PP Nasyiatul Aisyiyah Gelar ToT Keluarga Muda Bebas Stunting

41

Sangpencerah.id – Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA), organisasi perempuan muda Muhammadiyah, menyelenggarakan ToT kader pelopor Keluarga Muda Tangguh Nasyiatul Aisyiyah (KMTNA) Bebas Stunting pada Jum’at-Minggu, 1-3 Desember 2017 di Hotel Sofyan, Menteng, Jakarta Pusat. Kegiatan yang diikuti oleh Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah se-Indonesia dan perwakilan ortom Muhammadiyah ini menghadirkan narasumber Dr. Atmarita, M.P.H dari PERSAGI (Persatuan Ahli Gizi Indonesia) dan Dr. Ardi Ardji dari TNP2K (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan), serta Dr. Ali Taher Parasong (Ketua Komisi VIII DPR RI) sebagai keynote speech dalam Pembukaan ToT.

ToT kader pelopor merupakan salah satu dari serangkaian upaya yang dilakukan oleh Nasyiatul Aisyiyah untuk berjihad dalam mencegah stunting. Nasyiatul Aisyiyah merasa perlu untuk turut serta dalam pencegahan stunting karena permasalahan stunting ini erat kaitannya dengan masa depan bangsa. Stunting perlu segera ditanggulangi karena merupakan ancaman serius pada kualitas generasi di masa depan.

Stunting menjadi momok bagi anak Indonesia. Stunting merupakan indikasi dari kejadian yang lebih serius, yaitu rendahnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar serta risiko penyakit tidak menular, seperti stroke, jantung, diabetes, dan hipertensi. Penurunan kualitas intelegensi disertai peningkatan risiko penyakit tidak menular akan menyebabkan mobilitas sosial terhambat sehingga terjadi penurunan produktivitas. Apabila tidak diatasi, stunting akan berdampak besar bagi pertumbuhan ekonomi. Anak yang mengalami stunting pada saat dewasa tidak akan mampu memberi kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia karena tingkat produktivitas dan penghasilan yang lebih rendah. Itulah sebabnya stunting bisa menjadi bahaya sistemik yang terus menerus berlangsung dan mengancam kelangsungan generasi jika tidak segera diatasi.

Stunting adalah hambatan pertumbuhan sebagai bentuk dari kekurangan gizi kronis (dalam waktu cukup lama). Stunting ditandai dengan keadaan dimana tinggi badan anak berdasarkan umur rendah, atau keadaan dimana tubuh anak lebih pendek dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Secara fisik, balita yang mengalami stunting memiliki tinggi badan di bawah standar pertumbuhan anak normal seusianya.

Riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat prevalensi stunting nasional mencapai 37,2 persen, meningkat dari tahun 2010 (35,6%) dan 2007 (36,8%). Artinya, pertumbuhan tak maksimal diderita oleh sekitar 8,9 juta anak Indonesia, atau satu dari tiga anak Indonesia. Prevalensi stunting di Indonesia lebih tinggi daripada negara-negara lain di Asia Tenggara, seperti Myanmar (35%), Vietnam (23%), dan Thailand (16%). Menurut WHO, terdapat 162 juta balita stunting pada tahun 2012. Jika tren berlanjut tanpa upaya penurunan, diproyeksikan akan menjadi 127 juta pada tahun 2025. Sebanyak 56% anak stunting hidup di Asia dan 36% di Afrika.

Melihat urgensi pencegahan dan penanggulangan stunting, Pimpinan Nasyiatul Aisyiyah tergerak untuk melakukan aksi nyata sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa. Melalui Training of Trainer Kader Pelopor Keluarga Muda Tangguh Nasyiatul Aisyiyah Bebas Stunting, Nasyiatul Aisyiyah ingin mencetak kader pelopor yang mempunyai pemahaman komprehensif mengenai stunting dan siap berperan aktif menjadi agen perubahan dan percepatan penanggulangan stunting di Indonesia. Harapannya, kader pelopor dapat membuat rencana aksi dalam pencegahan stunting di wilayah masing-masing sehingga dapat terwujud masyarakat Indonesia yang bebas dari stunting.

Keluarga Muda Tangguh Nasyiatul Aisyiyah (KTMNA) sesungguhnya merupakan multiperspektif tentang pengembangan keluarga yang secara komprehensif berhasil digagas oleh Nasyiatul Aisyiyah, dengan salah satu pilarnya adalah sehat jasmani dan rohani. Untuk menciptakan pribadi yang sehat jasmani dan rohani tentunya dimulai dengan memberikan gizi yang baik pada 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) yang merupakan fase kritis bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Terpenuhinya kebutuhan fisik, rohani, emosional, sosial dan intelektual dari seorang anak akan menjadi bekal untuk menciptakan generasi masa depan yang berkualitas, kuat, sehat lahir dan batin, serta tumbuh dan berkembang optimal.

KTMNA Bebas Stunting menjadi gerakan Nasyiatul Aisyiyah yang paling nyata karena langsung menyentuh masyarakat dengan segala permasalahannya dalam keluarga. Gerakan ini dimulai dari para kader Nasyiatul Aisyiyah dan diimplementasikan serentak serta diturunkan secara bertahap pada struktur Nasyiatul Aisyiyah di seluruh Indonesia melalui Pimpinan Wilayah ke Daerah, Daerah ke Cabang, dan Cabang ke Ranting sehingga dapat langsung menyentuh ke akar persoalan.(sp/red)