Pemuda Lintas Agama Berkumpul di PP Muhammadiyah, Keluarkan 8 Sikap Terkait Rohingnya

Sangpencerah.id – Siang ini Selasa (5/9) di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah hadir sejumlah tokoh lintas agama seperti Bambang Patijaya dari DPP Generasi Muda Buddhis Indonesia, Sures Kumar dari DPN Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia dan Maruli Tua Silaban dari DPP Perhimpunan Pemuda Gereja Indonesia. Mereka diundang Pemuda Muhammadiyah untuk menyikapi kejadian yang menimpa Rohingnya.

“Tragedi yang menimpa Rohingya merupakan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan pemerintah Myanmar secara sistematis dan terstruktur,” tegas Danhil Anzar Simanjuntak, Ketum PP Pemuda Muhammadiyah.

Kita tidak bisa diam terhadap praktik diskriminasi dan legalize genocide yang terjadi di Myanmar terhadap Etnis Rohingya, yang dilakukan oleh Regime De Facto Aung San Suu Kyi. Berulangkali etnis Rohingya mengalami pengusiran, pemukiman serta rumah mereka dibakar, dan yang paling menyedihkan anak anak dan perempuan menjadi korban. Tindakan pembantaian yang tidak beradab dilakukan Militer Myanmar adalah kejahatan kemanusiaan.

Berikut ini 8 sikap Forum Pemuda Lintas Agama terkait Rohingnya:

1.Sebagai bangsa beradab, kami sangat membenci dan mengutuk praktik diskriminasi dan legalize genocide terhadap Etnis Rohingya yang dilakukan oleh Regime De Facto Aung San Suu Kyi.

2.Tragedi yang menimpa Etnis Rohingya merupakan Kejahatan Kemanusiaan yang dilakukan secara sistematis, terstruktur, massif, dan meluas.

3.Mendesak kepada Pemerintah Indonesia terutama Presiden Jokowi dan Menteri Luar Negeri untuk bersikap tegas dan melakukan Political Pressure Diplomacy, karena kebijakan Diplomasi Sunyi terhadap Pemerintah Myanmar terbukti tidak berjalan efektif.

4.Mendesak kepada Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memberi perhatian serius terhadap Kejahatan Kemanusiaan praktik genosida yang menimpa etnis Rohingya, dan membawa pihak pihak yang harus bertanggung jawab untuk diadili kehadapan Mahkamah Kejahatan Internasional.

5.Meminta Komite Hadiah Nobel untuk mencabut penghargaan Aung San Suu Kyi Pemimpin yang berpengaruh di Myanmar memperoleh Nobel Perdamaian, ternyata telah terbukti misi perdamaian hanya untuk memperjuangkan kebebasan dirinya, bukan karena perjuangan atas nilai kemanusiaan.

6.Meminta Kedutaan Besar Myanmar yang ada di Indonesia secara terbuka menyampaikan sikap tegasnya kepada Pemerintah Myanmar untuk segera menghentikan praktik diskriminasi dan genosida terhadap Etnis Rohingya.

7.Kami mengajak kepada seluruh kelompok agama di Indonesia, untuk Tidak mengaitkan kelompok ekstrim Buddha di Myanmar dengan umat Buddha lain, yang pada dasarnya merawat perdamaian, apalagi kemudian merusak toleransi umat beragama di Indonesia, Mari kita sampaikan Pesan teladan kepada Berbagai kelompok agama di Myanmar.

8.Menolak segala bentuk provokasi untuk memperluas dan memindah konflik Myanmar ke Indonesia dengan membenturkan Umat Islam dan Umat Budha di Indonesia.

Demikian pernyataan sikap bersama Forum Pemuda Lintas Agama sebagai respon terhadap praktik diskriminasi dan genosida etnis Rohingya di Myanmar. (sp/red)