Shalat Tahiyatul Masjid dulu atau Menunggu Adzan Selesai?

Pertanyaan :

Saat datang ke masjid bersamaan dengan kumandang
adzan, lebih utama langsung shalat tahiyatul masjid atau dengerin adzan sampai
selesai?
( pertanyaan diajukan oleh Noordin Djihad, member
group facebook Muhammadiyah ) 
Jawab :

     Jika kita mendengar adzan
disyariatkan pula untuk menjawabnya. Jumhur ulama mensunnahkannya dan sebagian
lagi bahkan mewajibkannya.

عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ
صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا
عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ
لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا
هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

Dari
Abdullah bin Amru bin al-Ash bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda, “Apabila kalian mendengar mu’adzdzin (mengumandangkan
adzan) maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan, kemudian bershalawatlah
atasku, karena orang yang bershalawat atasku dengan satu shalawat, niscaya
Allah akan bershalawat atasnya dengannya sepuluh kali, kemudian mintalah kepada
Allah wasilah untukku, karena ia adalah suatu tempat di surga, tidaklah layak
tempat tersebut kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan saya
berharap agar saya menjadi hamba tersebut. Dan barangsiapa memintakan wasilah
untukku, maka syafa’at halal untuknya.” [HR. Muslim, Abu Dawud,
al-Turmudzi, al-Darimi dan al-Nasa’i]

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ
أَكْبَرُ فَقَالَ أَحَدُكُمْ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ثُمَّ
قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
رَسُولُ اللَّهِ ثُمَّ قَالَ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ
إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ
إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Umar
bin al-Khaththab dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Jika seorang mu’adzin mengumandangkan adzan seraya berseru, ‘Allah
Mahabesar, Allah Mahabesar’, lalu salah seorang di antara kalian mengucap,
‘Allah Mahabesar, Allah Mahabesar’, kemudian mu’adzin berseru, ‘Saya bersaksi
bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, lalu dia berucap,
‘Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah,
kemudian mu’adzin melanjutkan, ‘Saya bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah’,
lalu dia mengucap, ‘Saya bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah’, kemudian
mu’adzin berseru, ‘Marilah shalat’, dan dia membaca, ‘Tidak ada daya dan upaya kecuali
dengan Allah’, kemudian mu’adzin berseru, ‘Marilah menuju kebahagiaan, ‘ lalu
dia menjawab, ‘Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah’, kemudian
mu’adzin berkata, ‘Allah Mahabesar, Allah Mahabesar’, lalu dia menjawab, ‘Allah
Mahabesar, Allah Mahabesar’, kemudian (menutup adzannya) dengan lafadz, ‘Tidak
ada tuhan (yang berhak disembah) selian Allah’, lalu dia menjawab dengan
lafadz, ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selian Allah’. (Jika dia
melakukan hal itu) dengan sepenuh hati, niscaya dia masuk surga” [ HR. Muslim
dan Abu Dawud]
عَنْ جَابِرِ بْنِ
عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ
قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ
وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ
مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ إِلَّا حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dari
Jabir bin Abdullah ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: “Barangsiapa ketika mendengar adzan mengucapkan: “ALLAHUMMA
RABBA HADZIHI AD DA’WATIT TAMMAH WASH SHALAATIL QAA`IMAH AATI MUHAMMADANIL
WASIILATA WAL WAL FADLIILAH WAB’ATSHU MAQAAMAN MAHMUUDANILLADZI WA’ADTAH (Ya
Allah, Tuhan Pemilik panggilan yang sempurna (adzan) ini dan shalat (wajib)
yang didirikan. Berilah Al Wasilah (derajat di surga, yang tidak diberikan
kecuali kepada Muhammad) dan fadlilah kepada Muhammad. Dan bangkitkanlah beliau
sehingga bisa menempati kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan), maka ia
akan mendapatkan syafa’at pada hari kiamat.” [HR. Bukhari, al-Turmudzi,
al-Nasai, dan Ibnu Majah]

Dengan demikian,
jika kita tiba di masjid mendapati adzan sedang dikumandangkan, sebaiknya
mendengar dan menjawab adzan secara khusu` terlebih dahulu baru kemudian kita
shalat tahiyyatul masjid (kasus shalat jum`ah) atau langsung shalat sunnat
qabliyah (kasus shalat Rawatib), sehingga kita memperoleh 2 kebaikan ; pahala/keutamaan mendengar adzan + pahala/keutamaan shalat tahiyyatul masjid
*) Drs. H. Dadang Syaripudin, MA. , Anggota Lajnah Tarjih
PP Muhammadiyah , Wakil. Ketua PWM Jawa Barat