Tanda-tanda Lailatul Qadr Menurut Buya Hamka

Buya Hamka

Tak terasa umat Islam memasuki sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan. Sebagian orang akan berikhtiyar semaksimal mungkin menambah frekuensi ibadahnya untuk meraih “Lailatul qadr”.

“Dan sudahkah engkau tahu, apa malam kemuliaan itu” (al-Qadr: 2). Pada ayat berikutnya dijelaskan sebuah malam yang keutamaannya sama dengan 1000 bulan atau sekitar 80 tahun lebih umur umat manusia.

Di dalam surat Ad-Duhkhan ayat 3, malam itu disebut “Lailatin Mubakaratin”, yakni malam yang diberkati Tuhan.

Di akhir surah al-Qadr dijelaskan bahwa Lailatul Qadr adalah malam sejahtera, malam yang damai. “Sejahteralah dia hinggga terbit fajar” (Al-Qadr: 5).

Mantan ketua Umum MUI, Buya Hamka menulis dalam tafsir “Al-Azhar”, mulai malam itulah terobati hati manusia bernama Muhammad saw yang sudah sekian lama merasa diri terpencil dalam kaumnya karena perasaannya yang murni sejak kecilnya tidak menyetujui penyembahan berhala dan tidak pernah beliau memuja patung-patung dari batu dan kayu (Tafsir Al-Azhar juz 30, 2004, hal 225).

Ada tiga riwayat kuat tentang terjadinya Lailatul Qadr:

Pertama, sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan, yakni sejak malam ke-21. Karena sejak malam itu, Rasulullah Saw memperkuat ibadahnya daripada malam malam sebelumnya.

Kedua, dari pendapat Imam As-Suyuthi, yang kemudian dikuatkan oleh Syeikh Khudari, jatuhnya pada 17 Ramadhan.

Ketiga, Ibnu Hajar yang mengatakan Lailatul Qadr yang sebenarnya hanya sekali. Yakni saat Alquran turun sewaktu Rasul beruzlah di dalam gua Hira.

Sementara Lailatul Qadr yang kita peringati dan memperbanyak ibadah pada tiap malam hari bulan puasa itu, menurut Hamka untuk memperteguh ingatan kita kepada turunnya Alquran itu. Kita hidupkan malam itu, memperbanyak syukur kepada Allah, berdiri mengerjakan shalat yang disebut Qiyamul Lail (tarawih).

Baca Juga:  Ketika Imam Syafi’i Meragukan Ilmu Firasatnya

Telah lama beredar di masyarakat awam tentang tanda-tanda atau gejala Lailatul Qadr. Misalnya air berhenti mengalir, pohon kayu menunduk ke bumi, sinar cahaya bulan tak seperti biasanya dan sebagainya. Semuanya itu tidak bisa dipertangggungjawabkan menurut ilmu agama.

Ada juga kita temukan riwayat yang mengatakan bahwa malam yang diberkahi itu bukanlah Lailatul Qadr, melainkan malam Nisfu Sya’ban. Tetapi dalam pandangan buya Hamka, riwayat tentang Nifsu Sya’ban itu tidaklah bisa dipegang, sanad-sanad kacau balau, riwayatnya banyak yang dhaif, bahkan ada yang dusta. Oleh sebab itu, tidak dapat dijadikan dasar untuk dijadikan akidah dan pegangan.

Dalam buku Renungan Tasawuf, Buya Hamka punya pendapat bahwa Amirul Mukminin yaitu Umar bin Khattab mendapat Lailatul Qadr di luar Ramadan. Suatu malam yang kata Hamka menentukan arah hidup manusia yang awalnya benci dan ingin membunuh Rasul berubah memeluk Islam. Umar dapatkan usai membaca surah Thaha. Selain Umar, orang saleh seperti Fudhail bin Iyyadl dan Syeikh Muhammad Jamil Jambek memperoleh anugerah yang nilainya lebih seribu bulan.

Masih menurut buya Hamka, “Maka untuk mendapat anugerah suasana pendek Lailatul Qadr, yang nilainya lebih 1000 bulan, adalah hati yang ikhlas dihadapkan semata-mata kepada Allah. Mulailah dahulu dengan kesadaran adanya diri sendiri, kemudian lihatlah dan renungilah alam sekeliling”. (Renungan Tasawuf, hal 73-76). Wallahu’allam bishawab

Fadh Ahmad Arifan M.Ag (alif.id)