Menlu India Kunjungi PP Muhammadiyah Bahas Pendidikan

Sangpencerah.id – Menteri Luar Negeri (Menlu) India M J Akbar mengunjungi pengurus Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Jakarta, Senin (30/7). Akbar membicarakan kerja sama dengan PP Muhammadiyah di bidang pendidikan.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan, kunjungan Akbar dalam rangka menyambung kunjungan PP Muhammadiyah bersama Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ke India. Pemerintah India sangat mengapresiasi Muhammadiyah karena dianggap sebagai organisasi Islam modern yang besar. Muhammadiyah juga dipandang memiliki pengaruh di Indonesia dan punya peran membawa kehidupan keagamaan yang maju.

“Poin dari kehadirannya itu mengajak menindaklanjuti kerja sama di dua bidang. Pertama, (bidang) pendidikan yakni pertukaran dosen, mahasiswa untuk beasiswa dan program-program pendidikan lain yang nanti kita susun program konkretnya,” kata Haedar┬ádi Gedung PP Muhammadiyah usai bertemu menlu India, Senin (30/7).

Ia melanjutkan, kedua dalam bidang atau program-program resolusi konflik antar kelompok sosial dan peranan agama serta kelompok agama. Tujuannya menciptakan integrasi nasional dalam membangun kehidupan yang lebih maju.

Ia menyampaikan, sebenarnya Muhammadiyah sudah punya program kerja sama antarperguruan tinggi. Misalnya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan UMS sudah punya program kerjasama dengan Jawaharlal Nehru University (JNU) dan Aligarh Muslim University (AMU) di India. Ini sebagai program-program perintis sehingga masih perlu pengembangan.

“Ada banyak peluang sebenarnya dari Pemerintah India untuk beasiswa bagi (pelajar) Indonesia, kita juga menawarkan lewat PCIM India untuk program beasiswa bagi (pelajar) India ke perguruan tinggi Muhammadiyah,” ujarnya.

Haedar menerangkan, sekarang tinggal bagaimana dua pihak mencoba mengakselerasi program-program yang bisa dikembangkan bersama serta konkret. Sebab bagi Muhammadiyah, semangat Islam rahmatan lil alamin itu tidak cukup lewat retorika. Islam rahmatan lil alamin merupakan Islam yang bisa menjadi contoh bagi dunia, Islam yang damai dan Islam yang toleran.

Dia menjelaskan, program yang dikembangkan bersama bisa melalui pertukaran budaya, dialog dan kerja sama pendidikan. Sebab pendidikan bisa menjadi instrumen penting bagi pendewasaan sosial, bukan hanya di dalam negeri tetapi antar bangsa dan negara. Orang bisa dipersatukan oleh pendidikan.

“Jadi pendidikan merupakan instrumen yang sangat universal di mana lewat pendidikan orang tidak tersegmentasi oleh agama, oleh suku, oleh ras, oleh golongan bahkan oleh negara,” ungkapnya.

Haedar menegaskan, Muhammadiyah punya peluang yang lebih terbuka untuk menjalin kerja sama dengan banyak negara. Muhammadiyah sudah punya 23 cabang istimewa di berbagai negara termasuk di India.(rol)