Amien Rais vs Tuan Jendral

Kicauan nyaring Amien mengenai Busang begitu sangat hit pada beberapa saat sebelum tumbangnya orde baru. Inilah isu terpanas dikuartal pertama 1997. Saya masih ingat betul karena saat tingkat 2 itulah saat sudah mulai tertarik isu-isu politik dan sejenisnya. Dan isu Busang dan freeport adalah bahan diskusi panas dalam beberapa kesempatan dengan beberapa rekan.
Saya ingat betul (tentunya dari media) beliau di goyang di berbagai posisinya, entah itu di Muhammadiyah yang saat itu dia pimpin, hingga akhirnya dia mengundurkan diri sebagai Ketua Dewan Pakar ICMI. Atas desakan penguasa tertinggi yg gerah kicauan beliau saat itu. Walaupun akhirnya beberapa saat setelahnya terbukti kasus Busang terkuak sebagai skandal insternasional yg memalukan. Dan Freeport hingga 20 tahun kemudian masih “berproses”.
Apakah Amien Rais tamat? Beliau malah maju terus hingga menemukan momentumnya disaat penggulingan Order baru setahun setelah kasus ini. Bersama para mahasiswa dengan idealisme dan keberaniannya. Beliau muncul sebagai salah satu figur central. Yang nyawa, karir dan keluarga menjadi taruhannya. Orde baru tumbang juga akhir. Sesuatu yg tidak disangka-sangka …..
Waktu terus berlalu, Pak Amien dengan peran yg dibawakannya. Baik buruk, kurang lebih kita bisa menilai sendiri. Lain kepala lain pula pendapatnya. Dia sedang memerankan perannya. Dan sampai pada ancaman bernada Abuse of Power dari seorang Pejabat Level Atas Pemerintahan yg terjadi kemarin lalu bukanlah hal yang baru bagi beliau. Tapi kejadian tersebut membawa ingatan saya kemasa 20 tahun lalu sebelum orde reformasi lahir, hingga akhirnya saya tetiba ingat masih memiliki buku “Ada Apa di Balik Busang” ini di gudang penyimpanan. Ancaman ini sebuah sikap berlebihan yang kita lawan bersama saat itu. Sama berlebihannya saat menyikapi kritikan seorang mahasiswa  yang memberikan kartu kuning beberapa bulan lalu. Yang dipreteli secara fisik dan hal pribadi lainnya.
Bila dulu Pak Amien menyuarakan ketidakadilan dalam kontrak karya Busang dan Freeport, 90% asing banding 10% untuk indonesia. Sekarang beliau mempertanyakan kepemilikan jutaan hektar lahan oleh pribadi dann atau perusahaan tertentu. Seperti saat 1997, apakah sinyal kewaspadaan tersebut akan terbukti?
Sebagai penutup, Pak Amien masih seorang tokoh yang sangatlah layak dihormati. Minimal sebagai seorang sesepuh, kalaupun anda enggan menyebutnya seorang Tokoh Reformasi. Atau anda menyebut namanya dengan “landihan sindir sampir” sambil “nyinyir”. Tapi mungkin sesekali ada baiknya ambil cermin masa lalu dan bertanya pada diri “Sewaktu tahun 97/98 itu saya lagi pake seragam warna apa putih-biru ato abu? Ato jangan-jangan masih putih-merah?”.
Atau mari kita renungilah sebuah kalimat bijak dalam buku Jejak Langkah halaman 32 karya Pramoedya Ananta Toer  yang  berbunyi…. “Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya. Kan begitu Tuan Jenderal?”.
Jadi cerita mana yg mau anda Tulis ?
Bandung, 20 Maret 2018
Jati’tea