Amal Perbuatan Manusia Diaudit Bukan Hanya Satu Malam di Bulan Sya’ban

sangpencerah.id – Amal Perbuatan Manusia Diaudit Setiap Saat, bukan hanya setahun sekali, dan bukan hanya di salah satu hari/malam di bulan Sya`ban saja.

Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah SAW:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ“

Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana anda berpuasa di bulan Sya’ban?

Rasulullah SAW menjawab:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّأَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Bulan itu sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan tersebut amal-perbuatan diangkat menuju Tuhan semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.’” (HR. Ibn Abi Syaybah, Ahmad, dan al-Nasa’i. Dalam penilaian Syuaib al-Arnauth, sanad hadits tersebut: HASAN).

Akan tetapi dilaporkan setiap saat….

Rasulullah SAW, bersabda:

تُعْرَضُ أَعْمَالُ النَّاسِ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّتَيْنِيَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلا عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ : اتْرُكُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَفِيئَا.“

Seluruh amal manusia dihadapkan kepada Allah SWT dua kali dalam sepekan. Yaitu setiap hari Senin dan Kamis. Lalu Allah mengampuni dosa setiap hamba-Nya yang mukmin, kecuali orang yang bermusuhan. Maka dikatakan kepadamereka: tinggalkanlah dahulu kedua orang ini, sampai mereka berdamai.” (HR. Muslim)

Rasulullah SAW. bersabda:

يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلائِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلاةِ الْفَجْرِ وَصَلاةِ الْعَصْرِ ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ :كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي ؟ فَيَقُولُونَ : تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ

Para malaikat malam dan malaikat siang silih berganti mendatangi kalian. Dan mereka berkumpul saat shalat subuh dan ashar. Kemudian malaikat yang menjaga kalian naik ke atas hingga Allah SWT bertanya kepada mereka: “Dalam keadaan bagaimana kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?” Para malaikat menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan sedang mendirikan shalat. Begitu juga saat kami mendatangi mereka, mereka sedang mendirikan shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Berbuat baik (ibadah + mu`malah) itu setiap saat, konstan dan konsisten. Bukan hanya pada waktu-waktu (hari/pekan/bulan) tertentu saja. Kita dituntut untuk selalu berbuat baik dan berbuat baik sampai ajal menjemputnya. Allah berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu Al-Yaqin (kematian)” (QS. Al-Hijr: 99)

Rasulullah SAW menasihati kita, agar menjaga iman, dengan istiqamah berbuat baik.

Seorang sahabat meminta nasehat kepada Rasulullah SAW, satu nasihat yang akan selalu diingat selama hidupnya. Nasehat beliau sangat simpel:

قلْ آمنتُ بالله ثم استقم
“Katakan olehmu, Saya beriman kepada Allah, kemudian kamu beristiqmahlah.” (HR. Ahmad).

Istiqamah tuh terus menerus, tak henti-henti beriman dan beramal shalih.
Suatu waktu Imam Ahmad pernah ditanya,
“Kapan waktu untuk istirahat?”
Beliau menjawab:

عند أول قدم نضعها في الجنة

“Saat pertama kali, menginjakkan kaki kita di surga.”
Amal perbuatan kita akan dihisab bukan hanya satu hari/malam/bulan Sya’ban, tetapi setiap saat. Manusia saja, dengan teknologi informatikanya bisa mengamati neraca keuangan perusahaannya dari detik-ke detik… Apalagi Allah SWT.

Nishfu Sya`ban Tidak Perlu Dibid`ahkan:

Namun demikian, kita tidak perlu menyalah-nyalahkan, apalagi menghujat dan membid`ahkan mereka yang meyakini keutamaan malam Nishfu Sya`ban karena itu mereka melakukan berbagai amalam (ibadah: shalat, dzikir dan doa) tertentu di malam tersebut.

Keyakinan dan amalan mereka, bagaimanapun harus kita akui memiliki dasar hukum dalam banyak periwayatan hadits.*) Sekalipun, periwayatan-periwayatan hadits tersebut kita tolak (mardud); tidak bisa dijadikan hujjah untuk suatu keyakinan/amalan tersebut. Sekali lagi itu menurut kita, berdasarkan informasi dari para kritikus hadits (ulama jarh wa-t ta`dil).

Keshahihan dan Kedha`ifan Hadits bersifat Ijtihadi:

Ingat, penilaian suatu periwayatan hadits, shahih, hasan atau dha`if adalah Bersifat Ijtihadi. Shahih menurut satu pihak, dha`if menurut pihak lain. Sekalipun suatu periwayatan itu dihukumi dha`if, masih memiliki kemungkinan bahwa kandungan informasi dari periwatan hadits tersebut Benar Adanya. Karena yang didha`ifkan itu (umumnya) adalah mata rantai periwayatannya (sanadnya); para periwayatnya bukan matan (kandungan informasinya). Sebuah hadits dihukumi dha`if, hanya karena tidak memiliki bukti-bukti keshahihan hadits. Mungkin saja informasinya benar, tetapi hanya karena pembawa beritanya tidak bisa kita percayai akibatnya berita tersebut kita abaikan, tidak kita percayai.

Namun demikian, bukan berarti setiap hadits bisa kita tolerir…. jika kedha`ifannya itu sampai dihukumi 3 M (Mawdhu’, Matruk dan Munkar), tidak jelas asal-usul pereiwayatannya… untuk Hadits 3 M tersebut, secara mutlaq harus ditolak.

======
*) saking banyaknya jalur periwayatan hadits terkait keutamaan “malam nishfu sya`ban”, sampai-sampai Syekh al-Albani menghukumi haditsnya itu sebagai Hadits Hasan, bahkan ada yang dihukumi sebagai Hadits Shahih. Karena ada kaidah penerimaan/penggunaan hadits (Qawa`id Tahdits): al-Ahadits al-zha’ifah li katsrat al-Thuruq yasyuddu ba’dhuha ba’dha, “hadits-hadits dhaif yang memiliki banyak jalur periwayatan, satu sama lain bisa saling m,enguatkan”. Berdasarkan kaidah ini lahirlah kategori hadits hasal lighayrih dan shahih lighayrih. Dihukumi hasan/atau shahih bukan dengan sendirinya (li dzatih), tetapi karena ada periwayatan lain.

Hadits yang dimaksud adalah sbb:

عَنْ أَبِى مُوسَى الأَشْعَرِىِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ ».

Artinya: “Abu Musa Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah akan benat-benar melihat di malam nisfu (pertengahan) bulan Sya’ban, lali Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali untuk seorang musyrik atau seorang musyahin.” HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1144.

عن أبي ثعلبة الخشني : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : إذا كان ليلة النصف من شعبان اطلع الله إلى خلقه فيغفر للمؤمن و يملي للكافرين و يدع أهل الحقد بحقدهم حتى يدعوه

Artinya: “Abu Tsa’labah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jika pada malam nishfu Sya’ban, Allah melihat kepada makhluk-makhluknya, maka Dia akan mengampuni untuk seorang yang beriman dan membiarkan orang-orang kafir dan meninggalkan orang-orang yang hasad dengan hasadnya sampai mereka meninggalkannya.” HR. Al Baihaqy dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 771.

Namun sekalipun ada hadits yang shahih terkait dengan keutamaan malam nishfu sya`ban, tetap saja hadits tersebut tidak bisa dijadikan dalil untuk ibadah atau amalan (shalat, dzikir dan du`a) khusus di malam nishfu sya`ban.

Wallohu `alam bi-sh showab.-
* Ustadz Dadang Syaripuddin,MA
( Wakil ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat)

BAGIKAN
Berita sebelumyaAksi 1000 Lilin Gereja Provokasi Pembubaran Ormas Islam
Berita berikutnyaIkhtiar ‘Aisyiyah Mendirikan Klinik Islam Pertama di Merauke