Amien Rais, Antara Dipuji dan Dicaci

Amien Rais

Oleh : Saleh Daulay (Ketum PP Pemuda Muhammadiyah 2010-2014)

Waktu saya memposting kegiatan Ramadan di DPP PAN di mana Amien Rais yang mengisi kultum dan imam shalat Isya, ada seorang sahabat FB yang komentar, “Jangan mengkultuskan pak Amien”. Komen ini mungkin menanggapi kegalauan saya karena nama pak Amien diseret dalam kasus ibu Siti Fadhilah.

Perlu saya sampaikan, saya tidak pernah sedikit pun mengkultuskan orang, tentu saja juga tidak pada pak Amien Rais. Kegalauan saya juga bukan didasari hanya karena saya politisi PAN. Juga bukan karena pak Amien mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Ceritanya begini. Masih jelas dalam ingatan bahwa Amien Rais adalah tokoh yang pertama sekali menabuh genderang melawan KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme). Aktivis mahasiswa 98 pasti sangat akrab dengan istilah ini. Pada saat itu, jangankan teriak anti KKN, bisik-bisik saja soal itu tidak ada yang berani.

Beda dengan Amien Rais. Beliau sangat kencang berteriak. Beliau melancarkan kritik di banyak tempat, seperti di kampus, ruang seminar, bedah buku, pengajian, dan mimbar-mimbar publik lainnya. Tidak hanya itu, beliau juga menulis banyak buku dan juga menjadi kolumnis tetap di media massa. Tulisan pak Amien di Resonansi Republika kala itu sangat ditunggu-tunggu pembaca.

Alhamdulillah, perjuangan pak Amien melalui dakwah bil lisan dan bil kitabah berujung pada tahun 1998 dimana reformasi digaungkan. Tak pelak, dari enam tuntutan reformasi kala itu, salah satu butir yang paling nyaring disuarakan semua elemen adalah “HAPUSKAN KKN”.

Sebagai wujud dari tuntutan itu, beberapa tahun kemudian, dibentuklah KPK. Kelahiran KPK itu juga harus diakui tidak lepas dari perhatian dan perjuangan Amien Rais yang ketika itu menjabat sebagai ketua MPR RI. Dasar hukum pendirian KPK adalah UU No. 31 tahun 1999, setahun pasca reformasi.

Tentu saya sangat sedih ketika ada yang menyeret-nyeret pak Amien dalam kasus orang lain. Sejak 1998, sebagai aktivis mahasiswa yang belajar di banyak perguruan Tinggi, saya menyaksikan ketulusan pak Amien dalam memperjuangkan umat. Integritas, kecintaan pada NKRI, keberpihakan pada kaum marginal dan fakir miskin, dan juga keberpihakan pada posisi umat yang semakin terpinggirkan tidak perlu diragukan lagi.

Bahkan, pada pilkada DKI yang baru saja kita lewati, kita menyaksikan betapa konsistensi dan keteguhan pak Amien dalam berjuang. Kita boleh beda pilihan politik. Tetapi kita harus juga mengapresiasi pilihan politik pak Amien. Sebagai warga negara, posisi beliau sama dengan warga negara lainnya, punya hak memilih dan dipilih.

Saya menyadari, juga pastinya pak Amien, bahwa banyak orang yang tidak suka. Di medsos banyak yang ngebully, menghina, mengerdilkan dsb. Faktanya, pak Amien tetap jalan dan berjuang. Perjuangannya alhamdulillah dilakukan dengan cara-cara yang benar. Bersama elemen lainnya, beliau mengajak para pemilih untuk memilih secara cerdas dan bertanggung jawab. Tidak ada semobako, tidak ada intimidasi, dan tidak ada money politics. Bahkan, di tengah kerasnya pertarungan pilkada DKI waktu itu, pak Amien pernah mengatakan seperti ini, “Kita tidak boleh putus asa. Kita sudah bekerja keras dan ikhlas. Insya allah, Allah akan menuntaskan pekerjaan kita ini. Allah pasti akan mengabulkan doa jutaan umat Islam yang memiliki pilihan yang sama dengan kita”.

Keikhlasan, ketulusan, dan konsistensi itu sangat-sangat wajar diapresiasi. Karena itu, upaya-upaya yang mencoba mengerdilkan beliau tentu sangat tidak baik. Apalagi, orang-orang yang melakukannya belum tentu ikut berjuang dengan beliau ketika reformasi pada tahun 1998.

“Ya Allah, berikanlah kekuatan dan ketabahan kepada pak Amien dan keluarganya. Terimalah pengabdian beliau sebagai ibadah di sisi-Mu”.