Analisis Ramadhan-Syawal-Dzulhijjah 1438H Menurut 4 Kriteria

Dari sekian banyak kriteria kalender Hijriah yang berkembang di Indonesia, belakangan penulis lebih sering memfokuskan pada tiga kriteria, yaitu Pertama, kriteria Imkanur Rukyat (IR) MABIMS yang dipedomani oleh negara-negara Malaysia, Brunei Darussalam, Indonesia dan Singapura. Jadi, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama menggunakan Kriteria IR MABIMS dalam pembuatan kalender (takwim) standar nasional, termasuk ormas Nahdlatul ‘Ulama (NU) walau teman-teman NU sendiri menggunakan Rukyatul Hilal (RH) dalam penentuan awal bulan hijriah khususnya Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. Kabar terbarunya melalui kegiatan mudakarah MABIMS yang diselenggarakan pada Agustus 2016 sudah mulai membicarakan akan beralihnya kriteria yang digunakan oleh negara-negara MABIMS.

Kedua, kriteria Imkanur Rukyat (IR) LAPAN atau juga dikenal dengan Kriteria Visibilitas Hilal Indonesia. Kriteria IR LAPAN disusun oleh Prof. Thomas Djamaludin dari LAPAN, pada saat ini dipedomani oleh ormas Persatuan Islam (PERSIS) yang berpusat di Kota Bandung Jawa Barat. PERSIS berpedoman pada kriteria IR LAPAN dalam penyusunan kalender (takwim) hijriahnya. Terakhir, kriteria Wujudul Hilal (WH) yang dipedomani ormas Muhammadiyah sebagai basis penentuan kalender hijriah-nya.

Selepas perhelatan Kongres Penyatuan Kalender Hijriah yang terselenggara atas kerja sama antara Kementerian Agama Turki, Islamic Crescent Observation Project (ICOP), The European Council for Fatwa and Research, dan Kandilli Observatory pada 21-22 Sya’ban 1437 H atau 28-30 Mei 2016 di Turki, maka penulis menambahkan satu lagi kriteria yang patut dibahas jika ingin membicarakan penentuan awal bulan hijriah di Indonesia yaitu kriteria kalender Islam Unifikatif hasil kongres penyatuan kelender hijriah di Turki 2016s elain kriteria IR MABIMS, IR LAPAN, WH. Indonesia sendiri mengirim dua utusan resmi yaitu K.H. Muhyidin Junaidi dari MUI dan Hendro Setyanto, M.Si dari PBNU. Sedangkan satu lagi peserta kegiatan tersebut yang berasal dari Indonesia adalah Prof. Dr. Syamsul Anwar, MA yang juga ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, hadir sebagai undangan pihak penyelenggara mengingat Prof. Dr. Syamsul Anwar, MA. aktif mengusulkan makalan dan usulan sistem kalender hijriah yang akan dibahas. Pada perhelatan kongres penyatuan kelender hijriah tersebut, melalui the Science Commission (Komisi Ilmu Pengetahuan) mengadakan pembahasan dengan mengundang para ahli Islamic Study, astronom, ahli kalender hijriah dan berbagai organisasi yang memiliki konsentrasi terhadap penyatuan kalender hijriah. Pada sesi-sesi diskusi yang intensif, komisi tersebut mengkaji lebih dari 10 usulan sistem kalender hijriah dan menghasilkan 2 sistem kalender, yaitu kalender zonal dan kalender unifikatif.

Mengingat alotnya diskusi yang berjalan dalam pembahasan 2 usulan sistem kalender yang akan diputuskan, maka melalui voting yang diikuti dari 130 peserta, 80 peserta memilih kalender unifikatif dan 30 peserta memilih kalender zonal serta sisanya (20 peserta) memilih abstain. Akhirnya kalender unifikatif menjadi sistem kalender yang disepakati untuk digunakan umat Islam seluruh dunia. Kalender unifikatif hasil kongres Turki 2016 menjadikan seluruh wilayah di Bumi menjadi satu wilayah dan konsekwensinya mulainya satu tanggal hijriah pada satu hari yang sama untuk seluruh wilayah di muka Bumi, tentu sesuai dengan rotasi Bumi. Kelender unifikatif memiliki konsep dimana bulan baru dimulai ketika sebelum Pkl. 00:00 AM GMT di manapun di muka Bumi telah memenuhi syarat Imkanur Rukyat (IR) dengan elongasi minimal 8 derajat dan ketinggiaan Bulan (moon altitude) minimal 5 derajat. Selanjutnya kalender Islam Unifikatif penulis sebut dengan Kalender Islam Global Terpadu (KIGT).

Agar mudah difahami, penulis akan merangkum penentuan awal bulan hijriah untuk Ramadhan, Syawal dan Dzullhijjah 1438H menurut 4 kriteria tersebut, yaitu kriteria IR MABIMS, IR LAPAN, WH dan KIGT.

    Lihat gambar 1 Awal Bulan Syakban - Dzulhijjah 1438 H Menurut 4 Kriteria

Untuk awal Syakban 1438H memang antara IR MABIMS, IR LAPAN dan Wujudul Hilal jatuh pada hari yang sama yaitu pada Jumat, 28 April 2017M, sedangkan KIGT jatuh pada hari Sabtu, 27 April 2017M. Dimana konjungsi akhir Syakban 1438H pada 26 April 2017M Pkl. 12.16 UT, dan memenuhi syarat KIGT pada 26 April 2017M Pkl 23.10 UT.

Selanjutnya untuk Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah 1438H menurut 4 kriteria yang ada tidak ada perbedaan kecuali awal Syawal 1438H menurut IR LAPAN yang dipedomani oleh Persatuan Islam (PERSIS). PERSIS sendiri menerapkan kriteria IR LAPAN tidak menentukan berdasarkan suatu lokasi saja di wilayah Indonesia melainkan harus melihat kembali data keseluruhan wilayah Indonesia. Untuk awal Syawal 1438H, data menunjukkan ijtimak akhir Ramadhan 1438 H pada hari Sabtu 24 Juni 2017M Pkl. 9:30:42 WIB, dimana untuk wilayah Indoesia pada saat  maghrib beda tinggi Bulan-Matahari antara 2°09’24,66” sampai dengan 4°50’55,56”, dan jarak elongasi Bulan-Matahari antara 4°25’39,42” sampai dengan 5°59’22,56”. Maka menurut kriteria IR LAPAN untuk akhir Ramadhan 1438H pada saat maghrib di hari Sabtu, 24 Juni 2017M belum terpenuhi, dan PERSIS menetapkan 1 Syawal 1438H pada 26 Juni 2017M dengan catatan apabila pada saat maghrib di hari Satu 24 Juni 2017M ada laporan rukyat yang valid dengan disertakan citra hilal maka PERSIS 1 Syawal 1438H akan ditetapkan pada 25 Juni 2017M.

               Gambar 2 Kalender Annur PERSIS untuk Syawal 1438H

Juga untuk awal bulan Dzulqo’dah 1438H, hanya KIGT yang berbeda diantara kriteria lainnya. Dimana IR MABIMS, IR LAPAN dan WH awal Dzulqo’dah 1438H jatu pada Selasa, 25 Juli 2017M sedangkan KIGT awal Dzulqo’dah 1438H jatuh pada Senin, 24 Juli 2017M. Untuk konjungsi akhir Syawal 1438H pada Ahad, 23 Juli 2017M Pkl. 02.29 UT, dan memenuhi syarat KIGT pada hari yang sama Pkl. 23.35 UT. Namun, mengingat KIGT sendiri masih belum populer di Indonesia, maka perbedaan ini tidak terlalu signifikan terlebih ketiga kriteria “lokal” yaitu IR MABIMS, IR LAPAN dan WH awal bulan Syakban dan Dzulqo’dah 1438H jatuh pada hari yang sama.

Dari data awal bulan diatas, memperlihatkan untuk tahun 1438H relatif tidak ada perbedaan yang signifikan untuk awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. Karena pada bulan-bulan tersebut terdapat kegiatan ibadah yang melibatkan masyarakat banyak dan bersifat massal seperti ibadah puasa Ramadhan, hari raya Idul Fitri pada awal Syawal dan ibadah haji beserta Idul Adha di bulan Dzulhijjah.

Mengingat awal Ramadhan 1438H sudah mulai dekat, maka mari kita siapkan diri untuk menyambut bulan mulia yang dinanti-nanti, tentu dengan harapan kita semua di takdirkan oleh Allah SWT bertemu bulan mulia tersebut bahkan hingga melewatinya dengan baik dan sempurna dengan diisi ibadah yang optimal. Demikian dan mari kita siapkan diri.

Oleh : Adi Damanhuri

*) – the Islamic Science Research Network (ISRN) UHAMKA
– Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA)
– Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Depok periode 2015-2020

BAGIKAN
Berita sebelumyaMuhammadiyah Laporkan Menteri Susi Pudjiastuti Ke Komnas HAM RI
Berita berikutnyaAmien Rais : Jika Ahok Bebas, Jokowi Finish !