Kapolri Minta Kader IMM Merawat Pluralitas Indonesia

sangpencerah.id – Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian memberikan kuliah umum di seminar nasional dalam rangka Rakornas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Asrama Haji Medan, Sumatera Utara, Rabu (17/5) siang.

Di hadapan seribuan peserta seminar, Kapolri menyebut alasan kehadirannya di acara ini karena menganggap penting posisi dan peran IMM sebagai kader intelektual Muhammadiyah.

“Begitu ada undangan dari adik-adik IMM saya langsung bilang yes, saya akan datang,” ujar Tito Karnavian, disambut tepuk tangan riuh peserta seminar.

Menurut Kapolri, IMM adalah bagian tak terpisahkan dari Muhammadiyah, sedangkan Muhammadiyah adalah pilar penting dalam perjuangan dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bersama Nahdhatul Ulama (NU), TNI, dan Polri.

“Ada tiga unsur dalam mempertahankan Indonesia, yaitu kami dari TNI dan Polri, dari golongan nasionalis, dan unsur keagamaan moderat seperti Muhammadiyah dan NU. Kalau salah satu unsur ini goyang, goyang juga keutuhan negara yang kita cintai ini,” kata Tito

Dalam kuliah umumnya, Tito menguraikan peran pemuda dalam sejarah pergerakan bangsa, mulai dari kelahiran Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari agresi Belanda I dan II.

Semua perjalanan bangsa itu, kata Kapolri, tokoh utamanya adalah pemuda.

Karena itu, menurut Tito, mahasiswa sebagai inti dari kekuatan pemuda harus menjadi teladan dan mengambil posisi terdepan dalam menjaga dan memperkokoh persatuan bangsa dalam kerangka Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Kapolri berharap Rakornas IMM bisa membahas dan merumuskan gagasan strategis sebagai sumbangsih pemuda terhadap kejayaan bangsa Indonesia. Pertama, bagaimana merawat kemajemukan bangsa Indonesia dan menjaga keutuhan NKRI dengan selalu mengembangkan sikap toleran dan menangkal paham radikal yang bisa memecah belah bangsa Indonesia.

Kedua, kata Kapolri, bagaimana menjawab berbagai tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, mulai dari pendidikan, masalah pengangguran dan kemiskinan, serta masih adanya kesenjangan pembangunan antar wilayah. Struktur demografi Indonesia juga masih berbentuk piramida dan didominasi masyarakat kelompok berpenghasilan rendah (low class). Struktur itu harus bisa diubah agar lapisan terbesarnya adalah kelompok menengah (middle class).

Menurut Kapolri, untuk memperbesar kelompok menengah itu tentu tidak bisa dilakukan secara instan, tidak mungkin dalam lima tahun langsung melonjak. Indonesia adalah negara besar dengan jumlah penduduk 250 juta lebih, bukan negara kecil seperti Singapura.

“Kader-kader IMM harus meningkatkan kemampuan akademisnya sehingga kelak bisa mengabdi di berbagai bidang dan berkontribusi terhadap kejayaan bangsa. Jangan semuanya terlalu terfokus di kegiatan politik praktis,” kata Tito.

Dalam seminar ini, hadir juga Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi, Kapolda Sumut Irjen Pol Rycko Amelza Daniel, Kadivhumas Polri Irjenpol Setyo Wasisto, Asisten SDM Polri Irjen Arief Sulistyanto, Karorenmin Baintelkam Polri Brigjen Lucky Hermawan, aktivis senior dari Kelompok Cipayung Bursah Zarnubi, dan Ketum IMM Taufan Putra Revolusi Korompot. (syangi/sp)