Meski Beda Pemahaman, Muhammadiyah Gubug Setia Menjaga Jamaah Dzikir

SangPencerah.id– Akhir-akhir ini, toleransi menjadi topik hangat yang terus diperbincangkan. Khususnya  toleransi antar agama, maupun toleransi antar umat yang seagama. Bagi Muhammadiyah, toleransi bukan sekedar wacana yang terus didengungkan, tapi praktek yang harus dilakukan dalam hidup keseharian.

Muhammadiyah terus mempraktikan toleransi dalam segala aktivitas, tanpa memandang suku, agama, ras, golongan maupun kelas sosial. Baik yang berlainan agama maupun yang seagama tapi berbeda ideologi, semua kita sayangi dan kita hormati.

Praktik toleransi juga dilakukan Keluarga Muhammadiyah Gubug ketika menghadapi kegiatan keagamaan yang berbeda pemahaman seperti Sholawatan, Haul Akbar maupun Dzikir. Meski acara ini tak lazim dalam tradisi Muhammadiyah, tapi Muhammadiyah hadir dengan cara yang berbeda.

Tepatnya Senin, 23 Mei 2017 acara Dzikir Akbar dan Sholawatan Al Khidman  ini dilangsungkan.   Acara dzikir  akbar ini sendiri dihadiri sekitar ribuan  jamaah Al Khidmat yang sudah terus berdatangan sejak sore hari. Jamaah yang datang dari berbagai daerah ini menggunakan pakaian serba putih.

Camat Gubug dan pejabat-pejabat Forkompincam di Kecamatan Gubug  juga turut hadir dan memberikan sambutan.  Acara yang dibanjiri umat islam ini berlangsung dengan syahdu pada cuaca malam yang sangat cerah. Lantunan do’a dan sholawat dengan pengeras suara mengiringi acara acara  Akbar ini. Acara ini  pun berlangsung dengan sejuk, damai dan indah.

Lalu bagaimana dengan kehadiran Muhammadiyah, apakah memunculkan keributan atau berniat untuk membubarkan? Warga Muhammadiyah yang hadir disini cukup dewasa dalam menyipaki perbedaan. Meski  tidak mengikuti berlangsungnya acara haul, tetapi menyiapkan tim kesehatan khusus untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan.

Sebagai bentuk toleransi dan untuk memperkuat ukhwah,  Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gubug siap siaga dengan posko kesehatan dan ambulan, lengkap dengan tenaga medis dan obat-obatan. Disela-sela acara dan diakhir acara posko kesehatan ini didatangi para jamaah.

“Jamaah yang hadir diperkirakan mencapai ribuan  orang, kami ingin berbuat sesuatu dengan misi kemanusiaan sekaligus mensyiarkan keberadaan rumah sakit kam. Hal ini sudah kami lakukan 3 tahun lamanya”, ujar Dr. Ridho, Direktur RS PKU Muhammadiyah Gubug kepada redaksi SangPencerah.id. 

(baca : Tak Berganti Atribut, Biarawati Katholik Ini Nyaman Kuliah di Muhammadiyah) dan (Muhammadiyah dan NU Bertemu, Bersatu Membangun Jepara)

Apa yang dilakukan Muhammadiyah Gubug merupakan contoh kecil dari serangkaian praktik toleransi yang sudah dijalankan Muhammadiyah sejak sebelum 1912. Dahnil Anzhar Simanjuntak, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah menyebut praktik toleransi yang dilakukan Muhammadiyah adalah praktik toleransi yang otentik, bukan sekedar simbolik.

(Baca juga; Ketika Mahasiswa Kristiani Kampus Muhammadiyah Gelar Natal Bersama ) baca ( Benhur Tomy Mano : Berkat Muhammadiyah, Saya Bisa Menjadi Walikota Jayapura)

Ketua PP Muhammadiyah, Prof.Safiq Mughni menuturkan bila pendidikan toleransi, pluralisme atas perbedaan itu perlu terus dihidupkan dengan dipraktikkan, bukan sekedar diomongkan. Guru besar UIN Sunan Ampel ini juga mengapresiasi gerakan kemanusiaan yang dilakukan RS PKU Muhammadiyah Gubug. Langkah sederhana yang menyimpan makna mendalam tentang arti penting toleransi. (sp/red)

BAGIKAN
Berita sebelumyaAhok Cabut Permohonan Banding, JPU Masih Bimbang
Berita berikutnyaRamadhan, Dakwah Muhammadiyah di Serambi Mekah Semakin Terang