok-kelompok non-religius di Indonesia pun, misalnya NGO-2, banyak yang hidup dari kucuran dana dari EU dan
USA yang kapitalis. PGI pun bahkan bisa hidup hanya karena ada kucuran dana. Bahkan, negara NKRI pun tidak
bisa lepas dari dominasi dan pendiktean kapitalisme Barat seperti direpresentasikan dalam IMF dan WB.
Namun, hendaknya disadari,
sebagian dari kekuatan ekonomi kapitalis USA sudah berada dalam genggaman para
tokoh fundamentalis Kristen Amerika (Yahudi dan non-Yahudi), yang, bersama
dengan para politikus neokonservatif, sanggup mempengaruhi kebijakan-kebijakan
global politik dan militer luar negeri USA, khususnya kebijakan politik USA
untuk kawasan Timur Tengah dan negara-negara lain di dunia yang mayoritas
rakyatnya beragama Islam. Arti dari semua ini adalah kekristenan
fundamentalis Kristen di Indonesia bukan lagi hanya merupakan suatu gerakan
religius, tetapi juga gerakan politik ekonomi kapitalis. Orang Kristen fundamentalis di
mana pun, ia memandang semua nubuat dalam Alkitab harus dipenuhi secara
harfiah, khususnya yang berkaitan dengan nasib bangsa Yahudi (Israel modern),
pastilah juga para warriors Kristen
yang akan dengan penuh komitmen ikut serta untuk merealisasi nubuat para nabi,
yakni kemenangan Israel dan kedatangan kembali Messias Yeshua untuk memerintah
dunia.
Perlu diteliti, berapa banyak
orang fundamentalis Kristen Indonesia yang sudah dan sedang menerima pendidikan
teologi di sekolah-sekolah teologi di USA yang memandang dengan sangat yakin
kebenaran dari visi apokaliptisisme Zionis Yahudi-Kristen .
Kristenisasi merupakan faktor
penting penjajahan & Zending.
Kristen merupakan rekan
sepersekutuan bagi pemerintah kolonial. Alb Ckruyt & Ojh Graaf van
Limburg Stirum
Pendeta Dr. Martin Sinaga, dosen Sekolah Tinggi
Teologi (STT) Jakarta
.

Demikianlah makalah ini saya 
buat sebagai  informasi dan  bahan renungan bagi kader-kader persyarikatan
Muhammadiyah dimana saja berada.
Bogor, 01 Januari 
2012
Wassalam,

Abu Deedat Syihab,MH