Ini Alasannya Mengapa Ulama Kalam Tidak Menggunakan Istilah Sebab Akibat

Ust. Wahyudi Abdurrahim, Lc. M.M:

 

Sebelumnya telah kami sampaikan bahwa para ulama kalam enggan menggunakan istilah sebab akibat dalam melihat berbagai fenomena alam. Meski mereka tidak menafikan tentang “hukum alam”, namun mereka lebih memilih istilah al adah al muthradah, yaitu kebiasaan yang berulang dan bersifat tetap.

 

Mengapa mereka tidak menggunakan istilah sebab akibat? Setidaknya ada dua alasan:

Pertama, sebab akibat merupakan jebakan yang mengkhawatirkan. Dengan menggunakan istilah sebab akibat, seakan kita percaya bahwa alam fisik mempunyai pengaruh secara independen terhadap sesuatu yang lain. Padahal alam fisik adalah benda mati yang tidak mempunyai kekuatan apapun.

 

Para ulama kalam sesungguhnya ingin mengatakan secara sharih bahwa yang mempunyai kekuatan mutlak dan independen di dunia ini hanya Allah semata. Alam raya, termasuk juga manusia sekdar makhluknya yang dapat bergerak dan beraktivitas sesuai dengan kehendaknya.

 

Al adah al-muthradah ini juga menjadi pegangan para mutakallimun dalam pengembangan sains dan tegnologi. Keberadaan pergerakan di alam fisik yang stabil, tetap dan penuh keteraturan, menjadi pegangan utama ulama kalam dalam memajukan ilmu pengetahuan.

 

Kedua: membuktikan adanya mukjizat. Bagi mutakallimun, di dunia ini ada hal yang sifatnya luar biasa dan tidak sesuai dengan al adah al muthradah atau kebiasaan yang sudah menjadi sifat kontinuitas. Hal-hal yang keluar dari kebiasaan ini sangat mungkin terjadi. Para nabi diberi anugerah Allah dengan mukjizat, yaitu perkara yang berada di lura kebiasaan. Ia adalah perkara luar biasa yang muncul pada hamba Allah yang Ia kehendaki.

 

Jika kita hanya percaya dengan sebab akibat,  implikasinya kita akan menafikan keberadaan mukjizat. Hal ini karena mukjizat muncul tidak sesuai dengan teori sebab akibat. Contohnya api sifatnya membakar. Kenyataannya, tatkala nabi Ibrahim masuk ke dalam api, ia tidak terbakar. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana teori sebab akibat memcahkan persoalan seperti ini?

 

Jika kita tidak percaya dengan mukjizat, bearti tidak percaya dengan banyak hal yang diturunkan Allah kepada para nabi-Nya. Al-Quran ini adalah bagian dari mukjizat itu. Dan al-Quran merupakan kitab suci yang luar biasa. Percaya kepada al-Quran menjadi syarat mutlak keberislaman kita.

Jadi, karena dua alasan di atas, para ulama kalam tidak mau menggunakan istilah sebab akibat dan lebih memilih menggunakan istilah al adah al muthradah dan al kkhriq lil adah. Wallahu a’lam (www.almuflihun.com)