The Spirit of Aleppo

Ust. Musa Alazhar, Lc.

Ketika Prof. Dr. Ahmad Ma`bad, ulama hadis al-Azhar, memberikan daurah takhrij hadis, satu diantara kitab yang disebut adalah Bughyat al-Thalab fî Târîkhi Halab karya Kamaluddin Ibnu al-`Adim (wafat 660 H).

Syekh Ahmad Ma`bad menjelaskan bahwa Bughyat al-Thalab termasuk dalam rujukan utama (al-Mashdar al-Ashli) dalam hadis karena kitab tersebut mencantumkan sanad penulis yang tersambung kepada si penutur awal yang dia nukil.

Dalam daurah takhrij yang diselenggarakan di asrama mahasiswa asing al-Azhar (Madînat al-Bu`ûts al-Islâmiyyah) tersebut, Syekh Ahmad Ma`bad juga berpesan kepada para peserta untuk merujuk ke kitab-kitab yang beliau sebut selama daurah demi menumbuhkan keahlian dan kepakaran serta memberantas pragmatisme alias belajar hanya dari diktat saja untuk cari ijazah.

Beliau termasuk orang yang secara tegas mengatakan bahwa seorang pelajar dapat dikatakan berdosa ketika ia tidak all-out menjalankan proses belajar, terutama dalam masalah membaca kitab turatskarya para ulama dulu. Kata beliau, “Setan itu punya ratusan alasan syar`i untuk membuat anda tidak baca buku!”

Saya cukup terkejut, ternyata Bughyat al-Thalab sangat berkelas sebagai sebuah buku geografi sekaligus biografi. Dalam Bughyat al-Thalab, Ibnu al-`Adim mendatangkan data-data seputar Aleppo yang beliau olah menjadi sebuah karya agung lengkap dengan sanad kepada sumber datanya! Data yang beliau dapat dalam bentuk buku pun beliau sajikan lengkap dengan amanah penuturan, “Saya membaca dalam buku si fulan”.

Melalui Bughyat al-Thalab, kita diajak menjelajah Aleppo menembus lorong waktu. Menurut beliau, Seleucus I Nicator (salah seorang jenderal infanteri-nya Alexander the Great)- lah yang pertama kali membangun Aleppo 12 tahun setelah Alexander mangkat.

Hal ini berdasarkan pembacaan beliau terhadap beberapa literatur sejarah seperti karya Yahya bin Jarir al-Tikriti, Ahmad bin Muhammad bin Ishaq al-Hamadani (Ibnul Faqih) sampai karya Said bin Patrick yang beragama Nasrani. Bahkan beliau juga mengakses karya sejarawan Yunani abad ke-6, Ioannes Malalas. (Lihat: Bughyat al-Thalab 1/83)

Ibnu al-`Adim memperkenalkan Aleppo di mata dunia dengan menceritakan setiap sudut kotanya, benteng-bentengnya, masjidnya, tembok yang mengitarinya, kejadian yang pernah terjadi di dalamnya, sekolahannya, rumah sakitnya, perdagangannya, raja-rajanya, peninggalannya, sampai kepada jejak rasul yang tertinggal di Aleppo. Ialah Nabi Ibrahim, Sang Kekasih Allah yang pernah singgah di sana. (Lihat: Bughyat al-Thalab 1/43).

Ibnu al-`Adim juga mendata para ulama dan manusia-manusia hebat Aleppo maupun yang hanya singgah di Aleppo dalam Bughyat al-Thalab. Tidak ketinggalan sang filosof Aristoteles dan Alexander the Great, yang cerita tentang keduanya beliau cantumkan bersanad setidaknya sampai kepada si empunya cerita, meskipun tidak sampai kepada Aristoteles atau Alexander!

Aleppo juga merupakan kota suci sebagaimana kata sahabat Ma`dan bin Mu`adz RadhiyalLâhu `anhu (Lihat: Bughyat al-Thalab 1/41). Penduduknya termasuk yang berada dalam maksud hadis Nabi sebagai orang-orang yang berada dalam siaga jihad alias al-Ribâth (Lihat: Bughyat al-Thalab 1/45).

Menurut Dr. Suhail Zaki selaku penahkik Bughyat al-Thalab, kitab ini aslinya berjumlah 40 jilid! Hanya yang sampai kepada kita hanya 11 jilid. Itupun manuskripnya tersebar di berbagai perpustakaan dunia; 3 perpustakaan di Istanbul, perpustakaan nasional Paris (Perancis), Mosul (Irak) dan London (Inggris). Dr. Suhail Zaki tidak tahu pasti apakah 29 jilid sisanya memang belum diselesaikan oleh Ibnu al-`Adim atau hilang ditelan zaman.

Menjelajah Bughyat al-Thalab fî Târîkhi Halab kita di-guide oleh manusia Hebat dari Aleppo, Ibnu al-`Adim. Saya pun lebih terkejut lagi ketika teringat bahwa masa beliau hidup adalah masa penjajahan Hulagu Khan. Aleppo pun tidak luput dari cengkraman Hulagu Khan.

Inilah yang akhirnya membuat Ibnu al-`Adim pindah ke Mesir, tempat menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dalam keadaan yang seperti itu, ternyata beliau masih bisa melahirkan karya hebat dalam ilmu geografi sekaligus biografi, bersanad pula!

Membaca karya para ulama kita diajak untuk berpikir jernih dan selalu menata ulang visi dan misi peradaban kita.

Gagah berani para ulama mengerahkan waktu, tenaga, pikiran bahkan jiwa mereka untuk melakukan kerja-kerja intelektual yang hasilnya mampu menyumbangkan gagasan-gagasan berpengaruh terhadap cara pikir umat manusia.

Semoga Allah mengembalikan kedamaian di bumi Aleppo, sebagaimana dulu Allah melakukannya setelah digeruduk Hulagu Khan. Bumi Aleppo tidak akan berhenti menumbuhkan orang-orang hebat dengan gagasan-gagasan hebat, seperti Ibnu al-`Adim yang menghayati ‘The Spirit of Aleppo’.

BAGIKAN
Berita sebelumyaBagi Para Filsuf, Tuhan Tidak Berkehendak
Berita berikutnyaSteven Hina ” Tikus Kotor ” Gubernur NTB Hafidz Quran