Yusril : Pak Amien Sudah Kritis Sejak 1990-an, Bukan Mendompleng Mahasiswa

Amien Rais (74) melangkah pelan dari kamar menuju ke ruang tengah di kediamannya di Perumahan Taman Gandaria, Jakarta, Jumat (19/4). Ia menyambut uluran tangan sejumlah anggota tim CNN Indonesia dengan jabat tangan sekadarnya. Matanya menerawang ke sekeliling. Senyumnya tertahan.

Mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) ini kemudian duduk di kursi di salah satu sudut yang disiapkan untuk pengambilan gambar. Di belakangnya, terhampar buku-buku tebal yang memenuhi lemari panjang terbuka yang menutupi sisi dinding itu.

Saat itu, ia, yang memakai peci hitam dan batik abu-abu berlengan panjang, mengakui usia memberi sejumlah konsekuensi kepadanya.

“Saya merasa makin tua juga, makin banyak kekurangan, tak sekuat dulu, makin cepat ngantuk. Kadang-kadang baru baca buku 10 halaman sudah ngantuk. Ada pemerosotan kemampuan fisik, maupun mungkin juga mental. Tapi so far so good, alhamdulillah,” aku dia.

Amien, yang kini menjabat Ketua Majelis Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) ini, juga mengaku masih terus membaca buku. Yang terakhir dibacanya adalah ‘How Democracies Die‘ (2018) karya dua profesor dari Harvard University, Steven Levitsky and Daniel Ziblatt.

Menurut dia, isinya, relevan dengan kondisi saat ini. Bahwa, jika tak hati-hati lembaga-lembaga demokrasi akan perlahan berubah menjadi lembaga otoriter, bahkan totaliter, jika mentalnya belum cukup demokratis.

“Mungkin DPR, pemerintahnya, bahkan opini publiknya, bisa mendorong demokrasi kejebur, termasuk ke jurang. Dan sekarang kita akan ke sana kalau tidak hati-hati. Misalnya, pemikiran soal calon tunggal di Pilpres,” kata Amien. Kritis.

Amien belakangan kerap mengkritik berbagai kebijakan Presiden Jokowi dan partai pendukung pemerintah. Di antaranya, menyebut pembagian sertifikat oleh Jokowi sebagai ‘pengibulan’.

Dia juga menantang Jokowi untuk tak mendiskreditkan umat Islam, selain menyerukan gerakan ganti presiden, hingga dikotomi ‘partai setan-partai Allah’.

Kritis Sejak Lama

Mantan Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra, saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (27/3), menyebut bahwa Amien memang sudah vokal sejak dekade 90-an.

Ketika itu, Amien sudah ceramah dari kampus ke kampus untuk bicara soal beberapa dugaan penyimpangan yang dilakukan oleh Rezim Orde Baru dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Ia pun menepis anggapan bahwa Amien mendompleng gerakan mahasiswa di era 1998.

“Enggak, beliau memang, sebelum mahasiswa turun ke jalan, sudah sering mengkritik Pemerintah dimana-mana,” ungkap Yusril, yang kini menjabat Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB).

Louise Williams, koresponden The Sydney Morning Herald, dalam tulisannya bertajuk ‘Amien Rais: Garis Depan Adalah Sebuah Wilayah Yang Beresiko‘, 22 Mei 1998, menyebut bahwa profesor ilmu politik UGM itu sudah memperingatkan soal potensi kekacauan dalam suksesi Soeharto jika itu makin lama dilakukan sejak sekitar 1993.

Sejak itu, aparat intelijen disebut sudah mencoba menekan Rektor UGM untuk menekan dan mengekang Amien.

Saat kritik terhadap penguasa sama dengan pengkhianatan, tulis Williams, Amien sudah memperingatkan Soeharto agar bisa membaca situasi di masyarakat. “Jangan meremehkan kemarahan dan kekuatan rakyat.”

“Saya sangat tidak sepakat bahwa Indonesia harus memiliki figur pemimpin seumur hidup dan hanya Soeharto yang dapat mempertahankan keseimbangan. Ia tak akan hidup selamanya, dan apa yang akan terjadi, chaos,” cetus Amien, dikutip dari tulisan Williams.

Pernah sekali waktu Amien masuk lingkaran yang dekat dengan kekuasaan, yakni Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di bawah kepemimpinan BJ Habibie. Namun, Amien didesak keluar karena mengungkap soal nepotisme dan ketamakan elite dalam mengontrol tambang emas Busang yang ternyata bodong.

Ia kemudian merintis jalan menuju kepemimpinan di Muhammadiyah sambil tetap menyarakan dorongan suksesi Soeharto. Pada Muktamar Muhammadiyah di Banda Aceh, 1995, ia terpilih sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah dengan raihan suara 98 persen, meski sempat dihantui ketiadaan restu dari Istana.

Saat proses Reformasi akan memasuki puncaknya, Amien, yang saat itu juga menjabat Ketua Umum PP Muhammadiyah, berada di garis depan berhadapan langsung dengan Soeharto.

Ketika itu ia sudah mengumumkan rencana untuk membawa ribuan pengunjuk rasa yang menduduki gedung DPR/MPR ke lapangan Monumen Nasional, Jakarta, dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Nasional, Rabu (20/5/1998).

Namun, hal itu dicegah oleh Yusril dan Pangkostrad Prabowo Subianto, pada Selasa (19/5/1998) malam. Bahwa, ada potensi militer tak segan untuk bertindak keras jika Soeharto merasa kekuasaannya terusik. Terlebih, sekitar 150 ribu tentara sudah bersiaga di sekitar Jakarta Pusat.

“Pak Harto ini semingguan ini masih enak diajak ngobrol, masih tenang. Khawatirnya, beliau kehilangan kesabaran dan memerintahkan tentaran bertindak. Saya bilang ‘ini bisa jadi [seperti tragedi lapangan] Tiananmen [China], Pak Amien. Besar sekali [potensi korbannya]’,” ucap Yusril, sambil meyakinkan bahwa Soeharto akan mundur.

Amien kemudian membatalkan niatnya. Ia mengajak massa untuk ke gedung DPR/MPR, Jakarta, yang sudah diduduki mahasiswa sejak Senin (18/5/1998).

Sejumlah tokoh sudah hadir lebih dulu di lokasi itu, Rabu (20/5/1998). Di antaranya, Adnan Buyung Nasution, Permadi, AM Fatwa, Emil Salim. Mereka kemudian menelpon Amien bahwa massa menunggunya. Amien, yang saat itu tengah di Masjid Al-Azhar, Jakarta, dijemput dengan mobil.

Tiba di kompleks parlemen, kata Amien, “Ratusan ribu mahasiswa itu bersorak-sorai, ‘Amien, Amien, Amien’. Terus teman sayang megangin saya. ‘Mas Amien, istighfar, jangan jadi sombong’.”

Sejak saat itu, julukan ‘Bapak Reformasi’ melekat padanya. Soeharto kemudian menyatakan berhenti pada Kamis (21/5/1998).

Amien sendiri tak risau dengan sebutan ‘Bapak Reformasi’ atau sebaliknya, tudingan-tudingan miring terhadapnya di seputar Reformasi 1998. Baginya, saat itu ia hanya bekerja untuk menjalankan ajaran Tuhannya.

“Itu terserah, jadi saya enggak pernah sedikit pun ingin seperti itu, karena saya ini bekerja bukan untuk manusia,” aku dia.

Jadi Anda tidak berharap mendapat gelar ‘Bapak Reformasi’? “Enggak. Saya dikatakan brengsek, diejek, ditipu, saya ketawa aja. Kalau kamu suka, alhamdulillah, enggak suka, ya enggak apa-apa,” timpal Amien.(cnn)