Pemuda Muhammadiyah Ungkap 5 Kejanggalan Kasus Novel ke Publik

Dahnil Anzar Simanjuntak

Sangpencerah.id -Kasus teror penyiraman air keras terhadap penyidik senor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan sudah 106 hari berlalu. Tapi, penyidikan dilakukan polisi belum mampu mengungkap siapa aktor dan dalang di balik teror itu. Kenapa polisi begitu kesulitan mengungkap kasus Novel?

Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, saat dirinya bersama Haris Azhar bertemu dengan Novel Baswedan di Singapura beberapa waktu lalu, Novel mengakui bahwa barang bukti yang sudah dikumpulkan penyidik kepolisian telah banyak. Sehingga, seharusnya kasus itu sudah bisa diungkap.

“Tidak kurang 56 orang telah diperiksa sebagai saksi untuk dimintai keterangan, rekaman CCTV yang berada di lokasi kejadian juga sudah diambil oleh pihak penyidik, serta beberapa barang bukti lainnya yang telah diamankan oleh pihak penyidik seperti pakaian Novel Baswedan dan cangkir yang diduga digunakan pelaku dalam penyerangan tersebut,” kata Dahnil di Kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (26/7/2017).

Menurutnya, ada beberapa kejanggalan dari proses penyidikan yang diakukan kepolisian. Ia menilai ada kepentingan politik di dalam tubuh Polri yang membuat kasus itu terkatung-katung.

“Pertama, tidak ditemukannya sidik jari dalam gelas yang ditemukan di sekitar lokasi kejadian yang diduga digunakan oleh pelaku penyiraman. Kita jadi menduga ada polisi berbohong. Bilangnya hanya sedikit tidak mencukupi,” jelas dia.

Kemudian kedua, Polri sebelumnya telah menangkap beberapa orang yang diduga pelaku penyerangan. Namun, tiga orang yang setidaknya pernah ditangkap itu malah dilepaskan kembali. Mereka diketahui mengaku sebagai mata elang. Tapi dianggap janggal karena untuk apa mereka berkeliaran di sekitar rumah Novel.

“Melepaskan ketiga orang tersebut dengan dalih alibi yang disampaikan oleh ketiga orang tersebut. Padahal beberapa saksi di sekitar lokasi, baik sebelum peristiwa penyerangan, menduga kuat bahwa beberapa orang yang ditangkap terlihat sering berada di sekitaran lokasi kediaman Novel dan menanyakan aktivitas Novel,” tuturnya.

Sementara Koordinator KontraS Yati Indriyani menuturkan, kejanggalan yang ketiga ada ketidaksepemahaman pernyataan antara Mabes Polri dengan penyidik. Sejumlah pernyataan Mabes Polri dinilai banyak dibantah atau direvisi oleh Tim Penyidik Polda Metro Jaya.

“Seperti terkait dengan status ketiga orang pelaku yang pernah ditangkap dan diperiksa oleh Penyidik Polda Metro Jaya itu,” ujar Yati.

Keempat, mendadak muncul sejumlah ancaman terhadap anggota Komisoner Komnas HAM dalam proses usulan pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Komnas HAM bersama PP Pemuda Muhammadiyah sebelumnya menginisiasi pembentukan TGPF terkait kasus penyerangan Novel. Wacana itu urung terealisasi dikarenakan ancaman tersebut.

“Dan kelima, adanya tim internal Polri yang di luar proses penyidikan, yang juga bergerak. Beberapa saksi menyampaikan bahwa pasca dilakukan proses pemeriksaan di Polres, beberapa anggota yang mengaku dari Mabes Polri juga mendekati saksi dan meminta informasi terkait dengan penyerangan terhadap Novel Baswedan,” tandasnya.(sp/oke)