Sekolah Gratis di MTs Muhammadiyah 01 Purbalingga

”Ingin Bayar, Silakan ke Sekolah Lain…”

KEBIJAKAN sekolah gratis sering terdengar saat kampanye pilkada.  Namun, ternyata setelah diterapkan bukan hal yang mudah. Di MTs Muham­ma­diyah 01 Purbalingga, program tersebut sudah dijalankan. Tak tanggung-tanggung, program itu sudah berlangsung lima tahun dan sukses.
Guru Bimbingan dan Kon­seling (BK) sekolah itu, Pur­no­mo, menjelaskan, sekolah gratis itu tidak hanya khusus untuk siswa tidak mampu, melainkan seluruh siswa. ”Semua siswa kelas 7-9 yang berjumlah 512 anak, gratis,” katanya.
Uang SPP, uang gedung, pembayaran ini-itu tidak ada, bahkan semua siswa baru sejak program diluncurkan mendapat seragam olahraga, pramuka, OSIS, batik, kerudung, juga mukena dan sepatu hitam.
”Siswa juga mendapat 16 buku tulis sesuai dengan jumlah mata pelajaran. Buku cetak sudah disiapkan sekolah,” kata dia yang sebelumnya selama delapan tahun menjabat kepala MTs tersebut.
Dia menjelaskan, uang yang dipakai untuk menggratiskan biaya pendidikan itu sebagian didapat dari tabungan infak siswa. Sebagian dari zakat guru dan karyawan. Tentu saja sebagian lainnya dari BOS dan Bantuan Siswa Miskin (BSM).
”Setiap hari Jumat siswa kami latih untuk berinfak. Kami siapkan kotak infak di setiap kelas. Ada yang memasukkan Rp 500, Rp 1.000, Rp 5.000, ada juga yang tidak infak. Pernah juga ada yang infak Rp 100.000,” terangnya.
Potong Gaji
Hasil kotak infak siswa dalam satu kali Jumat yang dikum­pul­kan dari 13 kelas itu terkumpul Rp 200.000-Rp 300.000, se­hingga dalam sebulan bisa mencapai Rp 1,2 juta. Infak itu dipergunakan untuk kepentingan siswa.
”Misalnya ada siswa kelas 8 atau 9 yang seragamnya sudah kekecilan, celananya sudah congkrang, maka dibelikan lagi oleh sekolah menggunakan infak siswa. Atau ada siswa sakit dibantu juga dengan dana tersebut,” ujarnya.
Sementara penggalangan dana oleh guru dan karyawan dilakukan dengan cara memotong 10 persen gaji setiap bulan. Ada 26 guru dan karyawan di MTs itu, sehingga bila rata-rata yang dipotong Rp 100.000 maka dalam sebulan terkumpul Rp 2,6 juta.
”Kalau kas madrasah ini bisa dipakai oleh siapa pun dan untuk keperluan apa pun. Misalnya ada karyawan yang mau beli motor, bisa pakai dana ini dulu. Mengangsurnya lebih ringan,” jelasnya.
Sekolah gratis itu membuat sejumlah pihak penasaran, bahkan ada yang menilai MTs tersebut adalah sekolah yang nganeh-anehi. Pasalnya, sekolah lain seolah berlomba me­narik uang dari siswa namun di MTs itu malah tidak memungut biaya. Dapat bonus lagi.
”Ada orang tua calon siswa baru yang protes karena merasa mampu namun tetap digratis­kan. Kami lalu bilang, kalau tidak mau digratiskan maka anaknya sebaiknya didaftarkan di sekolah lain yang bayar,” katanya.
Dia menambahkan, sasaran utama program itu adalah siswa baru yang tidak mampu. Jadi ja­ngan sampai ada lulusan SD/MI yang tidak melanjutkan, karena tidak mampu secara ekonomi. ”Ini untuk mengangkat kaum duafa,” katanya.

*) sumber : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2013/06/12/227530/Ingin-Bayar-Silakan-ke-Sekolah-Lain