Teori Konspirasi Kasus Rohingnya di Myanmar 

115

Dalam beberapa hari ini saya diingatkan oleh sebuah hipotesis yang dari dulu saya tidak setujui, bahkan saya berusaha dengan segala upaya agar gagal terwujud. Dalam bukunya, Clash among Civilizations, Samuel Hantington menyebutkan bahwa memasuki abad 21 ini akan ada tiga kekuatan dunia yang akan bertarung. Kekuatan pertama adalah kekuatan barat yang dikomandoi oleh Amerika dan Eropa Barat. Kekuatan kedua adalah kebangkitan ekonomi baru dengan panglima besarnya China. Dan kekuatan ketiga adalah kebangkitan Islam di berbagai belahan dunia.

Pikiran saya itu tiba-tiba saja terbang kemana-mana karena kekerasan dan konflik yang semakin menjadi-jadi di Myanmar atau yang juga dikenal dengan Burma. Di mana dalam beberapa hari terakhir kelompok minoritas Muslim Rohingyah mengalami kekerasan yang tidak manusiawi oleh Junta militer Burma dan juga kelompok Buddha radikal di negara itu. Saya ikuti perkembangan itu baik melalui media mainstream dan media sosial, bahkan dengan beberapa relasi di lapangan semakin memprihatinkan. Pada saat yang sama protes dan kemarahan umat Islam semakin menguat, dari Eropa ke Asia termasuk di negara kita Indonesia.

Tiba-tiba saja di benak saya timbul  beberapa pertanyaan. Apakah hipotesis Hantington itu memang benar? Kenapa Myanmar? Lalu konsekwensi apa yang akan terjadi ke depan?
Perbenturan peradaban?

Hingga detik ini saya masih yakin bahwa peradaban itu tidak perlu berbenturan. Karena dalam keyakinan saya peradaban sesungguhnya secara fundamental berkarakter universal. Saya seringkali menterjemahkan peradaban dengan memakai bahasa Al-Quran: “rahmatan lil-alamin”. Bahwa peradaban itu, selama peradaban, tidak tersekat-sekat selama dikelolah secara jujur.

Dalam pandangan saya peradaban merupakan hasil karya intelijensia manusia dalam perjalanan sejarahnya. Inilah yang kita lihat betapa karya-karya Yunani Kuno pada zaman keemasan Islam diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, lalu kemudian berkembang dan pada akhirnya diadopsi oleh peradaban barat.

Yang terjadi dalam pandangan saya adalah adanya celah-celah kekurangan atau ketidak sempurnaan pada masing-masing peradaban pada masanya. Tidak diingkari bahwa peradaban Yunani pada masanya dianggap mencapai puncak keemasannya. Sayangnya peradaban Yunani mengalami  ketimpangan. Pemikiran manusia saat itu didominasi oleh keangkuhan rasionalitas (filsafat). Demkian pula saat ini peradaban barat dan dunia terlalu menitik beratkan pada pembangunan material melalui pengembangan sains dan teknologi.
Peradaban Islamkah kemudian pada masanya kemudian menyadari urgensi keseimbangan (balance) antara semua elemen peradaban itu. Dalam Islam pembangunan perdaban tidak terlepas dari tiga elemen hidup manusia. Kekuatan intelijensia, kekuatan materi, dan tidak kalah pentingnya adalah soliditas ruhiyah (spiritulitas). Kejatuhan masing-masing peradaban itu dikarenakan hilangnya keseimbangan dalam pilarnya. Kita ingat, kejatuhan peradaban Islam dikarenakan hilangnya keseimbangan material-spiritualnya. Ada masa-masa di mana umat ini terlalu menekankan aspek materi (materialistik). Dan ada pula masa-masa di mana aspek spiritualitas menjadi perhatian seraya mengabaikan  urgensi pembangunan keilmuan dan materi.

Pertimbangan di atas menjadikan saya tetap yakin bahwa peradaban itu selama memang peradaban tidak akan berbenturan (clash), siapapun pelakunya. Karena peradaban yang dibangun oleh masing-masing kelompok dan generasi manusia memiliki koneksi universal. Semua peradaban bertujuan membangun kemakmuran yang berkeadilan demi terwujudnya kedamaian dan kebahagiaan. Mungkin peradaban yang digambarkan oleh Al-Quran: baldah thoyyibah wa Rabb Ghafuur (negeri yang baik di bawah naungan Tuhan yang Pengampun).

Lalu kenapa ada benturan di antara kelompok manusia? Dari pemahaman di atas jelas bahwa yang berbenturan bukan peradaban. Tapi justeru sebaliknya yang berbenturan adalah peradaban dan paham kejahilan (jahiliyah). Yang akan berbenturan bukan peradaban. Atau yang paling jelas di hadapan mata adalah berbagai kepentingan dan nafsu serakah untuk menguasai dunia. Saya lebih cenderung mengistilahkan “clash of interests”.
Saya tetap yakin jika peradaban itu adalah aktualisasi dari “human wisdom” (kearifan manusia) yang boleh saja ada di mana-mana tanpa batas. Kearifan itu tentunya pada masing-masing kelompok manusia memiliki basis ideologinya masing-masing. Secara individual (setiap kelompok) berbeda dari kelompok lainnya. Di sinilah kemudian keragaman itu akan terjadi. Dan keragaman inilah kemudian direspon oleh ajaran Al-Qur’an: “lita’arafuu”. Initinya untuk saling mengenal, menimbah, sharing dan caring (saling berbagi dan memelihara).

Oleh karenanya sekali lagi, apapun realitanya, saya tetap menolak teori “clash among civilizations”. Sebagai langkah konkrit dari antisipasi untuk tidak terjadinya apa yang kemudian diasumsikan sebagai perbenturan itu, maka proses dialog atau ta’aruf tadi harus ditumbuh suburkan.

Kenapa Myanmar?
Barangkali ini teori konspirasi yang tumbuh di benak saya. Setelah saya mencoba merenung, memikirkan dalam-dalam, serta mencari titik-titik yang berserakan dari semua teka-teki yang ada itu, saya  membangun kecurigaan jika  Chinalah sebagai aktor utama di balik dari kekerasan dan konflik di Myanmar ini.

Kenapa demikian? Tidak diingkari bahwa China memang memiliki ambisi besar untuk melakukan ekspansi kekuatan ekonomi dunia. Dan semua itu harus bermula dengan menguasai Asia, lebih khusus lagi Asean. Siapa yang bisa mengingkari lagi kekuasaan China di negara-negara Asean? Bahkan negara besar, dengan penduduk Muslim terbesar dunia sekalipun, sesungguhnya secara ekonomi berada di bawah dekapan kekuatan ekonomi China. Dan China tidak berhenti dengan itu. Tapi akan melakukan upaya-upaya “singaporezation” (pengsingapuraan) negara-negara Asean lainnya. Uji coba itu akan dikakukan terus. Gagal sekali bukan berarti kegagalan. Tapi justeru dengan kekuatan ekonomi akan terus melakukan hingga amibisi kekuasaan itu terwujud.

Lalu apa hubungannya dengan Myanmar? Jawabannya karena Myanmar adalah salah satu benteng teritorial negara China. Selain Korea Utara di timur, Vietnam di selatan, Thailand di tenggara, dan Mongolia serta Tibet di bagian utara.

Tentu yang kita maksud benteng di sini bukan sekedar benteng teritorial. Tapi sekaligus benteng ideologis, kultural dan ekonomi. Khususnya benteng ideologis; Sosialis (komunis).
Dari sinilah, dan dengan merujuk kepada realita perkembangan Islam dunia, bahkan di dunia barat sekalipun, tumbuh ketakutan (phobia) besar di benak mereka. Dan di negara diktatorial seperti Myanmar, cara genosida inilah adalah cara efektif untuk menghalangi dan menghancurkan apa dan siapa yang dianggap saingan.

Saya justeru khawatir jika di masa depan, dan ada celah untuk itu, misalnya atas nama membela sesama (meminjam istilah Muslim, membela sauara seiman) akan terjadi ekspansi pada negara-negara tetangga di mana minoritas Islam berada. Bahkan tidak mustahil kemudian mereka akan mendapat justifikasi untuk melakukan hal sama pada masyarakat Muslim di negara-negara mayoritas Muslim. Sumbu bom itu memang ada di Myanmar. Tapi bom-bom yang siap diledakka n itu sudah dirakit di semua negara-negara Asia, khususnya Asean.

Benar tidaknya dari terori di atas hanya Allah dan pelaku yang tahu. Tapi realitanya Myanmar adalah negara kecil dan miskin. Rasanya mustahil bagi negara ini untuk melakukan apa yang dilakukan saat ini tanpa adanya dukungan kekuatan besar dibelakangnya.

Bahaya laten ke depan
Yang saya khawatirkan kemudian sebenarnya adalah Myanmar justeru akan dikorbankan, dan dijadikan “battle ground” bagi berbagai kepentingan yang berbenturan. Negara-negara Barat telah berhasil memporak porandakan Timur Tengah, Irak dan Suriah, dan negara-negara tetangga lainnya, juga dimulai dari perang Afghanistan. Dari sanalah umpang empuk peliharaan itu diekspor ke negara-negara yang menjadi target. Umpang yang tadinya dijadikan “pahlawan” di Afghanistan itu kemudian dijadikan “pembenaran” untuk meluluh lantahkan negara-negara yang menjadi target.

Teori konsoirasinya adalah kemungkinan saja konflik Myanmar akan dibiarkan, bahkan dieskalasi menjadi lebih luas. Dan pada akhirnya  kelompok-kelompok seperti Abu Sayyaf dari Filipina Selatan misalnya tidak akan tinggal diam. Demikian pula mereka yang dari Malaysia dan Indonesia, bahkan Thailand Selatan. Semua boleh jadi akan dibiarkan mengambil bahagian di Myanmar, dan sebagian dibiarkan melakukan aksi-aksi sporadis di berbagai negara Asean. Lalu pada akhirnya kekuatan besar ini akan menemukan justifikasi untuk melakukan aksi, yang nantinya akan mendapat justifikasi hukum atas nama “war against terrorism”.

Tujuannya utamanya memang bukan invasi militer. Tapi dengan konflik di negara itu akan  terjadi “destabilisasi” sehingga dengan sendirinya negara itu akan menjadi “budak kecil” bagi kekuatan dominan Asia.

Apalagi jika kita ingat pesta politik di ibukota baru-baru ini. Bukankah memang mengecewakan bagi sebagian?
Ah semoga saja saya salah!

Imam Shamsi Ali
New York, 4 September 2017