Pelajar Muhammadiyah Sumsel Gelar Aksi dan Penggalangan Dana di DPRD

18

Sangpencerah.id – Aksi kekerasan militer Myanmar terhadap Muslim Rohingya dikecam keras kalangan pelajar di Palembang. Ratusan siswa dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sumsel berunjuk rasa menuntut genosida itu dihentikan.

Massa yang berasal dari sejumlah sekolah di Palembang itu mendatangi kantor DPRD Sumsel, Kamis (7/9). koordinator aksi, Hasan Pratama Putra mengungkapkan, aksi ini sebagai bentuk sikap protes terhadap kekejaman militer Myanmar terhadap kaum minoritas Rohingya. Mereka juga mendukung pemerintah Indonesia melakukan upaya perdamaian di kedua belah pihak.

“Kami pelajar Muhammadiyah Sumsel mengutuk keras aksi kekerasan terhadap Muslim Rohingya,” ungkap Hasan.

Menurut dia, genosida Myanmar kali ini adalah yang terparah dan menimbulkan banyak korban. Bahkan, penyiksaan itu dilakukan secara keji terhadap anak-anak dan perempuan tak berdaya.

“Jelas ini pelanggaran HAM, dunia harus mengambil sikap tegas. Myanmar kejam, sadis dan tak berperikemanusiaan,” kata dia.

Melalui aksi ini, massa juga menggalang dana untuk membantu para korban yang sedang melawan kelaparan dan intimidasi. “Kami juga desak pemerintah Indonesia mengusulkan Myanmar dikeluarkan dari keanggotaan PBB,” kata dia.

Salah satu peserta aksi, Lidia (15) mengaku dirinya dan beberapa rekannya diizinkan pihak SMK Muhammadiyah 3 Palembang untuk ikut berdemo karena menaruh simpatik terhadap Muslim Rohingya. Bahkan, ada beberapa sekolah mewajibkan siswanya untuk ikut berunjuk rasa menentang pemerintah Myanmar. “Ini sikap kami sebagai anak bangsa, sesama muslim,” pungkasnya.(sp/mdk)