Muhammadiyah Didorong Lakukan Rekayasa Literasi

Sangpencerah.id – Kemajuan teknologi telah mendorong Muhammadiyah untuk melaukukan terobosan. Hal ini diperlukan demi mengimbangi adanya revolusi industri 4.0 yang telah merasuk dalam masyarakat.

Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Roby Abror mengatakan, saat ini warga Muhammadiyah perlu melakukan semacam rekayasa literasi. Rekayasa yang ia maksud adalah dalam artian positif yakni langkah ijtihad untuk merancang bangun pola literasi yang baru dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 ini.

“Jika dipahami bahwa literasi lama itu adalah kegiatan membaca, menulis dan berhitung, maka paradigma baru yang kita butuhkan ialah literasi baru dengan tiga langkah,” ujar Roby saat menjadi pembicara dalam pengajian Ramadhan PWM DIY di Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Sabtu (2/6).

Langkah pertama yang ia maksud adalah literasi data seperti kemampuan komprehensif sekaligus yaitu membaca, menganalisis dan mengeskplorasi informasi (big data) di dunia digital.

Kedua, diperlukan kemampuan memahami dan menguasai aplikasi onlinedan desain komunikasi modern dalam literasi teknologi. Kemudian, lanjutnya, langkah ketiga yaitu literasi iman, dimana setiap orang hari ini harus mampu bangkit dan keluar dari krisis kemanusiaan dan potret buram dekadensi moral yang hampir terjadi merata di segala usia, dengan cara meneguhkan kembali kesadaran moral-spiritual dalam menjaga nilai-nilai keagamaan, etika Islam, dan tujuan hidup ini semata-mata untuk bekhidmat kepada umat manusia dan memperoleh ridho Allah SWT.

“Setelah memperhatikan inovasi disrupsi yang masif, kita dapat mengukur literasi baru yang diajukan untuk menjawab kebutuhan dakwah komunitas,” ujarnya dalam kajian yang bertema Menyemai Dakwah Komunitas untuk Islam Berkemajuan tersebut.

Ia menilai, dakwah berbasis komunitas yang dirumuskan oleh Muhammadiyah ini berkaitan dengan konsep gerakan jamaah dan dakwah jamaah (GJDJ) yang mengaksentuasikan pada pendekatan kultural, yang selama ini dianggap relevan sebagai solusi atas dakwah Muhammadiyah yang dinilai kering dalam ranah estetika seni dan kebudayaan dan daei aspek virtual di era digital.

Selain itu, ia pun juga menilai perlu ada langkah demi menggairahkan tradisi menulis, sehingga sambil tetap dapat berkumpul dalam sebuah komunitas warga Muhammadiyah juga dapat mengaktualisasikan pemikiran melalui sebuah tulisan.

Saat ini, kaa dia, kita patut bangga bisa melihat lahirnya karya-karya novel yang sangat bagus yang ditulis oleh anggota atau simpatisan Muhammadiyah bahkan sebagiannya sudah bisa difilmkan, seperti Sang Pencerah (2008), Laskar Pelangi (2008) Nyai Ahmad Dahlan (2017), Si Anak Kampoeng (2011), Tenggelamnya Kapal van der Wijck (2013), 99 Cahaya di Langit Eropa (2013), Bulan Terbelah di Langit Amerika (2015), dan lain-lain.(rol)