DEFINISI dan EKSPRESI IHSAN

Oleh:

Wawan Gunawan Abdul Wahid
Alumni PP Darul Arqam Muhammadiyah Garut Jabar (1978-1984)
Kadiv Kajian Kemasyarakatan dan Keluarga MTT PP
Muhammadiyah
 (2010-2015)
Pendahuluan
Pada awalnya gagasan ber-Islam tetapi itu saja tidak
cukup. Ada keharusan untuk menegaskannya dengan keimanan. Tetapi itu pun
terkadang turun naik. Allah pun mengajarkan ihsan. Sebuah ikrar keberagamaan
paripurna yang tuntas. Itu sebabnya, tiga kata kunci dalam ajaran agama ini
sering dinyatakan secara bersamaan, Islam, iman dan ihsan. Dalam uraian kali
ini mari dipelajari bersama kandungan ajaran ihsan dengan landasan awal salah
satu hadis Nabi saw berikut:
عن شداد بن أوس قال ثنتان حفظتهما عن رسول الله صلى الله
عليه وسلم قال إن الله كتب الإحسان على كل شيءٍ فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة وإذا
ذبحتم فأحسنوا الذبح وليحد أحدكم شفرته وليرح ذبيحته  (رواه مسلم)
“Dua hal hal
aku hapal dari dari Rasulullah saw. Nabi saw bersabda: Sesungguhnya Allah mewajibkan
ihsan atas segala sesuatu, jika kalian membunuh maka lakukanlah ihsan dalam
cara membunuh dan jika kalian menyembelih berlakulah ihsan dlaam menyembelih.
Hendaklah siapapun daintara kalian menajamkan pisaunya dan upayakanlah binatang
yang disembelih nyaman saat disembelih”(Hadis riwayat Muslim dari Syaddad bib
Aus).
Hadis di atas selain diriwayatkan Muslim dalam bab
ash-shayd
dan adz-dzabaaih juga dimuat Abu Daud dalam bab
adl-Dlahaya
dan at-Turmudzi dalam bab ad-diyyat. Makna hadis di atas
sejalan dengan nash al-Quran dalam an-Nahl ayat 90 dan al-Baqarah ayat 195.
Pertama, Allah berfirman “Inallaaha ya’muru bil’adli wal-ihsan..”,
sesungguhnya Allah memerintahkan kamu sekalian menunaikan keadilan dan ihsan.
Kedua, Allah berfirman, “wa-ahsinuu inallaha yuhibbul muhsiniin...”…dan
lakukanlah ihsan. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.
Ihsan:mencari pemaknaan
Memahami makna kata hsan yang dikandung Hadis bakilah
dimulai dari etimologinya. Kata ihsan berasal dari kata hasuna yang
ditambah dengan hamzah sebelum fa fi’il berpatokan (wazan) af’ala
yuf’ilu if’alaan
sehingga menjadi ahsana yuhsinu ihsaanan. Kata hasuna
berpola intransitif yaitu kata kerja tidak berobjek sedangkan ahsana
kata kerja transirif. Kata “hasuna” secara sederhana bermakna “dia baik”,
adapun “ahsana” berarti “dia melakukan kebaikan”. Merujuk hadis yang merekam
dialog Nabi saw dengan malaikat Jibril, ihsan dimaknai Nabi saw dengan an
ta’budallaaha ka-annaka taraahu fain lam takun taraahu fainnalaaha yaraaka
,
“anda beribadah kepada Allah seolah anda melihatNya walaupun anda tidak
melihatNya tetapi sesungguhnya Dia melihat anda”.
Makna lain tentang ihsan adalah menyempurnakan. Itu,
antara lain, terbaca dari Hadis “Laa yatawadlau rajulun yuhsinu wudluuahu wa
yushallish-shalaata illaa ghufira lahuu maa baynahuu wa baynash-shalaati hataa
yushaliyaha”,
setiap pria yang menunaikan wudlu dengan baik (ihsan) pasti
Allah ampuni dosanya..”. Dengan redaksi berbeda hadis tersbeut diriwayatkan
Muslim dengan “man tawadla-a fa ahsanal wudluua kharajat min jasadihi hatta
takhruja min adhfaarihi”
, siapa yang beruwuldu dan dia sempurnakan wuldunya
maka keslahan-keslahannya keluar dari tubuhnya bahkan keluar dari kuku-kukunya.
Dalam kedua hadis Nabi menggunakan kata yuhsninu yang dimankai sebahai yusbighu
yaitu menyempurnakan.
Kesempurnaan ini pula yang dimaksudkan Nabi saw saat
mengatakan ihsan dalam penyembelihandan pembunuhan. Mengomentari hadis
tersebut, Muhammad ibn Ali ibn Wahab al-Qusyari yang lebih dikenal dengan nama
Ibn Daqiqil ‘Id, mengatakan “yang dimaksud dengan ihsan saat membunuh adlah
melakukannya dengan kesungguhan sehingga sedikitpun tidak menimbulkan kesan
penyiksaan (ta’dzib). Sedangkan ihsan dlaam menyembelih binatang adalah
memperlakukan binatang secara lembut yang jauh dari perlakuan kasar,
menghadapkannya ke arah kiblat, melatakkan pisau di daerah yang benar-benar
mematikan dan menjadikannya segera beristirahat panjang menuju kematian.
Ihsan: Keyakinan diperhatikan Allah
Dari pengertian ihsan ada dua unsur penting yang
mengemuka. Pertama, keyakinan untuk dperhatikan dan kedua menyempurnakan suatu
perbuatan. Kedua unsur ini saling berkaitan karena adanya yang satu menunjukkan
adanya yang lain. Menarik untuk mempertanyakan mengapa kata ihsan dikaitkan
dengan keyakinan seorang hamba melihat Allah dan Allah melihatnya? Penggamaran
ini ssama dengan situasi yang dialami oleh sepasang kekasih yang sednag dilanda
cinta. Seorang yang memberikan cintanya kepada pasangannya niscaya ia berikan
perhatiannya. Hadis menyebutkan “yakinilah” bahwa “kamu menatapnya” jika pun
kamu “tidak mampu menatapnya yakinilah kekasihmu menatapmu”. Bagaimana seorang
pecinta mampu melihat kekasihnya. Ia lakukan itu bukan dengan matanya. Ia
melihatnya dengan mati hatinya yang menjadikan seorang pecinta mampu melihat
kekasihnya dan ia berkeyakinan bahwa kekasihnya menatapnya. Ali ibn Muhammad
al-Jurjani dalam kitab at-Ta’rifatnya mendefisikan ihsan sebagai  “at-tahaququ bil’ubuudiyyati ‘alaa
musyahaadati hadlratirrubuubiyyah bi nuuril bashiirah
”, memastikan
pengabdian (kepada Allah) dengan keyakinan adanya tatapan kesaksian Allah
memalui mata hati. Tatapan terus menerus yang diberikan Sang Kekasih adalah
bagian dari cintaNya. Demikinalah keyakinan adanya perhatian menjadi vitamin
yang menjadikan sang pecinta ersemangat untuk melakukan apapun dalam tingkat
ksesempurnaan terbaik. Ia berikan pengorbanan apapun yang dipelrukan sang
kekasih. Itulah unsur kedua dari ihsan, menyemurnakan. Penyempurnaan yang
dilakukan seorang uhsin mencakup seluruh aspek keagamaan keislamannya sehingga
memeluknya dengan benar-benar utuh. Dalam kaitan ini Nabi saw bersabda: idza
ahsana ahaduum islaamahu fakullu hasanatain ya’maluhaa tuktabu lahu bi’asyri
amtsaaliha
. Bila seorang menyempurnakan keislamannya maka setiap kebaikan
yang dikerjakannya mendapatkan nilai sepuluh (lipat) kebaikan.
Ihsan: beberapa ciri dan ekspresi
Merujuk pada beberapa nash al-Qur’an dan hadis Nabi saw,
berikut ciri dan ekspresi orang yang terbiasa melakukan ihsan:
Pertama, pelaku ihsan adalah yang memiliki ketetapan hati yang
berstamina kuat dan panjang. Stamina itu diperlukan saat pelaku ihsan
menghadapi berbagai ona duri berupa ujian bahkan saat ujian hingga di batas
kekuatan manusia, ia tetap sadar bahwa Gusti Allah Sare, Allah tidak
tidur. Ia bertahan dalam berbagai situasi sulit berupa kebikmatan yang
menjebaknya atau muhibah yang menghadangnya. Ia bersabar dalam berbagai tantangan.
Itulah yang disebutkan Allah dalam Surah Hud ayat 135, washbir inallaaha laa
yudlii’u ajral muhsiniin
, bersabarlah sesungguhnya Allah tidak akan
menyia-nyiakan pahala orang yang melakukan ihsan.
Kedua, orang yang melakukan ihsan meyakini bahwa tatapan
rahmat asih Allah selalu menyertainya. Allah berfirman dalam surah al-A’raf
ayat 56 wad’uuhu khawfan wa thama’an inna rahmatallhi qariibun minal muhsinin,
berdoalah kepadaNya dalam cemas dan harap. Sesungguhunya rahmat Allah sangat
dekat kepada orang-orang yang melakukan ihsan. Tatapan asih inilah yang
memberikan semangat kepada orang yang berlabelkan pelaku ihsan (muhsin)  untuk melakukan kebaikan kebaikan dalam
kondisi apapun. Sebagaimana disebutkan disebutkan Allah dalam Surah Ali Imran
ayat 134 bahwa mereka adalah orang-orang yang melakukan infak di saat suka dan
duka di saat lapang dan payah, Alldaziina yunfiquuna fissaraai
wadl-daraai…..wallahu yuhibbul muhsiniin.
Ketiga, dengan tatapan asih Allah pelaku ihsan diilhami untuk
berinovasi (subul) dalam spirit kebaikan agama dan kemanusian (jihad).
Dalam Surah al-Ankabut ayat 69 Allah berfirman “Walladziina jaahaduu fiinaa
lanahdiyannahum subulanaa”,
Orang-orang yang berjihad di jalan Kami pasti
Kami tunjukkan jalan-lan Kami. Seorang muhsin adalah seorang yang berjihad
dengan penuh inovasi. Seperti yang dikatakan Ibnu Hajar al-Asqalani, ia tidak
membatasi jihad dengan peperangan yang terjadi dalam kodisi yang spesifik.
Seorang muhsin menginovasi jihad dengan perlawanan terhadap dirinya sendiri,
perlawanan terhadap situasi yang tidak ideal. Diri sendiri dijhadi dengan
perbaikan diri. Situasi tidak ideal dilawan dengan keilmuan, keimanan,
kemaslahatan untuk semua.
Keempat, pelaku ihsan adalah seorang yang mampu mengelola
dirinya sedemikian rupa sehinga ia bersifat pemaaff (al-aafiina ‘aninnaas) saat
orang mengganggunya, ia menagahn amarah (al-kazhimiin al-ghayd) saat umumnya
tidak mampu untuk melakukannya. Dengan sifatnya ini wajar orang disektarnya
yang semula menjauhmendekatinya. Kerana dia sudah dekat semakin dekat dan
mendukungnya. Kraena dia kekasih-Nya tersampaikanlah pemberitahuan-Nya kepada
para malaikat pembantu-Nya untuk menggerakkan hati menusia untuk mencintai dan
mendukungnya. Sebagaimana disebutkan dalam Hadis qudsiy:”Jika Allah telah
mencintai seorang hambaNya Ia umumkan kepada malikat: “Wahai malaikat, Aku
telah mencintai seorang hamba, sampaikanlah kepada makhlukKu di bumi bahwa aku
mencintainya maka mereka pun berkumpul mengitarinya..”.
Kelima, mengingat upayanya yang terus menrus dalam
menyempurnakan ke-Islaman seorng muhsin selalu mengusahakan apa yang
dikerjakannya benar-benar bermakna bagi dirinya dan orang lain. Karenanya ia
akan menapis dirinya dari berbagai hal yang tidak memnerikan efek baik bagi
kepada dirinya dan orang lain. Nabi bersabda: “Min husni islaamil mar’i
tarkuhuu maa laa ya’niihi”,
diantara kesempurnaan Islam seseorang adalah
dia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya”.  
Keenam, ketahulah bahwa seorang muhsin juga manusia.
Sebagaimana ia berusaha untuk memperbanyak kebaikan ia bisa saja terjatuh melakukan
khilaf dan kesalahan. Berbeda dengan orang awam yang kerana tanpa kontrol hati
ia asyik dan khusyu’ melakukan kekeliruan, seorang muhsin segera diingatkan
hatinya yang bening untuk segera kembali pada kesucian (Ali Imran [3]:135). Dia
lakukan itu seraya memohon kepada Allah untuk memperteguh sikap imannya,
meminta ampunanNya untuk kekhilafan yang dilakukannya (Ali Imran [3]:147-148).
Kekhilafannya tidak dibiarkannya menggunung tetapi dihapusanya dengan berbagai
kebajikan, siang malam. Innal hasanaati yudzhibnassayiaati
(Huud:134-135), atau sebagaimana yang disabdakan Nabi saw dia mengejar
kekeliruan yang sempat dilakukannya untuk dihapus dengan berbagai kebaikan (wa
atbi’issyaiatal hasanata tamhuhaa
). Puncaknya seorang muhsin pun mampu
untuk menolak berbagai bentuk kejelekan melalui beragam bentuk kebajikan ritual
yang efektif ((shalat) serta kebajikan sosial (zakat, infak shadaqah), walladziina
shabaruubtighaa a wajhi rabbihim wa aqqmush-shalaata wa anfaquu wa mimmaa
razaqnaahum sirrawwa’alaaniyah. Wayadrauuna bilhasanatissayiata ulaaika lahum
uqbaddaar
(ar-Ra’d:22).
Ketujuh, seorang muhsin menyadari benar bahwa seluruh kebajikan
yang dilakukannya kapanpun kepada siapap pun dimana pun. Adalah balasan
cintanya kepada Sang Kekasih yang telah menebar asih dan kebaikan kepadanya.
Kebaikan dalam bentuk penciptaan dirinya sebagai seorang manusia yang
dikasihiNya, serta kesempatan untuk memperbaiki terus cintanya, kesempatan
untuk selalu disambut kembali manakala khilaf dilakukannya, wa ahsin kamaa
ahanallahu ilayka
, (sl-Qashash: 77), lakukanlah ihsan sebagaimana Allah
telah lakukan kepadamu.
Last but not least, kedelapan, seorang
muhsin adalah seorang yang moderat yang berani menghadapi kehidupan, wabtaghi
fiimaa aatakallahuddaaral aakhiarata walaa tansa nashiibaka minaddunya
.
Terhadap pilihan ‘isy kariiman au mut syahiidan, hidup mulia atau mati syahid,
seorang mushin akan berani untuk memilih hidup dengan mulia daripada mati yang
belum tentu meraih kesyahidan. Kebaikan yang diyakininya benra-benar kebaikan
yang telah dikonfirmasikan pada hukman wa ‘ilman, yaitu deposit penegtahuan
yang membawa kbijaksaan dan kebajikan bagi kenausiaan (Yusuf:22) sedemikian
rupa sehingga apa yang dilakukannya tidak akan pernah melakukan pencederaan
dirinya dan orang lain (walaa tabghil fasaada fil ardl..).
Wallahu Nga’lam bish-Shawab.