Sejarah Valentine dan Kesesatannya

3285

Oleh: Aya S Miza *

Ada banyak sekali hari-hari besar maupun hari istimewa yang dirayakan setiap manusia di dunia. Kebanyakan hari-hari tersebut ditandai dengan berbagai peristiwa maupun simbol yang digunakan sebagai bentuk perayaannya. Salah satunya adalah hari valentine, atau penduduk dunia sering mengartikannya sebagai hari kasih sayang. Hari valentine dilaksanakan setiap tanggal 14 Februari, pada hari itu setiap manusia saling berbagi dan memberi sebagai wujud kasih sayang pada orang terdekat, teman, sahabat, pasangan, orang tua, maupun orang lain yang dianggap penting. Namun, hal tersebut sangat bertentangan dengan ajaran Islam jika dikaji dari segi sejarah, cara pelaksanaan, akibat dari yang melakukan, serta tradisi dari budaya kita sendiri yaitu Indonesia.

Valentine adalah ritual perayaan Romawi kuno yang tujuannya untuk bersenang-senang dengan pasangan atau seseorang yang dilaksanakan setiap tanggal 14 Februari. Valentine (Ubaidah, 2009 dalam Al-Furqan) berasal dari ritual agama Romawi kuno yang biasa dilaksanakan pada 13-18 Februari. Pada dua hari pertama dipersembahkan untuk dewi cinta, Juno Februata. Pada hari ini pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak secara acak, bagi gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun, untuk bersenang-senang dan menjadi objek hiburan.

Pada 15 Februari orang-orang Romawi mengadakan ritual yang disebut Lupercalia, yaitu ritual perlindungan terhadap gangguan serigala. Ritual ini berbentuk pemecutan yang dilakukan oleh kaum muda dengan kulit binatang, dan para wanita berebut untuk dipecut karena percaya bahwa pecutan itu dapat membuat mereka menjadi lebih subur.

Kemudian ritual tersebut di adopsi oleh Kristen Katolik setelah Romawi menjadikannya sebagai agama mereka pada tahun 496 M, dan memiliki banyak pendukung salah satunya Kaisar Konstatine dan Paus Gregory I. Kemudian Paus Gregory I menjadikan Upacara Romawi ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day sekaligus mengubah sistem perayaan dengan nuansa Kristiani diantaranya, sistem pengundian nama gadis diubah menjadi nama pastur atau paus. Tanggal perayaan disamarkan menjadi tanggal 14 Februari, yaitu hari meninggalnya tuan Valentine, ia adalah seorang yang menentang ketetapan Kaisar Claudius II yang melarang para pemuda untuk menikah. Valentine secara diam-diam menikahkan para pemuda, namun akhirnya ia ketahuan dan dihukum gantung.

Seiring perkembangannya, valentine menjadi identik dengan perayaan hari kasih sayang. Manusia di berbagai belahan dunia merayakannya dengan cara yang unik dan berbeda-beda, namun memiliki tujuan yang sama yaitu berbagi hadiah dengan orang-orang tersayang. Misalnya Amerika dengan mayoritas Kristen terbanyak di dunia, mereka merayakan valentine dengan saling memberikan hadiah biasanya coklat dan bunga. Namun ada juga pasangan yang memberikan gaun (Tuasikal, MSc dari muslimah.com edisi 14 Februari 2010). Valentine Amerika lebih identik dengan kasih sayang sesama pasangan atau pacar, seperti ciuman, pelukan, dan hal-hal lain yang tak diinginkan.

Beberapa negara lain (yang bukan Islam) juga melakukan hal yang sama seperti Amerika, termasuk Indonesia dengan mayoritas muslim terbanyak di dunia. Sedangkan dalam Islam valentine adalah salah satu perayaan yang diharamkan. Terdapat pada al-quran surah al-Baqarah ayat 120:

  1. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

Dari ayat di atas sangat jelas bahwa Islam melarang umatnya untuk mengikuti tradisi orang-orang Yahudi ataupun agama lain dalam bentuk apapun. Karena jika umat Islam ikut-ikutan merayakan valentine, artinya mereka termasuk merayakan penyembahan berhala. Jika ikut merayakan berarti ikut menyetujui tradisi Yahudi dan Nasrani tersebut (Ubaidah, 2009 dalam Al-Furqan). Selain itu, banyak mudharat (akibat buruk) yang akan ditimbulkan dari perayaan valentine itu sendiri. Dapat kita saksikan setiap tanggal 14 Februari tidak hanya di dunia tapi juga Indonesia, para pasangan muda saling merayakannya dengan suka cita.

Beberapa akibat yang akan menimpa kaum muslim yang merayakan valentine, pertama yaitu terjadinya perbuatan syirik (menyekutukan Allah). Syirik itu sendiri dibungkus dan terpoles rapi sehingga digandrungi generasi muda Islam yang minim pemahaman agama. Selain terjadinya kesyirikan juga terjadi kemaksiatan lainnya yang merusak akidah. Namun orang Islam itu sendiri tidak mau tahu dengan asal-usul valentine yang merupakan ritual orang-orang kafir. Termasuk pemuda Islam di Indonesia yang kebanyakan kurang memahami bagaimana hukum Islam yang mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Di Indonesia sendiri, tradisi tentang ritual mengundi wanita tidak pernah ada dalam sejarah Indonesia. Walaupun kebudayaan tertentu bisa diserap dan dileburkan dengan budaya lokal, namun konteks dalam valentine adalah percampuran dua manusia untuk saling menunjukkan kasih sayang. Pacaran saja dilarang, apalagi membaurkan diri dalam aktivitas yang menjurus pada kemaksiatan, kecuali bagi mereka yang sudah memiliki status halal. Bukan berarti valentine boleh dirayakan oleh umat Islam yang memiliki hubungan yang sah, karena selain itu dilarang agama, mengungkapkan kasih sayang tidak terbatas hanya pada hari tertentu saja tapi setiap hari.

*(Anggota Majelis Tabligh PW Muhammadiyah SUMBAR)