Muhammadiyah Bantu Lansia yang Hidup di Gubug 2×4 meter

Sangpencerah.id – Lembaga Amil Zakat Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (LazisMu) Enrekang menunjukan kepeduliannya dengan membantu warga kurang mampu. Salah satunya adalah Daraba (57), pria yang menghuni gubuk kecil di belakang Pasar Sentral, Kabupaten Enrekang.

Kehidupan Daraba (57) cukup miris. Iinggal sendiri di sebuah gubuk berukuran 2×4 meter di Kelurahan Juppandang, Kecamatan Enrekang. Kehidupannya ini berbanding terbalik dengan suasana Pasar Sentral yang merupakan pusat perekonomian di Kabupaten Enrekang.

Gubuk tersebut hanya berdinding kain dan terpal serta beralaskan karton bekas sebagai tempat tidurnya.

Jangankan kamar mandi, pintu di gubuk tersebut pun tidak ada. Ia membuat gubuk tembok yang berbatasan langsung dengan sebuah hotel di Kota Enrekang. Daraba sudah dua tahun hidup sendiri di gubuk reot yang ia dirikan di atas tanah bukan miliknya.

Daraba sebenarnya memiliki istri dan tiga orang anak yang tinggal di sebuah rumah, sekitar 10 meter dari gubuknya itu.

Hanya saja, rumah tersebut adalah milik mertuanya dan hubungannya dengan keluarga istrinya tak begitu baik. Karena itu, Daraba tak diperkenankan untuk tinggal di rumah tersebut.

Meski begitu, hubungannya dengan istrinya tetap berjalan baik. Istrinya kerap membawakan makanan untuknya.

“Saya sudah dua tahun tinggal di sini karena tak cocok dengan keluarga istri. Gubuk ini tak muat untuk keluarga saya, jadi biar istri dan anak saya tinggal di sana saya di sini saja,” kata Daraba.

Daraba memiliki tiga orang anak yang semuanya sudah masuki usia sekolah. Anak pertamanya, Muliana, sudah kelas VI SD, Rifal kelas IV SD, dan bungsu, Hardiansyah, di kelas I SD.

Untuk kebutuhan sehari-hari dan membiayai sekolah anaknya, Daraba bekerja sebagai pemulung sampah di Kota Enrekang. Ia kerap berkeliling kota mencari sampah-sampah bekas untuk dijual.

Sesekali ia juga mengisi waktunya dengan bekerja sebagai buruh bangunan demi sekolah anaknya.

“Saya kerja sebagai buruh bangunan dan juga pemulung, saya biasa pulang kerja sampai jam 1 malam,” ujarnya.

Tak banyak yang ia dapatkan dari pekerjaannya itu, ia hanya bisa memperoleh penghasilan paling tinggi Rp 30 ribu per hari. Bahkan kadang juga tak ada hasil sama sekali.

Sementara untuk kebutuhan makan sehari-hari, Daraba mengandalkan beras miskin (Raskin) bantuan dari pemerintah. Itu pun, Raskin tersebut harus dibeli Rp 25 ribu per 15 Kilogram (Kg) setiap bulannya.

“Kalau bantuan saya hanya dapat bantuan Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan beras Rastra,” tutupnya.

Katua LazisMu Enrekang, Nurdin Rauf, berterima kasih kepada semua kalangan yang telah menyalurkan zakat, infaq, dan sedekah melalui LazisMu sehingga bisa disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan.(sp/online24jam)