Masjid dalam Perspektif Sejarah dan Hukum Islam

Masjid pada Masa Shahabat

Sejarah perkembangan masjid erat kaitannya dengan perluasan wilayah kekuasaan Islam dan pembangunan kota-kota baru. Sejarah mencatat bahwa pada masa permulaan perkembangan Islam ke berbagai negeri, bila ummat Islam menguasai sutu daerah atau wilayah baru, baik melalui peperangan atau jalan damai, maka salah satu sarana untuk kepentingan umum yang dibuat pertama kali adalah masjid. Masjid menjadi ciri khas dari suatu negeri atau kota Islam, di samping merupakan lambang dan cermin kecintaan ummat Islam kepada Tuhannya, juga sekaligus menjadi bukti tingkat perkembangan kebudayaannya.

Keadaan bangunan masjid, berikut sarana dan perlengkapannya, yang tampak dalam banyak masjid di berbagai belahan dunia tidak terwujud begitu saja, tetapi berproses dari bentuk dan kondisi yang sangat sederhana sampai pada bentuk yang dapat dikatakan sempurna. Karena itu, bentuk, wujud, dan corak bangunan masjid dari masa ke masa mengalami perubahan; berbeda antara satu masa dengan masa yang lainnya. Perubahan atau perbedaan itu juga terkait dengan proses waktu persentuhan Islam dan penganutnya dengan seni dan budayanya yang beragam.

Pada masa shahabat, perubahan dan perkembangan masjid itu, lebih terlihat pada perubahan atau perkembangan wujud fisiknya saja (bentuk, corak dan jumlahnya) saja. Perubahan atau perkembangan itu terjadi, seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan jumlah penganut Islam yang terus membesar dan meluas, melampoi jazirah Arab. Perubahan dan perkembangan fisik bangunan masjid yang terjadi, pada masa shabat, antara lain:

Pertama, Perluasan area masjid dan sedikit penyempurnaan, Tuntutan perluasan bangunan masjid sepeninggal Rasulullah, dari waktu ke waktu senantiasa mengalami perkembangan. Hal ini seperti yang terjadi pada Masjid al-Haram yang diperluas Umar Umar ibn al-Khathab pada tahun ke-17 H. dengan sedikit penyempurnaan, yaitu berupa pembuatan benteng atau dinding rendah, tidak sampai setinggi badan. Hal yang sama dilakukan pula oleh Utsman ibn `Affan, pada tahun 26 H. Demikian pula dengan Masjid Nabawi yang diperluas oleh Umar ibn al-Khaththab sekitar 5 meter ke selatan dan ke barat, serta 15 meter ke arah utara, yang pada pada tahun 29 H. diperluas dan direnofasi oleh Utsman ibn `Affan dengan menggantikan tiang-tiangnya dengan batu dan besi berlapis timah, serta mengganti atafnya dengan kayu, Utsman ibn `Affan juga melakukan pemugaran dan perluasan terhadap masjid Quba.

Kedua, pembangunan masjid-masjid baru, di beberapa daerah atau wilayah yang berhasil dikuasai. Di Bait al-Maqdis, Umar membangun sebuah masjid yang berbentuk lingkaran (segi delapan) dan dindingnya terbuat dari tanah liat. Tanpa atap. Tepatnya di atas bukit Muriah. Kemudian masjid yang dibangunnya ini dikenal dengan masjid Umar. Di Kufah, pada tahun 17 H. Sa`ad ibn Abi waqas, sebagai panglima perang membangun sebuah masjid dengan bahan-bahan bangunan Persia lama dari Hirah dan selesai pada tahun 18 H. Masjid ini sudah memiliki mihrab dan menara. Di Fustat, Mesir, pada tahun 21 H. `Amr ibn al-Ash, sebagai panglima perang ketika menaklukkan daerah tersebut, membangun masjid al-Atiq. Secara fisik masjid ini relatif sudah berkembang maju bila dibandingkan dengan masjid-masjid yang ada. Di Kota Basrah, pada tahun 14 H, oleh `Utbah ibn Ghazwan. Di Madain, pada tahun 16 H. Sa`ad ibn Abi Waqas menjadikan sebuah gedung sebagai masjid. Di Damaskus, pada tahun 14 H., Gereja St. John dibagi dua, sebagian (timur) menjadi milik muslim, oleh Abu Ubaidah ibn Jarah.

Sementara itu, dari segi peran dan fungsinya, masjid pada masa shahabat relatif tidak mengalami perubahan atau pergeseran, masih tetap seperti pada masa Rasulullah. Secara garis besarnya, masjid masih tetap memiliki dua fungsi. Pertama fungsi keagamaan, sebagai pusat atau tempat peribadatan seperti shalat, dzikir, do`a dan `itikaf. Kedua fungsi sosial, sebagai pusat pembinaan, pendidikan, pengajaran ummat Islam. Termasuk kedalam fungsi yang kedua ini, masjid pada masa shahabat, juga digunakan sebagai pusat administrasi pemerintahan, tempat konsultasi dan komunikasi masalah-masalah keummatan, tempat santunan sosial, markas perrtahanan dan keamanan, tempat pengobatan korban perang, tempat perdamaian dan penyeleseaian persengketaan, tempat permusyawaratan kenegaraan, tempat penerimaan tamu negara.

P e n u t u p
Dari paparan di atas, muncul pertanyaan: “apakah fungsi dan peran-peran di atas, adalah suatu kemestian; memang itulah yang seharusnya melekat pada masjid kapan dan di manapun ? Atau semuanya itu terjadi, semata-mata disebabkan karena memang pada saat itu sarana dan fasilitas untuk menampung kegiatan-kegiatan itu belum ada ? Jawaban sementara penulis, tidak semuanya merupakan satu kemestian.

Wallohu `Alam bi al-Shawab.-

Bandung, 26 Agustus 2000‏
Penulis.

Daftar Pustaka
Ismail R. Al-Faruqi. 1986. The Cultural Atlas of Islam. New York: Macmilan Publishing Company.
Omar Amin Husen, 1981. Kultur Islam, Jakarta: Bulan Bintang.
Ira M. Lapidus. 1999. A. History of Islamic Societies. Alih Bahasa “Sejarah
Sosial Ummat Islam, oleh: Ghufran A. M. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Abdul Aziz Dahlan (Ed.). 1996. Ensiklopedi Hukum Islam. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve.
Quraish Shihab. 1999. Wawasan Al-Quran. Bandung:Mizan
M. Ali al-Sayyis. T.t. Tafsir Ayat al-Ahkam
Al-Alusi. Tafsir Ruh al-Ma`ani.
Nurcholish Madjid, 1997. Kaki Langit Peradaban Islam. Jakarta: Paramadina.
Sidi Gazalba. 1994. Mesjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Pustaka al-Husna.