Miliki Akses ke Myanmar, Lazismu Galang Donasi Rohingya

Derita Rohingnya

Sangpencerah.id – Indonesia merupakan satu-satunya negara yang memiliki akses mendistribusikan bantuan bagi etnis Rohingya yang menjadi korban diskriminasi dan kekerasan di Myanmar.

Organisasi donasi kemanusiaan milik Muhammadiyah, Lazismu, jadi garda depan membawahi sebanyak 11 organisasi serupa sedunia untuk mendistribusikan bantuan bagi kaum Rohingya.

Direktur Utama Lazismu Andar Nubowo mengatakan, pihaknya akan mendata apa saja kebutuhan kaum Rohingya. Hal itu penting agar bantuan yang diberikan tepat sasaran.

“Pekan depan, kami akan kirim 10 tim advance untuk memetakan apa saja yang dibutuhkan di sana. Jangan sampai nanti butuhnya bahan pangan, malah kita kasih yang lain,” ujar Andar di Sekretariat Amnesty International bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (3/9/2017).

Seiring dengan itu, Lazismu membuka loket donasi kemanusiaan untuk disalurkan kepada kaum Rohingya.

Berikut nomor rekening resmi Lazismu yang dapat dituju donatur yakni rekening Bank Mandiri 123 000 5117 371 atau rekening BNI Syariah 009 1539 444.

Bagi masyarakat yang telah mengirimkan donasi, dapat melakukan konfirmasi di nomor 08561626222.

Andar mengungkapkan, Lazismu sebenarnya bukan baru menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi kaum Rohingya.

Semenjak 2016, Lazismu bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri melobi pemerintah Myanmar untuk bisa masuk membantu korban. Upaya lobi berhasil. Indonesia bisa menjadi satu-satunya negara yang dipercaya menyalurkan bantuan bagi warga Rohingya.

“Indonesia dapat masuk ke Rohingya karena pola pendekatan pemerintahan kita soft diplomacy ya, mengarah ke rekonsiliasi, bukan menuntut sesuatu yang malah memperuncing persoalan,” ujar dia.

Sejak 2016 lalu, Lazismu berhasil mengumpulkan uang kemanusiaan sebesar lebih dari Rp 1 miliar. Uang tersebut digunakan untuk sejumlah hal, mulai dari pembangunan rumah sakit, pendirian sekolah, pembelian obat-obatan hingga bantuan pangan.

Selain itu, donasi itu juga digunakan untuk program rekonsiliasi antara kelompok yang bertikai.

“Hanya memang karena kasus Rohingya ini sebenarnya menyangkut historis mereka, agak sulit. Tapi kami terus berupaya mewujudkan rekonsiliasi,” ujar Andar.(sp/kps)