Masjid dalam Perspektif Sejarah dan Hukum Islam

Masjid dalam al-Quran

Dalam al-Quran, masjid sebagaimana dalam pengertian di atas, diungkapkan dalam dua sebutan. Pertama, “masjid”, suatu sebutan yang langsung menunjuk kepada pengertian tempat peribadatan ummat Islam yang sepadan dengan sebutan tempat-tempat peribadatan agama-agama lainnya (Q.S. 22:40). Kedua, “bayt” yang juga menunjukkan kepada dua pengertian, pertama tempat tinggal sebagaimana rumah untuk manusia atau sarang untuk binatang dan kedua “bayt Allah”.

Kata “masjid”, disebut dalam al-Quran sebanyak 28 kali, 22 kali di antaranya dalam bentuk tunggal dan 6 kali dalam bentuk jamak. Dari sejumlah penyebutan itu, 15 kali di antaranya membicarakan tentang “Masjid al-Haram”, baik yang berkaitan dengan kesejarahannya, maupun motivasi pembangunan, posisi dan fungsi yang dimilikinya serta etika (adab) memasuki dan menggunakannya. Banyaknya penyebutan, Masjid al-Haram dalam al-Quran tentang masjid, mengindikasikan adanya norma standard masjid yang seharusnya merujuk kepada norma-norma yang berlaku di Masjid al-Haram. Dalam kaitanannya dengan ibadah shalat yang dijalankan oleh seluruh ummat Islam kapan dan di manapun, maka yang menjadi arah shalatnya (qiblat) adalah sama, yakni masjid al-haram atau Ka`bah (Q.S. al-Baqarah, 2: 144, 149-150). Itulah sebabnya, maka seluruh bangunan masjid, harus selalu mengarah ke masjid al-Haram; sesuatu yang sangat berbeda manakala di bandingkan dengan bangunan-bangunan peribadatan agama lain.

Dalam fungsinya sebagai kiblat, masjid al-haram menempati posisi yang sangat suci dan istimewa. Di dalam dan di sekitar Masjid al-Haram, ummat Islam harus menjaga kemanan dan kekhusuan ibadah sedemikian rupa sehingga orang-orang yang membeci Islam tidak dapat masuk dan bahkan tidah boleh mendekatinya (Q.S. 9: 28). Di dalam dan di lingkungan sekitarnya ummat Islam juga di larang berperang, kecuali kalau diserang; tidak boleh memerangi orang musyrik kecuali jika mereka yang memulai (Q.S. al-Baqarah, 2: 191). Sebaliknya ummat Islam diperintahkan untuk memakai pakaian dan perhiasan yang indah dan memakai wangia-wangian jika mau memasiku masjid (Q.S. al-`Araf, 7:31), berusaha untuk saling menjamin kebutuhan pokok sesama orang yang mengunjungi masjid al-haram, dengan penuh keikhlasan (Q.S. ,9:19) Ummat Islam dilarang keras berbuat sewenang-wenang terhadap orang yang sempat menghalang-halangi mereka untuk pergi ke masjid. Mereka dibimbing untuk membalas keburukan orang dengan perilaku yang disemangati oleh jiwa keadilan dan kebenaran (Q.S. al-maidah, 5:2).

Di luar konteks pembicaraan tentang masjid al-Haram, al-Quran menegaskan ada dua motivasi pendirian bangunan masjid. Pertama motivasi taqwa dan kedua motivasi kejahatan. Kedua motivasi ini indikatornya dapat diketahui melalui perilaku. Motivasi taqwa ditandai oleh kelurusan pikiran dan kejernihan hati para pengelolanya. Mereka tidak mempertukarkan kejujuran dan kebenaran dengan usaha mencari keuntungan duniawi. Kejujuran dan kebenaran tetap ditegakkan walau dengan itu menghadapi risiko dan kerugiaan duniawi. Sebaliknya pendirian masjid dengan motivasi kejahatan ditandai dengan perilaku buruk, pembangakangan, penuh dengan intrik dan rekayasa untuk memecahbelah ummat serta seba-gai tempat untuk mengintai gerak-gerik ummat Islam yang selalu berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan (Q.S. 9: 107-110).

Sementara itu, kata “bayt” dalam segala bentuknya disebut dalam al-Quran sebanyak 69 kali, 15 kali di antaranya dimaksudkan untuk membicarakan Masjid al-Haram. Kata “bayt” dalam pengertian Masjid al-Haram, umumnya dikaitkan dengan sejarah kehidupan Nabi Ibrahim dan Ismail am.s. serta pembicaraan tentang manasik haji. Dari ayat-ayat ini diketahui, bahwa masjid al-Haram bagi penyembahan pada Allah dengan penuh keberadaban dan keadilan (Q.S. Ali Imran, 3: 96) dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Ismail (Q.S. al-Baqarah,2: 127) yang berfungsi sebagai tempat perlindungan yang aman (Q.S. al-Baqarah,2: 125). Namun demikian, dalam perjalanan sejarahnya, Masjid al-Haram sempat dijadikan sebagai tempat peribadatan yang tidak berkeadaban. Kaum Musyrikin Quraisy beribadah di dalamnya dengan cara yang tidak beradab. Mereka bersiul, bersorak-sorai dan bertelanjang sambil mengelilingi Ka`bah. Suatu gambaran penyembahan berhala yang ramai, ribut, penuh kepalsuan diri. Peribadatan yang sama sekali jauh dari kehidmatan dan kekhusuan bathin sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW.