Apa Hukum Nikah Beda Agama ?





 HUKUM PERNIKAHAN BEDA AGAMA

 Penanya:
Yel Hidayat, Mahasiswi Universitas Muhammadiyah
Bengkulu
Pertanyaan:
2.   Pada akhir-akhir
ini banyak kita dengar perkawinan berlainan agama, yang saya tanyakan apakah sah
perkawinan antar agama tersebut? Dan apakah hukumnya mereka berhubungan suami
isteri? Apakah termasuk zina?
Demikian kiranya bapak dapat menjawabnya. Terima
kasih.
   Jawaban:

    Sebenarnya
pertanyaan saudara mengenai perkawinan beda agama sudah pernah dijawab pada
buku Tanya Jawab Agama jilid 4 halaman 205-207. Berikut ini sekedar keterangan
tambahan. Para ulama sepakat bahwa seorang wanita muslimah haram menikah dengan
selain laki-laki muslim. Mereka juga sepakat bahwa seorang laki-laki muslim
haram menikahi wanita musyrik (yang tidak beragama dan atau yang beragama bukan
ahli kitab: seperti Hindu, Buda, Konghuchu dan lainnya). Dalam hal ini Allah
berifrman

Artinya: “Dan janganlah kamu
menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita
budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.
Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin)
sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang
musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah
mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan
ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil
pelajaran.”
 [QS.
al-Baqarah (2): 221]

Yang
menjadi perselisihan di kalangan para ulama adalah, bolehkah seorang laki-laki
muslim menikahi seorang wanita ahli kitab (Yahudi dan Nasrani)? Sebagian ulama
membolehkan dengan dalil firman Allah:

            Artinya:
Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Dan makanan (sembelihan)
ahli kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan
dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara
wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara
ahli kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan
maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya
gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima
hukum-hukum Islam), maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk
orang-orang merugi.”
 [QS.
al-Maidah (5): 5]
Sebagian
lagi melarang (mengharamkan) menikah dengan ahli kitab dengan alasan bahwa ahli
kitab yang ada sekarang tidak seperti ahli kitab pada zaman Nabi Muhammad saw.
Ahli kitab sekarang telah musyrik (menyekutukan Allah) dengan mengatakan Isa A.S dan ’Uzair itu anak Allah. Mereka juga telah menyelewengkan kitab Taurat
dan Injil. Menurut kami, pendapat ini lebih kuat, karena beberapa alasan lain
antara lain; menikah dengan yang seagama itu lebih baik untuk menjaga iman
anak-anak yang akan dilahirkan, dan kita -kaum muslimin- alhamdulillah tidak
kekurangan wanita muslimah. 
Bahkan realitasnya, jumlah kaum wanita kita lebih banyak dari kaum laki- lakinya,  jadi  mengapa menikah  dengan  selain  mereka?  Bukankah  ini menimbulkan situasi dan kondisi yang tidak baik di dalam masyarakat Islam?Jadi
kesimpulannya, seorang muslimah itu diharamkan menikah dengan selain muslim,
demikian pula sebaliknya, seorang muslim itu dilarang menikah dengan selain
muslimah, demi memelihara maslahat umat Islam dan menghindarkan mereka dari
mara bahaya.
Mengenai
hubungan suami isteri, itu dianggap sah jika pernikahan mereka dibenarkan oleh
syariat. Dan jika pernikahan mereka itu tidak dibenarkan (seperti jika seorang
wanita muslimah menikah dengan seorang laki-laki non muslim), maka hubungan
suami isteri mereka itu dianggap perzinaan yang harus segera dihentikan.
Wallahu a’lam bishshawab. *mi)

Pimpinan Pusat Muhammadiyah