Muhammadiyah Purworejo Gelar Khitanan Massal

sangpencerah.id – Dalam rangka menyambut tahun baru Islam ke 1439 hijriyah, Muhammadiyah Purworejo selenggarakan Khitanan Massal dan Pengajian Akbar di Aula Panti Asuhan Yatim dan Tunanetra Muhammadiyah Plaosan Purworejo pada Kamis (21/9). Agenda kali ini yang mengangkat tema Menjaga Spiritualitas dan Akhlaqul Karimah untuk Merajut Ukhuwah Islamiyah juga diselenggarakan sebagai semarakkan milad Muhammadiyah ke 108 sesuai perhitungan tahun hijriyah yang jatuh pada bulan lalu. Disampaikan Nifan Nazudi Panitia Pelaksana sekaligus Kepala Panti Asuhan menyampaikan bahwasanya rangkaian kegiatan kali ini guna sambut tahun baru Islam dan milad persyarikatan serta dalam rangka membuktikan akan ketidak benaran kebiasaan pada umumnya yang tersebar terkait tidak baiknya laksanakan hajatan pada bulan muharram.

“Perlu kita berterima kasih pada para pelopor yang mempelopori pelaksana hajatan terutama pada bulan Muharram ini. Kegiatan hari ini yang utama dakwah Muhammadiyah memberantas TBC (Tahayul, Bid`ah dan Churafat). Sehingga, kegiatan ini guna memberikan pembelajaran bagi masyarakat serta menghilangkan stigma buruk selenggarakan hajatan pada bulan syuro (muharram),”ungkapnya.

Tambahnya pula, peserta khitanan massal ini diikuti oleh 42 anak yang berasal dari berbagai daerah serta dalam kesempatan ini juga merupakan momentum silaturahmi alumni panti asuhan sejak angkatan awal hingga yang saat ini. Pengajian dalam kesempatan selain dihadiri alumni juga tamu undangan dari para donatur, muspika dan lainnya yang turut memenuhi ruang kegiatan.

“Mohon doa dari seluruh donatur dan jamaah sesuai dengan hasil musyawarah muhammadiyah cabang Purworejo akan dilaksanakan pemisahan antara panti asuhan putra bertempat di daerah pangenrejo dengan yang putri menempati bangunan plaosan ini. Ke depannya kita proyeksikan menjadi pesantren agar proses pendidikan bagi anak asuh semakin baik”,ujarnya.

Ditambahkan Drs. H. Pujiono Ketua PD Muhammadiyah Kabupaten Purworejo dalam sambutannya, agenda pada Muharram ini sebagai bentuk dakwah mencerahkan. “Agenda ini memberikan makna untuk ber-Hijrah Iqtiqodiyah, Hijrah Keyakinan. Harapannya semakin mencerahkan pemahaman masyarakat”,ujarnya.

Agenda ini dimeriahkan pula dengan adanya penampilan tim hadroh panti asuhan dan penampilan tari nusantara oleh anak asuh putri. Panti asuhan ini untuk tahun ini mendapatkan amanah pendidikan sejumlah 119 anak asuh dengan 42 anak putri dan 67 anak putra yang sedang menempuh proses pendidikan formal mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi baik di wilayah kabupaten Purworejo, luar daerah bahkan luar negeri.

“Muhammadiyah telah berhasil mengevolusi budaya dengan cara yang baik terkait pelaksanaan agenda pada bulan muharram ini. semoga ke depan selalu dapat menyampaikan dengan baik. Karena agar tidak menimbulkan gejolak dan masyarakat tetap tenang. Kemudian sekaligus peran Muhammadiyah dalam hal pembangunan daerah, diharapkan juga turut serta mendukung pembangunan yang telah menjadi rencana bupati-wakil bupati. Seperti pembangunan fasilitas umum alun-alun, pasar dan objek wisata yang dalam hal ini turut serta mempersiapkan kabupaten menghadapi pembangunan bandara yang berada di kabupaten Kulon Progo”,ujar Sudaryono, S.Sos Camat Purworejo dalam sambutannya.

Pengajian kali ini diisi oleh H. Fachrudin, S.Ag. dari PD Muhammadiyah Bantul D.I.Yogyakarta yang memaparkan tentang istiqomah dalam setiap aktivitas ibadah sehari-hari.

“Keimanan kita semua dikrarkan dengan kalimat syahadah. Yang harus diikuti dengan bulat-bulat tanpa rasa ragu setiap ibadah yang mengikutinya atau dengan Istiqomah yakni tetep madep mantep macep kaliyan sumpahe (syahadah) kalih sumpahe nganti mati. Itu merupakan konsekuensi atas sumpahnya. Melaksanakan segala perintah Nya dan meninggalkan larangan Nya. Sehingga termasuk mengikuti sunnah Rasul termasuk bentuk konkret daripada Istiqomah. Kenapa harus mengikuti, karena diperintahkan oleh Allah. Tahu darimana ?. karena ikut Ngaji. Semuanya dalam rangka mewujudkan ikrar sumpahnya Laa ilahaillallaah,”ungkapnya.

Tambah beliau membedah tambang jawa, Sluku-sluku bathok, Bathoke ela elo yang memiliki maksud yakni sak laku-lakune kudu mantep bathok ane Laa ilahaillallaah. “Setiap aktivitas kita harus berdasarkan pada syahadah yang me-Laa ilahaillallaah-kan laksana landasannya. Insya Allah dengan aktivitas yang terus istiqomah tersebut akan mendapatkan khusnul khotimah,”ujarnya.

“Mari sisa hidup kita, kita jalani dengan istiqomah”,pungkasnya.

BAGIKAN
Berita sebelumyaMasta IMM Universitas Muhammadiyah Purworejo
Berita berikutnya‘Aisyiyah Buleleng Bantu Pengungsi Gunung Agung