Beranda Artikel Mengungkap Filosofi Lambang Muhammadiyah

Mengungkap Filosofi Lambang Muhammadiyah

Jika suatu saat
ada orang bertanya, “apa sih muhammadiyah itu?” apa yang akan sahabat jawab?.
Mungkin macam-macam jawaban akan muncul dari benak anda bergantung dengan tingkat pemahaman dan situasi yang mengitari anda. Misalnya, kalau anda
bergerak dan pemerhati dalam bidang pendidikan, anda akan menjawab muhammadiyah
adalah sekolah. Hal ini tidak aneh mengingat sekolah-sekolah muhammadiyah sudah
sangat tersebar di seluruh penjuru Indonesia ini. 
Kalau anda bergerak atau
pemerhati dalam bidang sosial, anda akan menjawab muhammadiyah adalah panti
asuhan. Hal ini juga tak aneh mengingat hampir disetiap daerah selalu tersebar
panti-panti asuhan muhammadiyah. Kalau anda bergerak atau
pemerhati dalam bidang kesehatan, anda akan menjawab muhammadiyah adalah rumah
sakit. Hal ini cukup wajar dikarenakan rumah sakit dan poliklinik muhammadiyah
pun sudah tersebar di kota-kota di Indonesia. Begitupun bidang-bidang lainnya
seperti keagamaan, politik, ekonomi dll. Pada dasarnya semua jawaban tadi
tidaklah salah, hanya jawaban tadi seperti halnya jawaban orang buta yang
mencoba menggambarkan bentuk seekor gajah. Jadi seperti ini, ada 3 orang buta yang
ingin tahu seekor gajah itu seperti apa. Dikarenakan ketiganya tak bisa
melihat, mereka mencoba mengetahui gajah dengan merabanya. Orang buta pertama
kebetulan memegang kupingnya, maka dia menjelaskan bahwa gajah itu bentuknya
lebar dan tipis. Orang buta kedua kebetulan memegang belalainya, maka dia
mengatakan bahwa gajah itu bentuknya panjang. Orang buta ketiga kebetulan
memegang badannya, maka dia mengatakan bahwa gajah itu besar dan keras. Nah,
terkadang kita pun seperti ini dalam melihat muhammadiyah, termasuk saya. Maka
dari itu, kali ini saya ingin mencoba menggambarkan muhammadiyah dari sudut
pandang yang berbeda.
Sahabat-sahabat sekalian
Jika saya disuruh menjelaskan “apa sih
muhammadiyah itu?”, maka yang terbayang dalam benak saya adalah lambang dari
muhammadiyah itu sendiri yaitu matahari. Lantas, ada apa dengan matahari? Atau
kenapa harus matahari? Setidaknya ada 2 hal yang dapat kita jadikan pelajaran
dari matahari yang dapat menggambarkan bagaimanakah seharusnya watak seorang
muhammadiyin itu.
“Ada benarnya
nasihat orang-orang suci,
Memberi itu
terangkan hati,
Seperti matahari
yang menyinari bumi”
Itulah sebait syair yang digubah Iwan Fals
dalam salah satu lagunya. Disana memberi disimbolkan dengan matahari yang
menyinari, maka yang harus menjadi sifat atau karakter warga muhammadiyah
adalah semangat memberi.
Sahabat-sahabat sekalian
Kalau kita flashback ke masa lalu saat Ahmad
Dahlan mendirikan muhammadiyah, kita akan dapat rasakan bahwa muhammadiyah
lahir dikarenakan adanya semangat memberi dan berbagi. Kita dapat melihat dalam
film Sang Pencerah bagaimana Ahmad Dahlan dan murid-muridnya pada waktu itu
mengumpulkan anak-anak gelandangan dari jalanan, memandikan, memberi pakaian
dan memberi mereka pendidikan yang layak. Ahmad Dahlan dengan keberanian dan
kecerdasannya berani mendobrak tradisi yang mapan pada waktu itu dengan
mendirikan panti asuhan dan sekolah mirip sekolah belanda pada waktu itu. Tak
aneh jika banyak ulama-ulama, dan masyarakat yang menganggap beliau nyeleneh,
kafir dan liberal dikarenakan berani melawan status quo. Hal ini terjadi karena
pada waktu itu panti asuhan memang menjadi garapan dan salah satu bentuk misi
dari misionaris kristen, sehingga saat Ahmad Dahlan mendirikan panti asuhan,
banyak yang menyerangnya dengan hadits “Man Tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum”,
barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka,
begitupun saat Ahmad Dahlan mendirikan sekolah dengan dilengkapi kursi dan
bangku. Semua itu tak lantas membuat Ahmad Dahlan gentar, beliau dengan
kecerdasannya mengembalikan tuduhan-tuduhan itu seperti yang pernah kawan-kawan
saksikan dalam adegan saat datang seorang kyai dari magelang ke sekolah milik
Ahmad Dahlan. Sekarang hasilnya kita bisa lihat, sekolah mana di Indonesia ini
yang tidak memakai papan tulis, bangku dan kursi? Kalau ada, mungkin kita
sepakat bahwa itu bukanlah sekolah. Bayangkan, sesuatu yang dianggap kafir,
liberal, nyeleneh 1 abad yang lalu, kini menjadi sesuatu yang dianggap lazim,
subhanallah, inilah buah keikhlasan dan kesabaran dari Ahmad Dahlan. Jadi kalau
saya pribadi, lebih setuju Ahmad Dahlan lah yang dijadikan Bapak Pendidikan
Nasional, bukan Ki Hajar Dewantara, karena beliau lah yang paling pertama
memperjuangkan pendidikan kepada rakyat jelata pribumi dan sekolah-sekolah
muhammadiyah hari ini jauh lebih banyak daripada taman siswa.

Lalu ada lagi ulah Ahmad Dahlan yang membuat
orang-orang masa itu heran, yaitu beliau terbiasa berdakwah mendatangi
mustami’nya. Pada zaman itu, sangatlah tabu kalau seorang kyai atau ajengan
mendatangi mustami’, jadi mustami’ yang harus mendatangi kyainya. Mereka
berpegang pada qaul Imam Syafii “Al ‘Ilmu yu’taa laa ya’tii”, ilmu itu
didatangi, bukan mendatangi. Padahal jika kaji lagi konteks pernyataan Imam
Syafii tadi, kita akan menemukan bahwa hal itu berada dalam kasus tertentu
saja. Jadi pada waktu itu, Imam Syafii diminta oleh khalifah untuk pergi ke
istana mengajarkan ilmu, dikarenakan yang mengundang khalifah, beliau tidak mau
lalu mengeluarkan statement tadi “Al’ilmu yu’taa laa ya’tii”. Hal ini karena
jika seorang ulama sudah dekat dengan penguasa, maka biasanya akan terjadi
hal-hal yang menyimpang pada ulama tersebut. Jadi kalau kita lihat secara
kontekstual, maka yang dilakukan Ahmad Dahlan bukanlah sebuah penyimpangan.
Sahabat-sahabat sekalian
Kenapa Ahmad Dahlan bisa sampai berani
melakukan hal-hal tadi? Apa yang memotivasinya? Jawabannya tak lain dan tak
bukan adalah karena beliau mempunyai semangat memberi. Ada yang perlu kita
perhatikan dalam memberi ini :
Pertama, dalam
memberi atau berbagi, kita tidak boleh membeda-bedakan yang kita beri sekalipun
itu musuh kita. Misalkan, saat kita berada di jalan raya, tiba-tiba ada
tabrakan. Lantas kita pun menolongnya untuk dibawa ke rumah sakit. Nah, jangan
sekali-kali sebelum kita menolong, kita bertanya dulu “apa agama anda?’ lantas
kalau dia jawab “nasrani”, kita katakan “modar sia!” dan kita tak jadi
menolongnya,nah jangan sampai seperti itu! Dalilnya sudah jelas (QS. 22:107)
bahwa Rasulullah diutus adalah sebagai rahmat bagi alam semesta, bukan umat
Islam atau warga Muhammadiyah saja. Seperti halnya matahari yang menyinari
seluruh permukaan bumi tanpa pilih-pilih bahkan sampai celah-celah kecil
sekalipun. Dalam rangka memanifestasikan sifat Rahmatan lil ‘alamin ini, maka
Muhammadiya membuat sebuah majelis di dalam strukturalnya yang disebut Majelis
PKO (Penolong Kesejahteraan Oemoem). Ada yang menarik, bahwa Pak Haidar Nashir
mengatakan bahwa muhammadiyah mempunyai satu dosa, yaitu dalam satu muktamar,
kata umum tadi diganti dengan kata umat. Kata pak Haidar Nashir, umat itu
ekslusif, seharusnya kata umum jangan diganti sehingga semangat memberi
muhammadiyah pun tetap inklusif. Tapi konon kabarnya, kata umat sudah diganti
lagi menjadi kata umum sekarang ini.

Kedua, dalam
memberi atau berbagi, kita harus melakukannya dengan rasa tulus dan ikhlas.
Jika saya bertanya kepada anda, perbuatan apa yang anda lakukan hari ini yang
paling ikhlas? Mungkin jawabannya bermacam-macam, tapi ketahuilah, bahwa
sesungguhnya perbuatan yang paling ikhlas yang kita lakukan dalam hidup ini
adalah BAB (Buang Air Besar). Memang aneh kedengarannya , tapi seperti itulah
ikhlas. Pernah tidak kita membayangkan terus menerus yang kita keluarkan saat
BAB, warnanya, baunya, bentuknya, ih! Jijik!. Nah kita juga dalam beramal atau
memberi harus seperti BAB tadi, yaitu biarkan saja keluar dan tidak
mengingat-ingatnya lagi. Misalnya kalau kita berbagi ilmu saat mengisi
pengajian, maka sebelum pengajian jangan sekali-kali diniatkan untuk dapat
amplop, ceramah ya ceramah saja, soal nanti kita dapat amplop, ya
alhamdulillah, dan manakala ternyata kita apes tidak dapat amplop, ya enjoy
aja! Toh bukan karena itu kita ngisi pengajian.
Sahabat-sahabat sekalian
Ada hal yang menarik kalau kita perhatikan
nash Al quran dan hadits tentang memberi dan meminta, coba kaji lebih dalam,
niscaya kita akan menemukan bahwa hubungan antara sesama manusia adalah
hubungan untuk memberi. Perhatikan ayat-ayat ini, (QS. 2:261,2:274, 2:253,
9:53, 63:10), Kalimat-kalimat yang dipakai dalam ayat tadi adalah yunfiquuna
dan anfiquu, yang berarti berinfak atau memberi. Akan tetapi sebaliknya, dalam
hubungan manusia Allah, niscaya kita akan menemukan bahwa hubungan manusia
dengan Allah adalah hubungan meminta. Perhatikan ayat-ayat ini, (QS. 1:5, 2:45,
2:153, 7:128, 40:60, 7:29, 7:180, 40:65), dalam ayat-ayat ini, kalimat yang
dipakai adalah, ista’iinuu, nasta’iin, ud’uuhu, dan udu’uunii. Dari sini kita
dapat lihat bahwa memang yang Allah perintahkan kepada manusia adalah untuk
senantiasa memohon, meminta dan berdoa kepadanya. Dari uraian barusan, kita
dapat ambil simpulan bahwa kepada sesama manusia, memberilah sebanyak-banyaknya
sedangkan kepada Allah memintalah sebanyak-banyaknya. Itulah kawan-kawan yang
akan menjadikan kita bertauhid khalish. Lho, kok jadi tauhid, pernahkah kita
sadar, bahwa semakin banyak kita meminta, maka semakin dekat pula kita kepada
syirik. Yah, awal dari syirik adalah saat kita terlalu banyak berharap atau
meminta kepada sesama makhluk. Adapun saat kita aplikasikan kaidah tadi, maka
insya Allah kita akan terhindar dari syirik dalam hati kita.
Sahabat-sahabat sekalian
Lalu ada apa lagi dengan matahari selain
mengajarkan kita semangat memberi? Ok kawan-kawan, siapa yang tidak mengenal
fotosintesis. Yup, bahkan anak sd pun sudah belajar tentang fotosintesis. Dalam
pelajaran biologi, diterangkan secara jelas bahwa fotosintesis adalah proses
pembuatan makanan pada tumbuhan yang menggunakan cahaya matahari dan zat hijau
daun sebagai media utamanya. Ada yang menarik dari fenomena ini, yaitu tatkala
zat CO2 yang bersifat racun dan merugikan bagi manusia, lalu diserap oleh
tumbuhan dan melalui fotosintesis ini akhirnya gas CO2 itu terurai menjadi
molekul-molekul O2 (oksigen) yang wujudnya sangat vital bagi kelangsungan hidup
manusia. Hal tersebut tak lepas dari peran sinar matahari yang menjadi katalis
dan energi serta zat hijau daun (klorofil) dalam fotosintesis tadi. Maka dari itu, sudah sepantasnya seperti
halnya matahari tadi, muhammadiyah pun bisa mengubah hal-hal negatif yang ada
menjadi hal-hal positif yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Hal-hal
positif tersebut hanya dapat dibangun saat kita telah memiliki kerendahan hati
dan keteguhan dalam memperjuangkannya.
Sahabat-sahabat sekalian

Saat kita menjadi seorang muhammadiyah, lalu
hidup di tengah-tengah masyarakat, alangkah indahnya jika tersebar dalam
masyarakat pembicaraan seperti ini, “untung ada muhammadiyah, anak saya yang
tadinya tak bisa sekolah, jadi bisa sekolah”. “Untung ada muhammadiyah, yang
tadinya saya gak bisa ke dokter karena mahal, bisa diobati di poliklinik yang
harganya terjangkau”. “Untung ada muhammadiyah, anak-anak yatim di daerah saya
bisa diasuh di panti asuhan”. Nah kawan-kawan, kalimat “untung ada
muhammadiyah” tadi bisa terwujud saat para kadernya sudah memahami betul
filosofi matahari ini. Jadi sebenarnya, masih ada hubungan filosofi kedua ini
dengan semangat memberi yang telah kita bahas pada tulisan pertama. Kenapa?
Transformasi keburukan menjadi kebaikan ini akan sulit dilakukan manakala tidak
dilakukan atas dasar kerendahan hati dan semangat memberi. Tentu kita masih
ingat kisah Rasulullah saw. Saat hijrah ke Thaif, sambutan apa yang beliau
terima? Lemparan batu, hinaan, cacian dan usiran yang sangat perih beliau harus
pikul saat datang kesana. Lantas, apa Rasulullah murka? Tidak! Bahkan Jibril
pun tidak sabar, dia berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, jika engkau
mau, saya bisa timpakan bukit uhud itu kepada mereka.” Tapi apa jawaban
Rasulullah? “Allahummahdi qaumii fainnahum laa ya’lamuun”. Kita menemukan
betapa rendah hatinya dan pemurahnya sosok manusia agung ini saat malaikatpun
sudah menawarkan bantuannya. Hasil jerih payahnya pun tidaklah sia-sia, karena
toh suatu saat, orang yang pada awal mula sangat memusuhi nabi pun, akhirnya
berbalik menjadi cinta berkat kerendahan hati dan kasih sayangnya. Jadi bodoh
sekali menurut saya barat yang menggambarkan Islam disebarkan dengan pedang,
dan umat Islam juga ada yang bodoh saat merespon perlakuan barat dengan pedang
semata.
 Sahabat-sahabat sekalian
Sebaliknya, alangkah mirisnya jika di
lingkungan kita malah terdengar suara-suara seperti ini, “Ah! Gara-gara ada
muhammadiyah, shalat shubuh jamaah yang asalnya penuh, jadi tinggal ada satu
baris”. “Ah! Gara-gara ada muhammadiyah, jamaah mesjid yang asalnya 50 orang,
tinggal 10 orang!”. Kawan-kawan, ini nyata lho! Ada seorang mubaligh yang
laporan tentang dakwahnya, “lapor pak! Misi sudah beres! Mesjid sudah steril
dari tahlilan, qunut, shalawatan dan bid’ah-bid’ah lainnya!”. Lantas bosnya
bertanya “lalu jamaahnya bagaimana? Masih ada tidak?” dia menjawab, “nah itu
pak! Jamaahnya juga hampir steril!”. Nah lho, dakwah kok malah membuat jamaah
kabur? Sebenarnya memang secara konsep tidak ada yang salah, tentunya menurut
pemahaman fiqh persyarikatan, namun caranya itu lho, menurut saya tidak
mencerminkan dakwah cara matahari tadi. Kalau kita ingin menghilangkan
perbuatan bid’ah, tidak harus langsung menyuruh orang-orang meninggalkannya,
tapi secara bertahap dengan merubah pola fikir masyarakat tentang hal tersebut.
Sekarang yang salah dari yasinan apa? Bukan baca yasinannya yang salah, tapi
keyakinan sebagian masyarakat bahwa yasinan itu adalah ibadah yang harus
dilakukan pada waktu tertentu. Begitupun tahlilan, shalawatan, dll. Alangkah
lebih baiknya jika si mubaligh itu memberi pengertian bahwa ritual-ritual tadi
hanyalah produk budaya, bukan ketetapan syariat yang baku yang harus
dilaksanakan. Lalu saat paradigma masyarakat sudah berubah, maka lama kelamaan
masyarakat juga akan berfikir sendiri tentang untung rugi pelaksanaan ritual
tersebut, sehingga nantinya juga akan dengan dengan sendirinya ditinggalkan
oleh masyarakat.
Sahabat-sahabat sekalian

Mungkin inilah yang menjadi alasan kenapa
Muhammadiyah bisa bertahan selama satu abad berkiprah dalam membangun peradaban
utama. Di muhammadiyah itu semua karakter ada, dari yang radikal sampai
liberal, dari yang tamatan SD sampai Professor, kemudian bermacam-macam profesi
juga ada. Tapi alhamdulillah, semua itu dapat dibingkai dalam sebuah harmoni
organisasi, dimana perbedaan pendapat antar individu diberi ruang dan
penghargaan sepantasnya. Insya Allah, kalau ada yang pertentangan pendapat di
muhammadiyah, tidak akan sampai bikin muhammadiyah tandingan atau
menjelek-jelekan muhammadiyah dari luar. Kemudian, yang membuat muhammadiyah
tetap eksis adalah amal usaha yang telah menyebar dan menjadi bagian dari
peradaban negeri ini. Bayangkan, di saat kawan-kawan lain masih sebatas wacana,
muhammadiyah sudah mewujudkannya dalam bentuk amal.
Sahabat-sahabat sekalian
Akhir kata…
Hanya memberi
Tak harap
kembali
Bagai SANG SURYA
Menyinari dunia
*) Robby Karman
Aktifis IMM dan Admin Group Facebook Muhammadiyah