SMK Mutuharjo: Sekolah Internasional, Produsen Android dan Alat Kesehatan

SangPencerah.id– SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo merupakan  salah satu sekolah unggulan yang ditetapkan PWM Jateng dan didirikan pada Tahun 1993. Pada Tahun 2007 sekolah ini ditetapkan pemerintah sebagai RSBI. Sekolah yang memiliki dua kampus ini, selain sukses mendulang pundi-pundi prestasi, juga sukses mengembangkan diri sebagai lembaga pendidikan berbasis industri dan berjejaring internasional.

Dalam tiga tahun terakhir, sekolah ini benar-benar mengeliat, terdapat penataan disudut-sudut sekolah, dengan penambahan fasilitas yang membuat penghuni merasa nyaman. Seperti penataan fasilitas air minum tiap kelas dengan memanfaatkan produksi air shofiro untuk galon dan air minum shofi untuk air minum gelas. Juga penataan akses wifi dengan kekuatan cukup kencang di beberapa titik, salah satunya di halaman tengah sekolah dan paling kencang ada di Perpustakaan. Dengan bangunan bertingkat 4, berbentuk persegi panjang, Di beberapa area disediakan kursi-kursi. Saat jam istirahat, para siswa sering
menghabiskan waktu di sini untuk istirahat dan menjelajah internet.

 

Tahun lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menerbitkan Naskah Akademik Pendidikan Vokasi yang diiniasi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,  Muhadjir Effendy. Adapun visi dalam rangka meningkatkan mutu itu, diterjemahkan oleh setiap sekolah dengan melalui inovasi. SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo atau biasa dikenal dengan SMK Mutuharjo tak mau tinggal diam.

5 Maret 2017, sekolah dengan murid 1300 siswa ini, melounching workshop Teaching Factory & Bisnis Center M-One. Spesial, karena dihadiri Kepala Sub Direktorat Jenderal Kurikulum Direktorat Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, M Bakrun. Adapun letak Teaching Factory atau biasa disebut “bengkel” penggemblengan oleh siswa, berada di Jalan Rajawali, Kelurahan Joho, Kecamatan/Kabupaten Sukoharjo atau sekitar 15 kilometer sebelah selatan Kota Solo.

Sebagai bentuk kreatifitas lembaga demi menjawab upaya revitalisasi terhadap pendidikan vokasi. Bahkan karya besar yang diinisiasi oleh Kepala Sekolah, Mustadjab itu, dapat mensingkronkan visi lintas intansi. Diantaranya sekolah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, industri dan Kementerian Perindustrian. “Biar match. Lulusan SMK benar-benar siap kerja. Kemampuan juga mumpuni,” terang dia.

Dikatakan kepala sekolah ini, “laboratorium yang pada umumnya dimiliki sekolah kejuruan, tidaklah cukup. Pasalnya laboratorium dinilai sebagai pembelajaran murni. Sementara Teaching Factory, membawa budaya industri ke dalam sekolah, sehingga tidak hanya pelatihan. Tetapi ada kegiatan berupa produksi barang tertentu sesuai pesanan industri. “Siswa diajak menapak pada profesionalitas. Seperti motto SMK Bisa, SMK Hebat, kami menuju ke arah itu. Inilah salah satu bentuk revitalisasi vokasi yang kami terjemahkan secara nyata,” tuturnya.

Sejak dibuka 23 Maret, pihaknya tengah menjalin kerjasama dengan 39 rumah sakit PKU Muhammadiyah di Jawa Tengah. Paling tidak ditergetkan sejumlah rumah sakit yang bisa mengorder perlengkapan atau alat kesehatan (alkes) seperti bad atau tempat tidur pasien. Beberapa waktu lalu RS PKU Muhammadiyah Blora dan UKS-UKS sekolah juga mempercayakan alat kesehatan di sekolah ini, lalu  RSUD Dr Moewardi Solo baru mempercayakan perbaikan alkes padanya. “Siswa yang mengerjakan. Tetap ada mentor dari tim ahli industri yang ngecek setiap tahapan, agar produknya sesuai standar yang ada. Karena prinsip pengerjaan profesional,” jelas dia.


Adanya Teaching Factory, mendapat apresiasi positif dari siswa. Seperti yang dialami oleh Redwan Cahyo Putro (18). Siswa kelas 11 Jurusan Teknik Permesinan itu, mengaku beruntung menikmati fasilitas itu. Dia ingin membuktikan pada orang tuanya, Agus Suyadi (50) dan Pujiastuti (49) yang merantau ke Bandung demi berjualan bubur, bisa menjadi ahli permesinan. “Tempatnya luas ada 800-1.000 meter persegi. Fasilitas juga komplit. Seperti bekerja di industri saja. Jadi kami lebih percaya diri lagi mengembangkan keahlian,” kata warga Kecamatan Polokarto itu.

Kelas Internasional dan Kelas Industri

SMK Muhammadiyah I Sukoharjo memiliki kelas internasional. Bukan main-main dan sekedar jargon internasional semata, tetapi sekolah ini bener-benar berjejaring dan memiliki program unggulan yang telah dirintis.  Pertama, SMK  Mutuharjo dengan Akademi KosenJepang. Kompetensi keahlian Teknik Pemesinan di SMK Mutuharjo telah bekerjasama dengan Akademik KOSEN Jepang, membuka kelas Kompetensi KeahlianFabrikasi Logam yang kemudian disebut SMK Mutuharjo 4 Tahun (SMK Mutuharjo + 1 Tahun belajar di Jepang).

Kedua adalah, SMK Mutuharjo bekerjasama dengan NIIT India membuka kelas Android Programmer untuk siswa-siswi SMP/MTS sederajat yang bergabung di Kompetensi Keahlian Rekayasa Perangkat Lunak (RPL). Program ini menjaring bibit-bibit muda yang memiliki kompetensi dan ketertarikan dengan perangkat lunak sejak dini.

Program Kelas Industri adalah kerjasama SMK Mutuharjo dengan Industri Mitra, yakni  PT Yamaha, PT Diametral Involute, PT Nasmoco, CISCO Akademi, PT Fun World dan PT Telkomsel. Program ini untuk menerapkan budaya industri sejak awal sehingga siswa terbiasa dengan keadaan industri secara riil.

Prospektif Produk

Produk Bisnis centre di SMK Muhammadiyah Sukoharjo terbagi atas beberapa jenis, yakni Teknik Informatika yang memproduksi smart home, robot drone dan tablet M-One.  Selain itu prodi ini juga menyediakan jasa service M-One. Lalu prodi Teknik Permesinan yang memproduksi CNC Mailing, Printer 3D serta produk unggulan perlengkapan rumah sakit dan sarana kesehatan lainnya.

Dengan inovasi yang dilakukan setiap sekolah kejuruan, diantaranya memasukkan budaya industri menurut Pengamat Pendidikan Univesitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd, langkah yang tepat. Dia menilai hal itu menjadi salah satu bentuk implementasi dari upaya revitalisasi terhadap pendidikan vokasi. Pasalnya menilik sejarah pendidikan di dunia internasional, sekolah yang dibawa ke industri tidak efektif. Seperti yang dilakukan di Jerman pada 1990. Sementara China mengembangkan industri yang dibawa ke sekolah pada tahun 2000, efektiv.“Hasilnya ponsel Evercross, terkenal di mana-mana. Kemudian di negara maju, seperti Korea juga mengembangkannya. Prinsip itu layak diterapkan di sekolah vokasi di Indonesia. Agar siswa setelah lulus, benar-benar siap bekerja. Jadi kemampuannya memadai secara maksimal,” jelas dia yang juga menjabat sebagai Direktur Pasca Sarjana UNS itu. (sp/sm-red)

BAGIKAN
Berita sebelumya4 Point Permintaan Delegasi Aksi Simpatik 55
Berita berikutnyaPetani Karawang, Muhammadiyah dan Presiden