Bagaimana Kedudukan Shalat Tahiyatul Masjid ?

Pertanyaan :

Bagaimana hukum dan kedudukan shalat Tahiyatul Masjid ?
(diajukan oleh Didi Solo, member group facebook Muhammadiyah)
Jawab :
Shalat
Tahiyatul masjid disyariatkan pada setiap saat; ketika seseorang masuk
masjid dan duduk di dalamnya. Menurut Madzhab Syafi`i dan Hanbali,
sekalipun pada waktu-waktu yang terlarang untuk shalat.

Hadits dari Abu Qatadah ra. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

“Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat
dua rakaat sebelum dia duduk.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits dari Jabir bin Abdullah -radhiallahu anhu- dia berkata:

جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ, فَجَلَسَ. فَقَالَ لَهُ: يَا
سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا! ثُمَّ قَالَ:
إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ
فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا
“Sulaik
Al-Ghathafani datang pada hari Jum’at, sementara Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam sedang berkhutbah, dia pun duduk. Maka beliau pun
bertanya padanya, “Wahai Sulaik, bangun dan shalatlah dua raka’at,
kerjakanlah dengan ringan.” Kemudian beliau bersabda, “Jika salah
seorang dari kalian datang pada hari Jum’at, sedangkan imam sedang
berkhutbah, maka hendaklah dia shalat dua raka’at, dan hendaknya dia
mengerjakannya dengan ringan.” (HR. Al-Bukhari no. 49 dan Muslim no.
875)


Tuntutan
shalat dua raka`at tersebut, sudah terpenuhi dengan shalat apa saja
yang dikerjakan sebelum duduk. Jika seorang masuk masjid setelah azan
lalu shalat sunnah qabliah tidak perlu shalat tahiyyatul masjid terlebih
dahulu atau bahkan masuknya setelah iqamah, langsung saja ikut shalat
fardhu secara berjama`ah.

Tuntutan ini berlaku untuk setiap
masjid, termasuk MASJID AL-HARAM, mengingat apa yang dikenal di
masyarakat bahwa Tahiyyatul Masjid al-Haram adalah Thawaf, 
تحية البيت الحرام هي الطواف – من أتى البيت فليحيه بالطواف
adalah bukan hadits, atau hadits yang tidak diketahui autentisitasnya,
sebagai yang dinyatakan oleh al-Zaylai : La ashla lahu (tidak ada asal
baginya) atau Ibn Hajar al-Atsqalani, “lam ajidhu” (aku tidak
menemukannya dalam periwayatan hadits).

Ulama Fiqh bersepakat
atas ke-masyru`-annya, tetapi mengenai kedudukan hukumnya mereka
berbeda. Sebahagian besar (jumhur) menghukuminya sebagai SUNNAH tepatnya
SUNNAH MU’AKKADAH dan sebagian lagi menghukuminya sebagai WAJIB.

Jumhur Ulama menghukuminya sebagai sunnah, mengingat ditemukan dalil
lain sebagai qarinah yang menunjukkan bahwa shalat tahiyyatul masjid
tersebut bukan sebagai SALAT WAJIB

Thalhah bin Ubaidullah ra.: berkata,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرُ الرَّأْسِ نَسْمَعُ دَوِيَّ صَوْتِهِ وَلَا
نَفْقَهُ مَا يَقُولُ حَتَّى دَنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي
الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ فَقَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُنَّ قَالَ لَا
إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ

“Seorang laki-laki dari penduduk Nejd
yang rambutnya berdiri datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam, kami mendengar gumaman suaranya, namun kami tidak dapat
memahami sesuatu yang dia ucapkan hingga dia dekat dari Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam, ternyata dia bertanya tentang Islam. Maka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Islam adalah shalat
lima waktu siang dan malam.’ Dia bertanya lagi, ‘Apakah saya masih
mempunyai kewajiban selain-Nya? ‘ Beliau menjawab: ‘Tidak, kecuali kamu
melakukan shalat sunnah. [HR. Bukhari + Muslim]

عَنْ أَبِي
وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ
أَقْبَلَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ فَوَقَفَا عَلَى
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا
فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الْآخَرُ
فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا
فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا
أُخْبِرُكُمْ عَنْ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى
اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا
اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ

Abu Waqid Al Laitsi, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
ketika sedang duduk bermajelis di Masjid bersama para sahabat datanglah
tiga orang. Yang dua orang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
dan yang seorang lagi pergi, yang dua orang terus duduk bersama Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam dimana satu diantaranya nampak berbahagia
bermajelis bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang yang kedua
duduk di belakang mereka, sedang yang ketiga berbalik pergi, Setelah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai bermajelis, Beliau
bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi?” Adapun
seorang diantara mereka, dia meminta perlindungan kepada Allah, maka
Allah lindungi dia. Yang kedua, dia malu kepada Allah, maka Allah pun
malu kepadanya. Sedangkan yang ketiga berpaling dari Allah maka Allah
pun berpaling darinya”. [HR. Bukhari + Muslim]

*) Drs. H. Dadang Syaripudin, MA. , Anggota Lajnah Tarjih PP Muhammadiyah , Wakil. Ketua PWM Jawa Barat